Menanti Pemimpin Indonesia 2014
Penulis :
796    0

Oleh Bangkit Riyanto*

Pemilu 2014 sudah di depan mata. Perebutan singgasan presiden RI sudah mulai memanas. Partai yang sudah mendapat tiket untuk mengikuti perhelatan demokrasi tersebut sudah mulai mengatur strategi. Beberapa nama tokohpun sudah dimunculkan oleh partai-partai peserta pemilu. Golkar telah menahbiskan nama Aburizal Bakrie, Hatta Rajasa sudah diusung PAN, dan Wiranto sudah dideklarasikan Hanura. Di luar nama-nama tersebut, belakangan muncul nama-nama baru seperti Joko Widodo, Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan Sri Mulyani yang digadang-gadang bakal nyapres.

Siapa diantara mereka yang paling berpeluang menduduki singgasana presiden RI 2014? Bagaimana perilaku pemilih jelang pemilu 2014? Buku berjudul Perang Bintang 2014: Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres ini bisa dijadikan manual untuk memahami kompleksitas perilaku pemilih jelang pemilu 2014. Ditulis oleh Pengamat Politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) berkaliber, Burhanuddin Muhtadi, buku ini kaya data-data kualitatif dan kuantitatif.

Berbagai persoalan menjelang pemilu 2014 dibahas dalam buku ini: prospek elektoral partai-partai dalam pemilu 2014, gejala emohpartai atau deparpolisasi, merebaknya pemilih mengambang (swing voters), dan lainnya. Pengarang yang juga dosen di Prodi Ilmu Politik Fisip UIN Syarif Hidayatullah dan Pascasarjana Universitas Paramadina juga menyertakan harapannya di pemilu 2014 mendatang pada bagian akhir buku.

Di tahun politik ini, Partai Demokrat sebagai juara bertahan mulai ditinggalkan loyalisnya. Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), pasca dihantam badai akibat skandal Nazaruddin, Demokrat merangkak pada titik terendah dibandingkan perolehan pada pemilu 2009. Pada Desember 2011, elektabilitas Demokrat 14%, pada Februari 2012 13,7%, Maret 2012 13,4%, Mei 2012 10%, dan September 2012 11,4%. Sementara itu, pada survei terakhir (September 2012), empat partai mengalami kenaikan: Golkar 18%, PDI Perjuangan 15,8%, NasDem 6,3%, dan Gerundra 5,3%. (halaman 13-14).

Meskipun demikian, keempat partai tersebut tidak boleh lekas sesumbar. Pasalnya, politik elektoral di Indonesia sangat dinamis dan fluktuatif akibat besarnya proporsi pemilih mengambang (swing voters). Hubungan pemilih dengan partai setidaknya dapat dilihat dari dua dimensi, yakni identifikasi diri dengan partai (dimensi afeksi) dan evaluasi massa pemilih atas fungsi intermediasi partai atau dimensi rasional. Party ID adalah perasaan seseorang bahwa partai tertentu adalah identitas politiknya, atau bahwa dia merasa dekat dengan partai tertentu. Namun, temuan survei nasonal LSI pada 15-25 Mei 2011 menunjukkan hanya 20% pemilih yang memiliki party ID. Selebihnya bisa berubah setiap saat tergantung situasi. Pemilih loyal di masing-masing partai tak lebih dari 5%. Sedangkan responden yang menyatakan kurang atau sama sekali tidak siap memilih sekitar 54,9%.  (halaman 113)

Besarnya angka swing voters menunjukkan gejala emoh partai atau deparpolisasi. Hal ini disebabkan karena disilusi atau kehilangan kepercayaan publik terhadap parpol sebagai kendaraan politik. Apalagi, para elite di sejumlah partai juga terlibat dalam berbagai kasus korupsi.

Sementara itu, dalam perspektif individu capres, berdasarkan survei sepanjang 2012, jika memakai simulasi semi-terbuka dengan banyak nama, Megawati dan Prabowo menempati posisi teratas. Elektabilitas atau tingkat kedipilihan keduanya mencapai 17,6% dan 16,7%. Peringkat ketiga diduduki Jusuf Kalla (9,6%), lalu disusul Ical (7,9%). Elektabilitas nama-nama lain masih di bawah 5%.

Pemilih pada umumnya mengharap lahirnya figur-figur yang dapat dipercaya, bersih dari korupsi, dan punya integritas yang baik. Menurut survei SMRC, sejauh ini, nama-nama capres memiliki masalah berat karena tidak dapat dipercaya. Dibandingkan nama-nama lain, Megawati memang relatif paling bisa dipercaya dan memiliki empati, tetapi jauh dari dominan (25-26%). Namun, megawati dinilai lemah terutama dari sisi kompetensi dan ketegasan. Prabowo unggul dalam soal ketegasan, tetapi juga tidak dominan. Ia masih kalah integritas dan empati dengan Megawati.

Sementara itu, Ical, meskipun paling intensif bersosialiasasi dalam setahun terakhir, kualitas personalnya masih lemah di hampir semua kategori, terutama jika dibandingkan dengan Megawai dan Prabowo. Bahkan kualitas personal Ical kalah dengan Jusuf Kalla. Barangkali minimnya angka elektabilitas Ical dipengaruhi oleh isu negatif seperti Lapindo. Sebanyak 80% pemilih mengetahui isu Lapindo. Dari mereka yang tahu, sebagian besar manilai lumpur Lapindo karena kesalahan manusia atau pengeboran. Mayoritas responden juga menilai bahwa kelompok Bakrie belum bertanggungjawab dalam mengatasi Lapindo. (halaman 20-21).

Pada akhirnya, publik menilai dari capres-capres yang sudah muncul belum ada yang bisa diterima secara luas. Masyarakat menanti munculnya tokoh-tokoh yang memiliki kapabilitas, integritas, dan akseptabilitas yang baik. Jika tidak muncul tokoh yang didambakan publik, mereka akan memilih calon-calon yang buruk atau memilih golput. Lalu siapakah yang paling berpeluang? Tidak bisa ditebak. Biarkan ‘suara Tuhan’ yang menjawabnya. Vox populi vox dei.

Judul Buku      : Perang Bintang 2014: Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres

Penulis             : Burhanuddin Muhtadi

Penerbit           : Noura Books

Cetakan           : 1, Februari 2013

Tebal               : xvi + 342 halaman

ISBN               : 978-602-7816-30-5

*Penikmat Buku-buku Politik, Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang