Rizal Ramli: Kasus Century Mirip Skandal BLBI, Duitnya Dirampok Untuk Kepentingan Parpol
Penulis :
940    0

RIMANEWS - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rizal Ramli menilai pengucuran dana talangan (bailout) terhadap Bank ‘abal-abal’ Century digunakan untuk kepentingan politik dengan modus perampokan terhadap bank tersebut.

“Memang dalam sejarah Indonesia dana politik itu dikumpulkan satu dari impor pangan, apakah gula atau beras. Kedua dari sektor minyak bumi dan gas, ketiga dari merampok bank. Seperti halnya kasus Bank Bali dan kasus Bank Century,” tandas Rizal Ramli ketika menjawab pertanyaan dalam wawancara di sebuah stasiun TV swasta, minggu lalu.

Menurut Rizal Ramli, skandal Bank Century ini mirip kasus BLBI yang lalu. “Saya sendiri pernah menyelamatkan bank tanpa perlu suntikan (bailout) pada tahun 2000-an pasca BLBI. Bank BII yang pada waktu itu milik BPPN mengalami rush besar ratusan milyar. Saya mendapat memo dari IMF dan Bank Dunia. Pilihannya dua, disuntik lagi atau bailout BLBI jilid 2 sebesar 4,5 trilyun atau ditutup sama sekali dengan biaya sekitar 5 trilyun,” kisah Mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur ini.

“Saya biasa menolak BLBI, sekarang kok malah mau tandatangan BLBI. Saya tidak mau, saya mencari jalan lain yaitu memanggil ECW Nello direktur bank Mandiri dan Anwar Nasution deputi senior Bank Indonesia. Saya minta besok bank Mandiri ambil over BII,  supaya ada payung kepercayaan karena bank itu bisnis trust,” tambahnya.

Kemudian, Rizal mengganti direksinya dan mengatakan punya waktu tiga bulan direksi yang baru untuk membereskan. “Kalau tidak beres, maka harus mencari pekerjaan lain karena Rizal Ramli pun harus mencari pekerjaan lain. Dan luar biasa, dalam waktu enam minggu uang kembali serta take over ecek-ecek itu dibatalkan,” tandasnya.

Jadi, tegas Rizal, belum pernah terjadi di Indonesia menyelamatkan bank tanpa bailout. “Itu tidak terulang di Century meski Century hanya seperenam BII, karena memang motifnya dari awal mau merampok bank. Sebelumnya pak Boediono datang ke DPR minta izin untuk membailout bank Indover, bank milik pemerintah Indonesia di Belanda sebesar Rp5 trilyun. Pada waktu itu pak Boediono menakut-nakuti DPR bahwa kalau tidak dibailout maka ekonomi Indonesia akan terpengaruh, kepercayaan investor anjlok, ada pengaruh terhadap pasar financial, dan lain-lain,” bebernya.

“Dan semua argument itu bohong semua. Beliau lalu meminta izin pada pak Antasari supaya dikasih ijin bailout 5 trilyun. Antasari bilang, ‘Nggak. Kalau Indover tetap di baill out 5 trilliun, saya akan tangkap Pak Boediono’. Saya tahu persis karena waktu itu dia asisten pak Marzuki Darusman, Jaksa Agung zaman Gus Dur, kami perintahkan ke Belanda untuk mempelajari kasus bank Indover ini. Ternyata jika ditutup tidak akan ada masalah bagi pemerintah Indonesia karena akan diambil over oleh pemerintah Belanda,” ungkap Rizal pula.

Begitu mencari “ember bocor” Bank Indover gagal, lanjut Rizal, maka dicari ember bocor baru yaitu Bank Century, yang sebetulnya hanya perlu uang untuk menyelamatkannya kurang dari Rp1 trilyun, hanya 635 milyar, tapi malah dikasih uang 6,7 trilyun. “Itu keanehan luar biasa,” tegasnya.

Menurut Rizal, sebetulnya sangat sederhana kalau menyelamatkan bank, tinggal dilihat dana pihak ketiga. Dana pihak ketiga di Bank Century, diluar dananya Sampoerna itu, kurang dari Rp1 trilyun. “Jadi, sebetulnya diselamatkan  1 trilyun sudah cukup karena dana pihak ketiga diluar dana Sampoerna hanya 1 trilyun. Jadi aneh luar biasa, bank yang ecek-ecek ini disuntik uang enam kali dari kebutuhannya.  Dan kebanyakan bocor, itu jadi dana politik,” tandas pakar ekonomi kerakyatan yang anti kapitalis neolib ini.[ian/psn]