Inilah Temuan Identifikasi Kasus Cebongan,Sleman
Penulis :
1483    0

SLEMAN-Polri masih menyelidiki kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman, Yogyakarta pada Sabtu 23 Maret 2013 yang menewaskan empat tahanan. Empat tahanan itu adalah tersangka kasus pembunuhan seorang anggota Kopassus dalam perselisihan di Hugo’s Caf, Yogyakarta.

Saat ini, proses identifikasi yang dilakukan Polri hampir rampung. Sumber INILAH.COM yang mengetahui bocoran hasil identifikasi itu menyebutkan proses identifikasi antara lain dilakukan pada bidang teknologi informasi yang menyangkut percakapan ponsel dan pengumpulan fakta di lapangan.

Identifikasi itu antara lain menemukan informasi bahwa penyerangan itu terjadi empat hari setelah anggota Kopassus terbunuh di Hugo’s Caf. Setelah pembunuhan itu, muncul berbagai tekanan terhadap Polres Sleman.

Sumber tersebut juga mengungkapkan, akibat tekanan itu, tahanan kemudian dipindahkan ke Yogyakarta. Namun demikian, tekanan masih muncul sehingga tahanan dititipkan ke LP Cebongan, Sleman.

Selain itu, muncul pula SMS yang dikirim kepada Kapolres Sleman pada hari yang sama saat terjadinya penyerangan. Pada hari itu, sekitar sore hari muncul SMS kepada Kapolres dari anggota Kopassus yang isinya dia khawatir tidak bisa mengendalikan anak buahnya. Disebutkan pula bahwa ada anggota Kopassus yang melakukan latihan di luar markas Kopassus.

SMS tersebut kemudian di-forward ke Kapolda DIY dan Danrem. Oleh Kapolda, SMS tersebut di-forward lagi ke Pangdam Diponegoro. Namun, Pangdam menyatakan SMS tersebut palsu dan dikirim bukan oleh orang Kopassus. Sebab, tidak mungkin Kopassus mengirim SMS ke polisi.

Indikasi lainnya, adalah, saat penyerangan terjadi, kelompok penyerang mendatangi rumah Kalapas untuk meminta kunci. Saat itu, ada seseorang yang menyuruh Kalapas untuk berbicara dengan Komandannya karena Kalapas menolak menyerahkan kunci. “Anda bicara sama komandan saya!” kata sumber tadi menirukan ucapan salah satu penyerang.

Menurut sumber tadi, keterangan-keterangan tersebut dikumpulkan dari berbagai saksi yang telah dimintai keterangan.

Dari penyelidikan di lokasi kejadian juga, tim identifikasi menemukan sejumlah informasi. Antara lain mengenai keberadaan saksi mutiara berinisial Ksn. Saksi itu menyebutkan, saat penambakan terjadi, seorang penyerang menyuruh saksi bertepuk tangan. "Tepuk tangan kalau tidak mau mati." Para tahanan yang memang bukan jadi target pembunuhan itu akhirnya tepuk tangan.

Di sela-sela itu, Ksn berteriak "Hidup Kopassus!" Ksn juga mengaku mengetahui wajah para pelaku karena sempat diancam ingin dibunuh.

Pihak TNI AD mengakui telah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian terkait pengamanan terhadap lembaga pemasyarakatan (LP) pasca penyerangan Lapas Cebongan.

"Sejak kasus itu, kita sudah berkoordinasi dengan Polri, seperti pengamanan di LP dan tempat strategis lain yang berpotensi terjadi tindakan tidak diinginkan," kata Kadispenad, Brigjen Rukman Ahmad, Jumat (29/3/2013).

Selain pengamanan objek vital, lanjut Rukman, pihaknya siap membantu pihak kepolisian dalam proses penyelidikan maupun penyidikan dalam mengungkap kasus yang terjadi. “Kami siap membantu kalau itu permintaan polisi," tegas Rukman.

Kasus penyerangan sekelompok bersenjata terhadap Lapas Cebongan, mendapat perhatian kepala negara. Presiden SBY memerintahkan Panglima TNI agar seluruh jajarannya bekerja sama penuh dan membantu Polri mengungkap identitas pelaku penyerangan di LP Cebongan

Pelaku penyerangan terhadap tahanan LP Cebongan Sleman, DIY adalah teroris. Tidak hanya menewaskan 4 tahanan titipan Polda DIY namun juga tahanan menjadi trauma.

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham) Siane Indriani mengatakan, aksi kelompok bersenjata tersebut telah menimbulkan keresahan dan ketakutan. Dengan begitu, para pelaku itu bisa disebut teroris.

"Pelaku itu teroris juga. Kan itu bentuk teror pada masyarakat, umum dan negara. Jadi seharusnya ada berlakukan stigma yang sama," jelasnya disela-sela pengajian PP Muhammadiyah, di kantor PP Muhammadiya Menteng Jakarta, Kamis (27/3/2013) malam.

Siena menjelaskan, bahwa perilaku kelompok bersenjata tersebut telah menyerang institusi negara. Juga membuat rasa takut yang meluas. Maka selayaknya disebut teroris.

"Ini sudah merongrong negara dan membuat kehilangan rasa aman. Tindakan penembak dalam kaitan dengan teroris. Mereka seharusnya dipanggil teroris," jelasnya.

Selama ini, teroris selalu diidentikkan denggan perang jihad dan kelompok agama tertentu. Namun, kondisi sekarang juga menurutnya bisa dikategorikan teroris. "Karena terjadi dirumah negara dan dia melecehkan hukum," tandasnya..

Markas Besar (Mabes) Angkatan Darat (AD) siap membantu pihak kepolisian dalam mengungkap peristiwa penyerangan di Lapas Cebongan, Sleman yang terjadi Sabtu (23/3/2013).

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen Rukman Ahmad. “TNI siap membantu Polri untuk mengungkapkan kasus itu,” kata Rukman Ahmad.

Ditegaskannya dalam upaya pengungkapan kasus penyerangan Lapas Cebongan, pihaknya siap membatu dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus. “Kami siap kalau itu permintaan polisi," ungkapnya.

Kasus penyerangan sekelompok bersenjata terhadap Lapas Cebongan, mendapat perhatian kepala negara. Presiden SBY memerintahkan Panglima TNI agar seluruh jajarannya bekerja sama penuh dan membantu Polri mengungkap identitas pelaku penyerangan di LP Cebongan.

 

Kronologi Insiden Sleman

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) mendatangi Lembaga Pemasyarakatan Cebongan (LP Cebongan), Sleman, Yogyakarta, untuk melakukan investigasi insiden penyerangan LP oleh kelompok bersenjata tak dikenal. Wawancara langsung dilakukan dengan Kepala Lapas Sukamto dan para saksi lainnya. Berikut runtutan peristiwa dimulai dari tewasnya seorang anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Selasa (19/3/2013)
Terjadi pengeroyokan yang menewaskan anggota Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, yakni Sersan Satu (Sertu) Santoso (31). Pengeroyokan yang menewaskan Santoso terjadi di Hugo's Cafe, Sleman, Yogyakarta, Selasa pukul 02.45 dini hari. Berdasarkan hasil penyelidikan, pengeroyokan itu awalnya dipicu senggolan korban dan tersangka, lalu terjadi adu mulut. Santoso pun tewas karena ditusuk.

Kemudian, kurang dari 24 jam, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menangkap empat tersangka di tiga lokasi berbeda, pukul 14.00. Keempatnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Rabu (20/3/2013)
Keempat tersangka yang semula ditahan di Polres Sleman dipindahkan ke tahanan Polda DI Yogyakarta.

Jumat (22/3/2013)
Hanya sehari di Polres Sleman dan beberapa hari di Polda DI Yogyakarta, keempat tahanan bersama beberapa tahanan lainnya dipindahkan ke LP Cebongan, Sleman, pukul 11.00. Kuasa hukum tersangka mengaku tidak mengetahui pemindahan tersebut. Kepolisian beralasan, ruang tahanan Polda DIY sedang dalam renovasi.

Koordinator Kontras, Haris Azhar, yang melakukan investigasi menuturkan, berdasarkan keterangan saksi, pihak LP sempat mempertanyakan alasan pemindahan tersangka. Pihak LP, menurut Haris, telah memiliki firasat buruk karena 4 dari 11 tersangka yang dipindahkan adalah tersangka pembunuh Kopassus.

"Ada firasat atau dugaan buruk, takut peristiwa penyerangan di Mapolsek OKU terulang," kata Haris.

Saat pihak LP mempertanyakan alasan pemindahan, jawaban hanya datang dari seorang kepala unit (kanit) yang menyatakan Polda DIY akan memberikan pengamanan di LP. Sukamto kemudian menduga Polda DIY telah memberikan back-up dengan mengirim tim intelijen. Hingga malam hari, LP tersebut hanya dijaga sekitar 8 orang. Pemindahan tahanan secara cepat itu pun dinilai janggal. Pihak Polda DIY diduga kuat sebelumnya telah mengetahui akan ada penyerangan terhadap empat pelaku.

Sabtu (23/3/2013)
Sekitar pukul 00.30, dua petugas di meja piket LP didatangi seseorang yang menunjukkan surat dan mengaku dari Polda DIY. Orang tersebut mengatakan ingin berkoordinasi tentang tahanan yang baru dilimpahkan ke LP Cebongan. Petugas piket kemudian langsung memanggil kepala keamanan. Kepala keamanan itu langsung bergegas ke pintu depan untuk menanyakan maksud kedatangan.

Namun, saat pintu dibuka, sudah ada sekitar 17 orang dengan wajah ditutup dan menenteng senjata laras panjang. Mereka yang mengenakan pakaian bebas itu memaksa untuk masuk ke LP. "Mereka menodongkan senjata dan beberapa di antaranya menjaga atau menyandera penjaga LP. Kelompok itu juga mengancam akan mengebom LP," ungkap Haris.

Mereka langsung menanyakan di mana letak tahanan yang baru saja dilimpahkan oleh Polda DIY. Penjaga LP yang mengaku tidak tahu langsung dianiaya dan dipaksa memberi tahu. Petugas LP diseret secara paksa untuk menujukkannya. Akhirnya, seorang petugas memberi tahu para tahanan berada di sel 5a. Kelompok bersenjata mengambil paksa kunci sel dan meminta petugas LP untuk mengantar ke sel.

Setelah sampai di sel 5a, terdapat 35 tahanan, termasuk empat tersangka pembunuhan anggota Kopassus. Sesorang itu langsung menanyakan siapa empat orang yang menjadi tersangka pembunuhan anggota Kopassus. "Terjadi kepanikan dan kegaduhan di dalam sel tersebut hingga empat orang itu terpisah," kata Haris.

Seseorang berbadan tegap itu pun langsung menembak empat tersangka hingga tewas di hadapan tahanan lainnya. Menurut Haris, berdasarkan keterangan saksi, pelaku penembakan empat tersangka hanya satu orang. "Eksekutor empat orang itu hanya satu orang," katanya.

Selain itu, pelaku lainnya juga meminta paksa petugas LP untuk menunjukkan tempat kontrol CCTV. Petugas LP mengatakan hal itu hanya diketahui Kepala LP. Ruang Kepala LP berada di lantai dua. Pelaku kemudian mendobrak pintu yang bertuliskan "Kepala Lapas" dan merusak sekaligus mengambil kelengkapan CCTV. Penyerangan secara keseluruhan diperkirakan hanya berlangsung selama 15 menit. Ada seorang pelaku yang diduga berperan sebagai time keeper.

"Ada saksi yang mengaku melihat seorang penyerang terus melihat jam di tangannya," terangnya.

Keterangan lain, penyerang diduga memasuki LP dengan melompat pagar sebab LP dikunci. Sementara itu, warga sekitar berdasarkan keterangannya mengaku mendengar suara tembakan dan melihat ada tiga truk parkir dekat LP. LP berada pada daerah yang sepi dari lingkungan permukiman penduduk. Sisi jalan juga tidak dilengkapi dengan lampu penerangan.

Penyerangan terencana

Dari hasil investigasi, penyerangan terlihat sangat terencana. Penyerangan juga diduga dilakukan kelompok bersenjata yang profesional. Pembagian tugas pelaku penyerangan telah diatur dengan estimasi waktu penyerangan hanya 15 menit. "Ini seperti operasi buntut kuda. Yang masuk LP ada sekitar 17 orang, tapi yang mengeksekusi hanya satu," kata Haris.

Direktur Program Imparsial Al-Araf meyakini pelaku berasal dari kelompok terlatih dengan penggunaan senjata. Menurut keterangan kepolisian, pelaku membawa senjata AK 47, jenis FN, dan granat. "Penyerangan ini tentunya dilakukan secara terorganisasi, terencana, terlatih, dan memiliki kapasitas penggunaan senjata secara profesional," terangnya.

Dari rangkaian peristiwa itu diduga kuat, penyerangan dilakukan dengan motif balas dendam. Banyak pihak kemudian menduga pelaku penyerangan adalah anggota TNI sendiri. Meski masih dalam tahap penyelidikan, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso langsung membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus.

Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

[tjs]