Dari Duit, Kelamin sampai ''Pustun' dalam Obrolan Luthfi dan Fathanah
Penulis :
6575    0

RIMANEWS-Ada yang menarik dari persidangan kasus dugaan suap kuota impor daging sapi yang berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (17/5/2013). Tim jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi memutar sejumlah rekaman pembicaraan yang diduga sebagai obrolan antara mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq dan orang dekatnya, Ahmad Fathanah.

Selain mengungkapkan soal rencana pemberian fee Rp 40 miliar, sejumlah rekaman menunjukkan keakraban antara Luthfi dan Fathanah. Misalnya saja, salah satu rekaman yang dibuka dengan obrolan seputar istri.

"Istri-istri antum (Luthfi) sudah menunggu semua," ucap Fathanah kepada Luthfi sambil terkekeh.

Luthfi pun membalas ucapan Fathanah itu dengan tertawa, lalu berkata, "Yang mana saja?"

"Ada semuanya," ucap Fathanah.

Setelah itu, Luthfi bertanya lagi, "Yang pustun, pustun apa jawa sarkia?"

"Pustun," jawab Fathanah kemudian terdengar tawa dari kedua suara ini.

Belum diketahui apa maksud kata "pustun" dan "jawa sarkia" dalam rekaman percakapan tersebut. Jika ditelusuri, kata pustun atau pasthun bisa berarti sebutan untuk orang-orang Pakistan, Afganistan, atau yang berasal dari etnis di Timur Tengah.

Sementara istilah "jawa sarkia" bisa dipandang sebagai dua kata yang disatukan. Jawa merujuk pada suku Jawa, sedangkan sarkia dalam bahasa Arab berarti Sarkiyah, yang artinya timur. Jika digabungkan, "jawa sarkiah" bisa berarti Jawa Timur.

Lantas, benarkah Luthfi memiliki istri dari ras Pakistan dan suku Jawa Timur? Hanya Luthfi dan Fathanah yang bisa menjawab.

Debat Daging

Pagi hari, tanggal 11 Januari 2013 sekitar pukul 06.00, mobil yang membawa Menteri Pertanian Suswono bergerak dari Hotel Santika Medan, Sumatera Utara, menuju Hotel Arya Duta di kota yang sama. Suswono diminta Luthfi Hasan Ishaaq, koleganya yang menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera, untuk bertemu.

Sementara itu, pagi-pagi sekali di Hotel Arya Duta Medan, Elda Devianne Adiningrat, orang yang membantu mengurus perizinan kuota impor daging PT Indoguna Utama, menelepon Maria Elisabeth Liman untuk memastikan agar siap-siap bertemu Menteri Pertanian Suswono. Elisabeth adalah Direktur Utama PT Indoguna Utama, yang saat ini sudah menjadi tersangka kasus dugaan suap kuota impor daging sapi.

Elisabeth memang berangkat ke Medan bersama Elda, Ahmad Fathanah, Soewarso (sahabat Suswono), dan para petinggi PKS lainnya. Misinya adalah menyampaikan data soal perkembangan krisis daging, termasuk fenomena bercampurnya daging sapi dengan daging celeng dan tikus.

”Siapa yang menyediakan akomodasi ke Medan?” tanya Ketua Majelis Hakim Purwono Edi Santosa.

”Saya, dong Pak. Kalau pebisnis itu, kalau di hotel, ya saya yang bayar,” jawab Elisabeth dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (15/5).

Kesaksian itu disampaikan dalam sidang perkara dugaan suap kuota impor daging dengan terdakwa Arya Abdi Effendi, Direktur Operasional PT Indoguna, dan Juard Effendi, Direktur Human Resources Development dan General Affair PT Indoguna

Elisabeth, Suswono, Soewarso, dan Fathanah kemudian menuju ke kamar Luthfi. ”Saya sampai di kamar ada Pak LHI (Luthfi). Kira-kira dua menit datang Suswono dan Soewarso. Jadi diperkenalkan, ini Ibu Elisabeth, saya dikatakan Ketua Aspidi (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia),” kata Elisabeth.

Mereka kemudian makan pagi di kamar Luthfi. Elisabeth mengeluarkan makalah satu eksemplar. ”Saya berikan kepada Pak Menteri agar dikaji,” kata Elisabeth.

Elisabeth adalah salah satu pendiri Aspidi, 26 tahun lalu. ”Sekitar 27 tahun lalu, asupan daging kita 50 gram per tahun. Waktu itu kami coba naikkan supaya keturunan kita lebih bagus otaknya. Setelah 26 tahun, asupan naik 2,2 kilogram, tapi setahun terakhir turun 1,9 kilogram, itu pun bercampur celeng dan tikus,” ujarnya.

”Hati saya miris, maka saya ketemu Pak Menteri,” lanjutnya.

Namun, pertemuan yang dinantikan itu justru membuat ia tak menentu. Menteri marah dengan data yang disajikannya. ”Katanya, data tidak absah,” kata Elisabeth.

Duit Fee Rp40 M

Tim jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar rekaman pembicaraan telepon antara mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq dan orang dekatnya, Ahmad Fathanah, dalam persidangan kasus kuota impor daging sapi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (17/5/2013).

Dari sadapan yang diputar pada persidangan perkara suap kuota impor daging sapi dengan terdakwa Juard Effendi dan Aria Abdi Effendi itu, terungkap bahwa Luthfi berjanji akan meminta tambahan kuota impor daging sapi kepada Menteri Pertanian Suswono sebanyak 10.000 ton. Fathanah mengatakan, ada fee sebesar Rp 40 miliar.

Tim jaksa penuntut umum KPK memutar sadapan itu karena Fathanah terlihat berbelit-belit dalam menyampaikan keterangannya. Tampak transkrip rekaman pembicaraan itu dipampang tim jaksa KPK pada layar di tengah persidangan.

Terlihat dari transkrip itu percakapan antara Fathanah dan Luthfi mulanya dibuka dengan obrolan seputar istri. "Istri-istri antum (Luthfi) sudah menunggu semua," ucap Fathanah sambil terkekeh. Luthfi pun membalas ucapan Fathanah dengan bertanya, "Yang mana saja?" kata Luthfi yang saat itu juga mengaku masih berada di Riau.

Selanjutnya, percakapan kedua orang ini lebih banyak menggunakan bahasa Arab. Menurut jaksa KPK, percakapan ini berkaitan dengan kepengurusan tambahan kuota impor daging sapi untuk PT Indoguna Utama. Terlihat dalam transkrip pembicaraan, Luthfi berencana mengajak Direktur PT Indoguna Utama Maria Elizabeth Liman bertemu dengan Menteri Pertanian Suswono.

Luthfi pun meminta Fathanah menyuruh Maria mempersiapkan data-data yang dapat meyakinkan Suswono kalau swasembada daging justru mengancam ketahanan pangan sehingga keran impor harus dibuka lebih lebar.

"Pertama, dia harus bisa yakinkan Menteri (Suswono) bahwa data BPS itu tidak benar. Bahwa swasembada itu mengancam ketahanan daging kita. Kalau bisa dia (Elizabeth) bawa data," ujar Luthfi kepada Fathanah seperti dalam transkrip rekaman.

Selain itu, Fathanah juga mengatakan kepada Luthfi bahwa Indoguna Utama hanya meminta tambahan kuota 8.000 ton. Dari 8.000 ton yang diminta itu, ada fee Rp 40 miliar yang dijanjikan. Fee ini dihitung dari 8.000 ton dikalikan dengan Rp 5.000 per kilogramnya.

"Annukhud arbain milyar cash (ada Rp 40 miliar tunai)," kata Fathanah kepada Luthfi seperti dalam transkrip pembicaraan itu.

Namun, Lutfi justru menjanjikan lebih. Dia berjanji mengupayakan 10.000 ton tambahan impor daging sapi. "Ana akan minta full-lah ya," ucap Luthfi.

Lalu, dijawab Fathanah dengan, "Sepuluh ribu ya, berarti Rp 50 miliar."

Menanggapi rekaman pembicaraan yang diputar tim jaksa KPK ini, Fathanah tetap berkelit. Dia mengaku masih menganggap isi perkataan Luthfi dalam rekaman itu hanyalah sekadar bercanda.

"Antara percaya dan tidak, tapi saya minta dengarkan," kata Fathanah kepada jaksa KPK dalam persidangan.

Ahmad Fathanah mengaku melaporkan komisi (fee) Rp 5.000 per kilogram dari kuota 8.000 ton atau total senilai Rp 40 miliar kepada Luthfi Hasan Ishaaq yang saat itu Presiden Partai Keadilan Sejahtera.

Hal itu disampaikan Fathanah, tersangka kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian, saat bersaksi dalam persidangan perkara tersebut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (17/5). Terdakwa dalam kasus itu adalah Arya Abdi Effendy (Direktur Operasional PT Indoguna Utama) dan Juard Effendi (Direktur Human Resources Development dan General Affair PT Indoguna Utama).

Sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Purwono Edi Santosa itu juga menghadirkan saksi-saksi utama lain, yaitu Menteri Pertanian Suswono, Luthfi, penerima aliran dana Maharani Suciono, juga penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi Amir Arif dan Andi Wina Yulianto.

Di persidangan, Fathanah mengaku berprofesi sebagai broker yang saat itu mengurus izin kuota impor daging PT Indoguna Utama. Dalam rekaman penyadapan percakapan antara Fathanah dan Luthfi, terungkap Fathanah memberi informasi ada komisi Rp 40 miliar untuk kuota 8.000 ton. Luthfi menimpali, kalau begitu akan diajukan 10.000 ton. Fathanah pun mengomentari berarti nilai totalnya Rp 50 miliar.

Menjawab pertanyaan jaksa Muhammad Rum, Fathanah mengakui membicarakan komisi Rp 5.000 per kg dengan Luthfi, tetapi Luthfi menanggapinya secara bercanda. ”Ustaz Luthfi tak percaya saya tentang hal-hal seperti itu kalau jumlahnya besar,” kata Fathanah.

Ia juga mengaku meminta uang kepada Direktur Utama PT Indoguna Maria Elisabeth Liman yang akhirnya dipenuhi Rp 1 miliar pada 29 Januari 2013. Pada sidang sebelumnya, terungkap di pembukuan PT Indoguna, dana itu disebut retribusi daging.

Namun, Fathanah memberikan versi lain, yaitu dana tersebut untuk seminar uji publik penambahan kuota impor. ”Saksi Elisabeth mengatakan, kalau dana itu untuk safari dakwah, yang benar yang mana?” tanya Rum.

”Yang benar dana itu untuk seminar dan untuk pribadi saya kalau bisa saya kutip dari situ,” jawab Fathanah. Jaksa kemudian menampilkan isi pesan BlackBerry. Terungkap Fathanah berjanji menyampaikan kabar gembira itu kepada Luthfi. ”Tapi (maksud) saya bukan seperti itu,” elak Fathanah. Ia mengaku tak ingin menyampaikan uang Rp 1 miliar itu kepada Luthfi.

Namun, dari penelusuran KPK, setelah menerima Rp 1 miliar, Fathanah menuju Hotel Le Meridien di Jalan Sudirman dan sempat menelepon Luthfi. Dalam percakapan telepon dengan Luthfi, Fathanah mengatakan ada yang ”penting banget” dan ”sangat menguntungkan”. Ia bilang ke sopirnya akan ada ajudan Luthfi yang mengambil ”bungkusan”.

”Saya sudah mengaku bersama Maharany dan saya kasih uang Rp 10 juta. Waktu itu telepon Ustaz Luthfi, tetapi tak ada satu pun kata bahwa uang itu untuk ustaz. Saya hanya katakan kalau ada waktu boleh enggak ketemu malam,” ujarnya.

Di sidang diputar rekaman percakapan Fathanah dan Luthfi terkait rencana mereka menyusun data agar impor daging ditingkatkan. Luthfi berargumentasi swasembada daging yang mengandalkan ternak lokal mengancam ketahanan pangan.

Fathanah mengakui mempertemukan bos PT Indoguna dengan Luthfi dan diharapkan bisa bertemu Menteri Pertanian Suswono. Penasihat hukum terdakwa, Bambang Hartono, menanyakan kepada Fathanah, apa sebenarnya peran Luthfi dalam pengurusan kuota 8.000 ton.

”Saya serahkan data kepada Ustaz Luthfi, tetapi selanjutnya saya tak tahu apa manuver-manuvernya,” kata Fathanah. Namun, ia tak tahu pasti isi data tersebut. Diduga berisi informasi soal importir daging dan krisis daging untuk meyakinkan mentan agar meningkatkan kuota.

Luthfi menjanjikan akan menyampaikan data itu ke Mentan keesokan harinya, tetapi Fathanah tak tahu apakah benar-benar dilakukan Luthfi. ”Apa LHI (Luthfi) bisa pengaruhi Suswono?” tanya Bambang. ”Itu antara percaya dan tidak, antara bisa dan tidak,” jawab Fathanah diplomatis.

Luthfi menyatakan memang berusaha mencari informasi lapangan terkait krisis daging dan fenomena beredarnya daging babi dan tikus. Data lapangan akan digunakan sebagai second opinion yang bisa digunakan Mentan.

Luthfi mengaku ada permintaan kuota 10.000 ton kepada Mentan, tetapi hal itu dilakukan agar meredam permintaan terus-menerus dari Fathanah. ”Kalau saya bilang tidak bisa, AF (Fathanah) bisa menghentikan informasi yang ingin saya peroleh dari Elisabeth. Saya sudah janjikan kepada Menteri untuk memberikan informasi,” kata Luthfi. Kesanggupan akan meminta kuota ke Mentan itu benar, tetapi Luthfi mengatakan tak dilakukannya.

Luthfi mengaku meminta Fathanah agar mempertemukan dengan Elisabeth dan akhirnya dipertemukan pada 28 Desember 2012. Pertemuan dihadiri Fathanah, Luthfi, Elisabeth, dan Elda Devianne Adiningrat (perantara perizinan, Komisaris PT Radina).

”Dalam rangka apa kok ketemu?” tanya hakim Purwono. ”Saya diberi informasi dari AF, Elisabeth adalah mantan ketua asosiasi impor daging yang punya pengalaman atasi krisis daging. Saya sedang cari informasi soal penyebab daging mahal dan bercampur celeng,” kata Luthfi.

Luthfi tak tahu Elisabeth importir daging. Ia lalu menyampaikan informasi dari Elisabeth kepada Mentan. ”Tapi menteri bilang datanya tidak valid. Saya bilang ini dari orang berpengalaman, Menteri bilang ia punya informasi lebih valid,” katanya.

Mentan Suswono membantah ada pertemuan soal kuota impor. Pertemuan di Lembang, Jawa Barat, terkait pembahasan kuota impor tak pernah terjadi. Namun, Suswono mengakui beberapa kali datang ke rumah Ustaz Hilmi Aminuddin di Lembang. ”Memang beliau sampaikan keluhan masyarakat soal percampuran daging dengan celeng dan tikus,” kata Suswono. (AMR)