Jelang Pemilu, Konstelasi Politik di Aceh Panas Membara
Penulis :
2098    0

RIMANEWS - Jelang pemilu 2014, kondisi politik di Provinsi Aceh sedikit terganggu setelah satu calon anggota legislatif tewas dibedil di Aceh Selatan, pada Minggu malam, 2 Maret 2014. Caleg Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Selatan dari Partai Nasional Aceh bernama Faisal ini diberondong 46 tembakan saat melintasi sebuah kawasan sepi di pegunungan.

Menurut keluarga korban, hari Minggu itu, korban kedatangan tamu yang tak dikenal keluarga. Dan, sesaat sebelum kejadian, ada telepon gelap yang meminta almarhum untuk segera kembali ke Sawang, basis Faisal.

Faisal yang mengendarai Honda Freed pun kembali ke Sawang, melintasi pegunungan yang sepi. Dan di suatu lokasi, mobil yang dikendarainya diberondong dengan senjata yang menurut Ketua Umum PNA, Tengku Muksalmina, M16 kaliber 5,56 milimeter.

Kepala Kepolisian Resor Aceh Selatan Ajun Komisaris Besar Sigit Jatmiko, Senin 3 Maret 2014, menyatakan Faisal terkena tembakan di perut, punggung, dan dada. Ia meninggal dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Yulidin Away, Aceh Selatan.

PNA menyatakan, pembunuhan Faisal dilakukan dengan sangat terencana dan sistematis. PNA sendiri menyatakan, Faisal merupakan pemuda berusia 35 tahun yang pendiam dan sangat sopan. Dia juga bukan bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka sehingga dipastikan tidak memiliki musuh.

"Almarhum dikenal sangat dekat dengan masyarakat dan mempunyai basis dan dukungan yang kuat di Kecamatan Sawang," kata Tengku Muksalmina.

"Tindakan pembunuhan almarhum merupakan bukti kepanikan yang melanda kelompok yang memusuhi PNA. Penghilangan nyawa almarhum tentu dimaksudkan untuk meneror caleg dan kader PNA, karena kelompok yang memusuhi PNA merasa tidak nyaman serta terancam dengan dukungan masyarakat kepada PNA yang semakin kuat dan masif di Kawasan Pantai Barat Selatan," katanya.

Serentetan kekerasan

Laporan terakhir Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, menyebutkan, terdapat 31 kasus kekerasan sejak Juni 2013 hingga Februari 2014. Pada 2013, terdapat 19 kasus, di antaranya satu kasus teror, 12 kasus perusakan atribut, tiga pembakaran mobil, dua penembakan, dan satu penggranatan.

Sementara itu, ada 12 kasus pada 2014, di antaranya enam kasus penganiayaan, empat kasus pembakaran mobil, dan dua kasus penembakan.  Sudah tiga nyawa melayang jelang pemilu di Aceh.

“Fungsi intelijen kepolisian tidak bekerja secara optimal dalam mencegah kekerasan menjelang pemilu,” kata Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan Aceh, Destika Gilang Lestari, Senin 3 Maret 2014.

Peristiwa lainnya, pada 26 April 2013, mobil Harlina (38), kader Partai Nasional Aceh (PNA), dibakar saat parkir di halaman rumahnya di Aceh Utara. Sehari sebelumnya, Zuhra (31) kader dari Kabupaten Aceh Besar, juga dari partai yang sama, mendapat ancaman akan dibunuh jika mencalonkan diri pada pemilu 2014.

Pelaku adalah orang yang dikenal baik dan Zuhra langsung melaporkannya kepada polisi. Belakangan, seorang kader perempuan partai itu, juga mengaku pernah menerima intimidasi, bahwa rumahnya dilempari batu oleh orang tidak dikenal.

Kemudian, pada 14 Juli 2013, seorang kader Partai Aceh (PA) Fadil Muhammad (33) yang juga wakil ketua Komisi A DPRK Aceh Timur dari Fraksi Partai Aceh, mengaku mobilnya ditembak orang tak dikenal. Saat kejadian, mobil korban diparkir di depan Kantor PA di Desa Peulalu, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, pada Minggu 14 Juli 2013, pukul 03.00 dini hari.

Tidak hanya itu, kader partai PA lain mendapat teror di Desa Biara Timu, Kecamatan Tanoh Jabo, Kecamatan Aceh Utara. Rumah Akmal Daud (31) dilempari bom molotov pada 13 September 2014. Akibatnya, meteran listrik dan pintu rumah Akmal ikut terbakar.

Kemudian, awal Januari, M.Yuaini (48), ketua Partai Nasional Aceh (PNA) Kuta Makmur, dipukul hingga tewas oleh dua pelaku di Aceh Utara.

Selanjutnya, sebelum penembakan Faisal, pada 16 Februari 2014, terjadi penembakan posko Partai Nasdem di Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara. Dua orang pria bersenjata menyerang posko tersebut pada pukul 04.00 WIB menggunakan senjata M16.

Tiga hari lalu, 1 Maret 2014, Taufik alias Banggala (32 tahun), seorang personel Satuan Tugas Partai Aceh di Bireuen, dikeroyok sejumlah orang menggunakan senjata tajam di Desa Geundot, Jangka, Bireuen. Akibatnya, korban mengalami luka dan memar di badan.

Serentetan kekerasan itu memunculkan keprihatinan banyak pihak. Deklarasi Pemilu Damai yang digelar Polda Aceh dan dihadiri sejumlah ketua partai politik di Aceh pada 11 Februari 2014 dipandang tak efektif mencegah darah tumpah di Aceh.

PNA minta Presiden turun tangan

Atas serangkaian peristiwa kekerasan ini, PNA meminta pemerintah segera mengusut. "Ini adalah teror yang merongrong negara dan kenyamanan masyarakat. Kami meminta agar Presiden Republik Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) dan Kapolri untuk turun-tangan menangani kekerasan demi kekerasan yang terjadi kalau ingin perdamaian di Aceh tetap terjaga," kata Ketua Umum PNA, Tengku Muksalmina.

Sementara itu, kepada seluruh pengurus dan kader, PNA mengingatkan untuk tetap mengedepankan hukum dalam segala tindakan. Namun, jangan lengah dalam membela diri dan masyarakat. Kader dan pengurus PNA harus membantu tugas-tugas polisi dalam menangkap pelaku kekerasan di Aceh.

Kepala Kepolisian Daerah Aceh, Brigadir Jenderal Polisi Husein Hamidi, menyatakan, Polda Aceh telah mengirimkan tim khusus ke Aceh Selatan untuk mengusut kematian Faisal. Sejak semalam, tim telah bekerja untuk memburu para pelaku.

“Semalam, seluruh polres menggelar razia untuk memburu pelaku,” katanya di sela menghadiri rapat koordinasi pimpinan daerah menjelang pemilu di gedung serbaguna kantor gubernur Aceh, Senin siang.

Husein mengaku Polda Aceh telah jauh-jauh hari memperkirakan bahwa jelang pelaksanaan pemilu di Aceh akan terjadi aksi kekerasan dan pembunuhan semacam ini. “Kami sudah mempersiapkan dan sudah memperkirakan kerawanan-kerawanan yang terjadi dari setiap tahapan pemilu, tapi ini tetap saja terjadi,” ujarnya.

Kapolda membantah ada tebang pilih dalam penanganan kasus di Aceh. Menurut dia, semua kasus kekerasan dan pembunuhan akan diusut tuntas. 

“Kemarin kami sudah menangani salah satu kasus yang terjadi di Bireuen. Semua tindak pidana, siapa pun pelakunya, kami akan tindak tegas semuanya,” katanya.

Tim dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia juga turun untuk menangani kasus tersebut. "Polisi masih melakukan pengembangan. Mabes Polri telah mengirim tim untuk membantu penyelidikan," kata Kapolri Jenderal Sutarman di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin.

Menurut Sutarman, polisi akan lebih disiagakan mengantisipasi situasi lebih buruk. Sebab, saat ini penembakan mulai marak lagi di wilayah Provinsi Aceh. "Ada lima kejadian, terakhir pada Minggu kemarin. Yang meninggal ditembak satu orang, yang lain tidak," ujarnya.

Mantan ajudan Presiden Abdurrahman Wahid ini mengatakan, untuk sementara polisi melihat motif politik di balik semua aksi kekerasan di Aceh beberapa pekan terakhir ini. Kondisi ini membuatnya menyiapkan pasukan tambahan untuk mengamankan pemilu di Provinsi Serambi Makkah ini.

"Kami tambah pasukan sebanyak 10 Satuan Setingkat Kompi (SSK) ke Aceh. Kekuatan ini langsung kami kirim dari Mabes untuk membantu Polda Aceh," ungkapnya.

Sutarman berharap dengan penambahan jumlah pasukan di Aceh, potensi teror semakin mengecil. Menurunnya potensi teror sebagai indikasi pemilu akan berjalan baik di Aceh tahun ini.[ian/viva]