Simaklah Perkembangan yang Terjadi, PKS Merupakan Partai Terburuk?
Penulis :
1198    0

Judul tulisan ini memang terlalu menohok bagi PKS, tapi judul ini juga dibuat untuk mengimbangi artikel-artikel dari akun PKS yang selalu menyebutkan bahwa PKS yang terbaik dst…. dst…. Bahkan tulisan yang sama baik dari judul maupun isi seringkali diterbitkan berkali-kali. Klaim bahwa PKS sebagai partai terbaik bagi kadernya sebenarnya sih, sah-sah saja, termasuk klaim dalam tulisan penulis bahwa PKS merupakan partai terburuk sekarang ini.

Penulis yang menyebutkan bahwa PKS merupakan partai terbaik menyertakan berbagai alasan, bahkan alasan yang diungkapkan banyak menggunakan alasan agama dan kepercayaan. Begitupun dengan penulis, pada saat menyebutkan PKS sebagai partai terburuk juga mempunyai berbagai alasan yang bisa diungkapkan dalam tulisan ini. Alasan-alasan ini muncul sehubungan dengan kasus yang menimpa mantan presiden PKS. Memang kasus korupsi bukan hanya menimpa kader dari partai PKS, tetapi juga partai-partai lainnya. Tetapi alasan penulis menyebutkan PKS sebagai partai terburuk, bukan karena adanya dugaan kasus yang menimpa mantan presidennya, tetapi lebih kepada perilaku PKS dalam menyikapi kasus hukum tersebut. Penulis tetap beranggapan bahwa selama penyidikan kasus hukum belum selesai, seseorang belum bisa disebut bersalah ataupun tidak bersalah dalam kasus tersebut sebelum dibuktikan di dalam persidangan.

Pada saat muncul dugaan suap yang melibatkan LHI, elit PKS melontarkan isu adanya konspirasi dari kekuatan ghaib yang ingin menghancurkan partai tersebut. Kenapa saya sebut kekuatan ghaib? Ya, karena kekuatan itu tidak bisa dibuktikan ke dalam kenyataan. Jadi dalam sudut pandang PKS, kasus yang menimpa PKS karena ada upaya dari sebuah kekuatan yang tidak terlihat (ghaib) yang berusaha untuk menghambat PKS menjadi pemenang Pemilu 2014 (penguasa: Red).

Wah, kalau kekuatan ghaib yang dimaksud oleh PKS itu yang seperti apa, ya? Coba saja dibayangkan, pada saat seseorang bisa melihat kekuatan yang tidak dilihat oleh orang lain, termasuk kategori apa yang seperti itu? Menurut penulis, yang seperti itu ada dua kategori, yang pertama yaitu paranormal, yang kedua orang yang berhalusinasi. Tetapi kalau bagi orang yang berpendidikan, saya kira kategori yang pertama tidak masuk dalam hitungan, karena bagi penulis, orang yang mengaku-aku sering melihat sebuah kekuatan ghaib, hanyalah isapan jempol belaka. Halusinasi merupakan pilihan yang logis yang berhubungan dengan kekuatan ghaib.

Tetapi ada kemungkinan lain yang mungkin lebih logis dari apapun yang berhubungan dengan kekuatan ghaib tersebut. Kemungkinan tersebut justru merupakan kebenaran yang tidak terbantahkan. Kekuatan ghaib dimaksud yaitu kekuatan “YANG MAHA KUASA”. Ya, memang kalau kekuatan ghaib dimaksud adalah “YANG MAHA KUASA”, penulis setuju 100%. Bahkan dalam komentar yang diajukan oleh salah seorang kompasianer, beliau menyebutkan ayat yang menurutnya berhubungan dengan konspirasi yang tidak kelihatan (ghaib) yang melibatkan kekuatan yang paling berkuasa di seluruh jagat raya ini. “Makaaruu, Makarullah, Wallahu Khairul Maakiriin”. Allah memang perancang segala apapun yang terjadi di muka bumi ini, termasuk apa yang terjadi pada PKS sekarang ini.

Hal lainnya yang menyebabkan penilaian penulis bahwa PKS merupakan partai terburuk sekarang ini, yaitu sikap PKS terhadap penyidikan yang dilakukan oleh KPK. Publik di Indonesia semuanya tahu bahwa KPK merupakan lembaga yang diharapkan untuk mengusut tuntas setiap kasus korupsi yang menjerat bangsa ini. PKS justru melontarkan pernyataan seolah-olah KPK terlibat dalam konspirasi untuk menjatuhkan PKS. Pelaksanaan kasus hukum yang dilakukan oleh KPK disebut-sebut sebagai upaya politisasi yang dilakukan oleh KPK terhadap PKS. Bahkan, pernyataan bahwa KPK ditunggangi oleh kekuatan politik tertentu sehubungan dengan kasus suap impor daging sapi mencuat di berbagai media yang dilontarkan baik oleh elit maupun kader PKS. PKS melontarkan tudingan terhadap KPK bahwa dalam mengusut kasus korupsi, KPK melakukan tebang pilih. Hal ini selalu dihubung-hubungkan dengan kasus-kasus korupsi lainnya yang pernah menjerat kader-kader partai yang menjadi lawan politik PKS. Padahal kalau memang PKS memandang KPK seperti itu, kenapa harus menyatakannya di depan publik yang bisa membangun polemik di mata masyarakat. Kenapa tidak dengan melakukan koordinasi secara internal dengan KPK dan membantu penyelesaian setiap kasus yang ditangani oleh KPK kalau memang memiliki bukti yang cukup?

Dalam berbagai tulisan dari akun-akun yang merupakan kader PKS, penulis sering membaca bahwa sikap PKS terhadap KPK tersebut dalam rangka untuk membelajarkan masyarakat bahwa KPK itu juga bisa salah. Mungkin pernyataan itu ada benarnya juga. Tapi yang perlu disadari oleh PKS yaitu bagaimana efek dari pernyataan yang dilontarkan oleh PKS tersebut. Perlu diingat bahwa independensi KPK sebagai lembaga yang menangani kasus tindak pidana korupsi harus dijaga oleh semua pihak, terutama partai politik yang ada di Indonesia. Bagaimana jadinya apabila pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh KPK mendapat tekanan dari partai politik, yang jelas-jelas berjuang untuk mendapatkan kekuasan. Wah, kalau begini, bisa-bisa setiap partai yang kadernya terkena kasus korupsi bisa melakukan tekanan terhadap KPK dengan memberikan “cap” bahwa KPK bisa salah dan lain sebagainya. Seyogyanya, sebagai partai yang memproklamirkan dirinya sebagai pembawa amanat rakyat, justru harus dengan sepenuh hati mendukung tugas yang dilakukan oleh penegak hukum walaupun kasus tersebut melibatkan kader partainya. Dalam pandangan penulis, justru begitulah proses pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh PKS, bukan sebaliknya.

Satu hal lagi yang membangun opini penulis bahwa PKS sebagai partai terburuk sekarang ini yaitu sikap PKS yang berhubungan dengan proses penyitaan mobil yang diduga terkait dengan kasus suap impor daging sapi yang dilakukan oleh KPK. PKS meng”klaim” bahwa KPK berlaku tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku yang berhubungan dengan proses penyitaan tersebut. Mereka menyebutkan bahwa KPK melakukan proses penyitaan tanpa membawa surat sita, sedangkan pihak KPK justru menyatakan bahwa petugas KPK membawa surat yang berhubungan dengan proses penyitaan tersebut. Mengenai hal ini, sudah banyak kajian yang sudah dilakukan, dan penulis condong pada kesimpulan bahwa KPK membawa surat-surat sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tetapi surat tersebut tidak sesuai dengan gambaran yang diinginkan oleh PKS.

Kejadian ini bahkan berkembang kepada pelaporan Johan Budi sebagai juru bicara KPK ke polisi oleh PKS terkait tuduhan pencemaran nama baik dengan melontarkan pernyataan bahwa PKS berusaha menghalangi proses hukum yang dilakukan oleh KPK. Padahal, siapapun yang melihat atau mendengar berita ini, justru akan mengambil kesimpulan yang sama dengan Johan Budi bahwa PKS seolah-olah berusaha menghambat proses hukum yang dilakukan oleh KPK. Bahkan KPK sendiri sudah menyatakan pasang badan bagi Johan Budi terkait pelaporan yang dilakukan oleh PKS tersebut. Hal ini perlu dimaklumi bahwa sebagai juru bicara KPK, setiap ucapan apapun yang dilontarkan oleh Johan Budi yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas KPK berarti mewakili KPK, sehingga pada saat beliau diadukan ke polisi, hal ini sama dengan PKS berusaha melaporkan KPK ke polisi.

Hal terbaru, justru PKS berusaha melakukan konfirmasi kepada publik bahwa PKS tidak berusaha melakukan perlawanan terhadap KPK untuk melakukan counter terhadap polemik yang sudah terlajur berkembang di masyarakat. Lha, bukannya opini tersebut bukannya datang dari kalangan PKS sendiri dengan segala perilaku dan pernyataannya yang dilontarkan di muka publik? Mungkin, terkait dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, PKS berusaha memperbaiki citranya kembali. Tapi sayang, hal itu dilakukan terlambat setelah berbagai polemik terus bergulir dan berkembang semakin kompleks yang memperburuk citra PKS. Dari sikap PKS yang seperti itu, justru jadi pertanyaan “apa yang akan terjadi apabila PKS yang menjadi penguasa kelak?”

Hal terakhir berhubungan dengan adanya klaim PKS sebagai partai dakwah. Kalau partai dakwah, kenapa selalu menghembuskan isu-isu miring sehingga berkembang di masyarakat? Apa bukan yang begitu tidak lebih dari segala upaya yang dilakukan demi kekuasaan? Apakah perilaku memasang spanduk dengan tulisan yang berbau provokatif (Akhlak Mulia) merupakan cerminan dakwah?

Kebenaran yang hakiki hanyalah milik Yang Maha Kuasa, kebenaran manusia hanyalah kebenaran yang subjektif. Walaupun begitu, kita hidup dalam lingkungan yang demikian. Oleh karena itu berilah kesempatan hukum untuk membuktikan kebenarannya, selebihnya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.(Pengkuh Budhya Prawira/KCM)