Apa Itu Islam Liberal ?
Penulis :
1287    0

Oleh: Irfan Sona*

Islam liberal merupakan salah satu aliran pemikiran dalam agama Islam. Kelompok Islam inilah yang selalu menjadi pembahasan utama umat Islam selain membahas tentang FPI, NU, dan Muhammadiyah. Banyak masyarakat yang tidak mau menerima kehadiran kelompok Islam liberal ini di tengah-tengah kehidupan mereka. Mereka beranggapan kalau Islam liberal adalah sebuah paham yang keliru, sesat, dan cenderung pada kekerasan. Selain itu, mereka juga menilai kalau Islam liberal adalah satu kelompok garis keras yang harus di hindari dan di hancurkan dari dunia Islam. Sungguh sebuah pemahaman dan penilaian yang keliru. Sebuah penafsiran yang tidak memiliki dalil yang valid.

Selain itu masyarakat juga menilai bahwa Islam liberal adalah kelompok yang sesat, berkata dengan firman Allah dan Rasul padahal mereka telah keluar dari Islam.  Kata-kata itulah yang dijadikan moto dalam sebuah buku mungil yang judulnya menyiratkan peringatan keras: “Bahaya Islam Liberal.” Buku saku setebal 100 halaman itu ditulis Hartono Ahmad Jaiz, 50 tahun, seorang mantan wartawan. Meski kecil, buku tersebut bisa berdampak besar karena mengandung pesan “penghilangan nyawa”.

Moto itu bukan sembarang untaian kata. Melainkan terjemahan hadits Nabi Muhammad SAW, yang tersimpan dalam kitab Al-Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari. Mayoritas kaum muslim menilai hadits hasil seleksi Bukhari memiliki kadar kesahihan amat tinggi. Jadi, perintah membunuh dalam hadis itu bisa dipahami sebagai kewajiban syar’i (bemuatan agama) yang bernilai ibadah.

Sungguh pemahaman yang keliru tentang Islam liberal yang selama ini beredar di masyarakat. Padahal, Islam liberal tidaklah seektrem dan segila yang dipahami oleh masyarakat sekarang. Jika saja masyarakat tidak terlalu fanatik dengan ajaran yang dipegangnya selama ini, maka kemungkinan dia akan bisa menerima dan memahami apa itu Islam leberal yang sesungguhnya. Apakah benar Islam liberal itu seperti yang masyarakat pahami selama ini ataukah justru lebih baik dari ajaran ulama yang mereka dapatkan selama ini.

Islam liberal sebenarnya hanyalah sebuah konsep penafsiran Islam dengan menggunakan landasan yang khusus, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Jaringan Islam liberal juga bisa diartikan sebagai forum intelektual terbuka yang mendiskusikan dan menyebarkan liberalisme di Indonesia. Jika dilihat dari kata-katanya memang Islam liberal memiliki nama dan rupa yang ektrem. Apalagi masyarakat selalu mengartikan kata-kata liberalisme sebagai sesuatu yang menyesatkan. Padahal, yang dimaksud liberal disini hanyalah dari segi pemikirannya saja. pemikiran yang hanya mengharapkan sebuah kebebasan tanpa adanya pengekangan dari pihak lain. Hal inilah yang menjadi prinsip dalam Islam liberal. Sebuah prinsip dimana mereka menginginkan adanya kebebasan dan pembebasan dalam diri manusia. Jaringan Islam Liberal percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Hal inilah yang ingin dikembangkan oleh kelompok Islam liberal. Mereka tidak ingin melihat manusia hanya monoton dan fanantik pada satu pemahaman saja. mereka ingin umat Islam benar-benar memiliki kebebasan dalam berpendapat tentang ajaran yang selama ini dianutnya.

Selain itu, ada beberapa hal yang mendasari mereka mendirikan kelompok Islam liberal ini, yaitu: pertama, membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Islam liberal percaya bahwa umat Islam akan mampu bertahan dalam kondisi apapun jika mereka bisa berijtihad dari semua lini dalam Islam. Baik itu dari segi sosial, budaya, politik, hukum, dan agama itu sendiri. Mereka khawatir kalau pintu ijtihad itu ditutup akan memberikan kesulitan dan menyusahkan umat Islam itu sendiri. Apalagi melihat kondisi umat Islam sekarang yang berada dalam dunia modernisasi dan globalisasi. Umat Islam pasti akan tertinggal jauh jika mereka tidak bisa berijtihad untuk menentukan hukum yang sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian. Kedua, mengutamankan semangat religio etik, bukan makna literal teks. Kelompok Islam liberal selalu melakukan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadits berasarkan akal pikiran mereka. Mereka tidak ingin sebuah dalil hanya dipahami tekstual belaka. Sebab, pemahaman yang bersifat tekstual akan jauh berbeda jika dibandingkan dengan pemahaman kontektual dan rasional. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

Ketiga, mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka, dan plural. Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, karena sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, karena setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah. Keempat, memihak pada minoritas beragama. Memang Islam adalah agama yang besar, agama yang memiliki umat terbanyak diIndonesia bahkan dunia. Akan tetapi, pada praktek keagamaan yang berlaku, masih banyak umat Islam yang tertindas dan menjadi kelompok minoritas. Apalagi dengan adanya sekte-sekte dalam umat Islam itu telah membuat umat Islam terpecah belah. Kelompok yang minoritas selalu menjadi bahan yang siap dihancurkan oleh kelompok mayoritas. Disinilah Islam liberal muncul, mereka tidak ingin ada sekte-sekte yang memperlakukan kelompok minoritas secara tidak adil. Mereka ingin kelompok minoritas juga diakui sebagai umat yang merdeka, yang bisa menjadi pengikut Muhammad dan hamba Allah yang baik dumuka bumi ini. Itulah kenapa mereka menyerukan adanya kebebasan dan pembebasan dalam diri manusia. Selain itu, minoritas disini juga ditinjau dari segi yang lain seperti ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Banyaknya kelompok yang terdzolimi dalam bidang-bidang tersebut membuat kelompok Islam liberal merasa perlu melakukan perubahan yang signifikan di dalamnya.

Dan hal terkahir yang menjadi prinsip Islam liberal adalah Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

Itulah beberapa gagasan tentang apa itu Islam liberal. sungguh pemahaman yang sangat jauh berbeda dari apa yang dipahami masyarakat selama ini. Jika masyarakat menilai Islam liberal adalah Islam garis keras yang memiliki pemikiran yang liberal, tapi Islam liberal sendiri menjelaskan kepada masyarakat bahwa apa yang menjadi pemahaman mereka itu adalah sesuatu yang keliru. Islam liberal tidaklah seperti itu. Justru Islam liberallah yang menawarkan segala bentuk kebebasan didalamnya, kebebasan yang hanya terikat oleh al-Qur’an dan Hadits. Kebebasan yang akan membawa mereka pada kehidupan yang merdeka secara individu.

*Pegiat Kajian Agama dan Perdamaian IAIN Walisongo & Aktivis HMI Cabang Semarang