Gara-gara Dolar Naik, Harga Kedelai di Jatim Juga Ikutan Naik
Penulis :
1034    0

RIMANEWS - Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.(yus/seru)

Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.

- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/08/28/180726/dolar-naik-kedelai-di-jatim-tembus-rp9000kg#sthash.jqwFJ3KZ.dpuf

Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.

- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/08/28/180726/dolar-naik-kedelai-di-jatim-tembus-rp9000kg#sthash.jqwFJ3KZ.dpuf

Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.

- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/08/28/180726/dolar-naik-kedelai-di-jatim-tembus-rp9000kg#sthash.jqwFJ3KZ.dpuf

Naiknya harga dolar membuat harga kedelai di Jawa Timur (Jatim) juga merangkak naik yaitu mencapai harga Rp9.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustriaan dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setawan, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8/2013) mengatakan  Jatim sendiri sampai saat ini masih belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai sebagai bahan baku industri makanan minuman (Mamin) tahu-tempe, susu kedelai, tawa  sebagai sumber makanan pokok masyarakat.

"Kekurangan kebutuhan kedelai Jatim sebagian masih ketergantungan pada impor dari negara produsen kedelai dunia. Dengan melemahnya tukar rupiah terhadap dollar mau tidak mau para importir kedelai akan terkena dampaknya,"ujar mantan Kabiro Perekonomian Pemprov Jatim ini.

Budi Setiawan mengungkapkan bahwa Produksi kedelai Jatim masih di bawah dari kebutuhan masyarakat.

Sementara itu,menurut data produksi kedelai Indonesia setiap tahunnya hanya 885 ribu ton sedangkan kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton itu berarti baru 34,6 persen produksi kedelai lokal sisanya harus impor.

Sementara produksi kedelai Jatim sendiri setiap tahunnya mencapai 465 ribu ton sedangkan kebutuhan konsumsi setiaptahunnya 565 ribu ton. Jati Jatim hanya membutuhkan 85 ribu ton kedelai impor.

- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/08/28/180726/dolar-naik-kedelai-di-jatim-tembus-rp9000kg#sthash.jqwFJ3KZ.dpuf