PDIP, Hatta & Para elit Pengusaha China: Ini bukan soal SARA dan Sinisme !
Penulis :
Penyunting :
1234    0

Kekalahan Effendi Simbolon dalam Pilgub Sumatera Utara dan juga Rieke Dyah Pitaloka di Jabar tidak lepas dari sorotan bagaimana PDIP mencoba peruntungannya untuk menggunakan Jokowi dalam proses pilkada tersebut agar dapat mengulang sukses seperti di Jakarta. Majunya Jokowi untuk berkampanye dalam konteks kawan separtai ternyata tidak dapat membantu secara signifikan untuk dapat meraih suara bagi kedua kandidat tersebut. Hal tersebut tentunya semakin menguatkan kata hati saya bahwa kemenangan Jokowi di Pilkada DKI kemarin adalah bukan karena magnet kepemimpinannhya yang kuat, tetapi karena sudah tidak maunya warga Jakarta untuk dipimpin oleh Foke kembali. Di sisi lain, majunya Ahok sebagai figur pendamping Jokowi yang notabene seorang Nasrani – China juga akan memunculkan fenomena kepemimpinan yang dipimpin oleh figure yang berasal dari suku serta agama tersebut. Hal ini saya ungkap bukan bermaksud untuk menyentil “ SARA/SINISME “ dalam opini yang sedang dibangun tetapi ada perkembangan yang secara implisit tidak tertangkap oleh publik bahwa ada kepentingan besar dibalik pertarungan antara Barat dan Timur terhadap legitimasi pertarungan kepemimpinan Indonesia di tahun 2014 nanti. Dan hal tersebut sudah secara sistematis terbangun dengan mulainya bermunculan pemimpin China dan Nasrasni dalam peta politik Indonesia di daerah – daerah melalui proses Pilkada terlebih dengan kemenangan Ahok sebagai pendamping Jokowi.

Katakanlah ketika berlangsung demo buruh secara radikal beberapa waktu lalu , dimana framing media yang menurut pengamatan saya sangat memihak terhadap buruh melalui statement – statement pemerintah serta mencoba menarik pengusaha untuk bertarung di ruang publik berakhir dengan dikabulkannya tuntutan kaum buruh terhadap kenaikan UMR hal ini memunculkan persoalan baru dimana para pengusaha yang keberatan terhadap kenaikan tersebut meminta penundaan kenaikan UMR tersebut. Hal tersebut direspon oleh pemerintah melalui Iqbal sebagai pentolan kaum buruh dalam hal ini dipersilahkan bagi pengusaha untuk merelokasi usahanya ke daerah yang masih murah upahnya agar pemerintah tetap dapat menjalankan regulasinya bagi kepentingan kaum pekerja. Statement ini tentunya sangat politis dan sangat mungkin tertitip agenda besar bagi kepentingan investasi di sebuah kawasan usaha seperti di Cikarang, bagaimana kedepannya jika relokasi jadi dilakukan oleh pengusaha. Tentunya sangat tidak mungkin kawasan bergengsi seperti Cikarang dibiarkan menjadi lahan tidak produktif karena ditinggal relolasi. Maka sangat logis sekali jika reputasinya semakin ditingkatkan menjadi kawasan yang super elit bagi kalangan tertentu yang dapat menentukan arah investasi di negeri ini. Inilah yang menjadi pertanyaan ? apakah kelanjutan investasi di kawasan tersebut akan diisi oleh Timur ( China ) atau Barat melalui aneksasi penguasaan perusahaan tambang misalnya seperti Rotschild.

Saya mencoba mengkaitkan fenomena tersebut dengan beberapa kemenangan pemimpin yang berasal dari China dan Nasrani dalam beberapa Pilkada di Indonesia seperti kemenangan Ahok. Di beberapa daerah kemenangan tersebut dikuasai oleh pemimpin yang berasal dari China – Nasrani maka dengan kemenangan tersebut, melalui tekanan dari bawah tentunya akan semakin menguatkan bahwa di Pilpres 2014 minimal potensi wakil Presiden nanti sangat mungkin berasal dari China Nasrani. Masuknya Hari Tanoe di Hanura menambah tajam sorot mata Wiranto dalam memasuki pertarungan Presiden di 2014, sehingga jika Hari Tanoe muncul sebagai Wakil Presiden mendampingi Wiranto maka legitimasi tentara akan terseret kearah Wiranto dengan memanfaatkan reputasi SBY yang sedang terpuruk dan tentunya akan terbagi dua antara Wiranto dan Prabowo sebagai pertarungan di kalangan tentara dengan asumsi bahwa tidak ada pensiunan lain yang mencalonkan.

Jika benar konstalasi ini yang berkembang saya kira harus dilihat urgensi terhadap baik – buruknya terhadap kehidupan bangsa ini dimasa depan. Oleh karena itu pemimpin atau capres seperti Prabowo tentunya sangat tidak diharapkan memimpin Indonesia jika kebijakannya tidak pro terhadap etnis pengusaha elit China di 2014 nanti, duri dalam daging itu terus ditanam seperti munculnya kasus penangkapan Hercules sebagai kerikil reputasi bagi Prabowo dimana Hercules disebut – sebut sebagai salah satu penjamin kemenangan Jokowi dalam Pilkada lalu dengan penempatan pasukannya sebagai pengawas pada saat perhitungan suara. Kemudian model pemimpin seperti Aburizal Bakrie yang sudah habis – habisan bertarung melawan Rotcshild saya kira harus mendapat perhatian dan apresiasi besar bahwa ternyata yahudi dapat dilawan dengan keyakinan yang tulus dan nasionalisme tetapi disisi lain juga yang bersangkutan sebagai pengusaha kakap jika dapat menjadi Presiden RI, dianggap dapat merubah peta pengusaha di Indonesia melalui regulasinya oleh karena itu hal tersebut dapat tidak menguntungkan bagi elit pengusaha China connection terhadap keberlangsungan usahanya nanti. Gonjang – ganjing elektabilitas Aburizal Bakrie di masyarakat dan Partai Golkar sebagai RI 1 saya kira juga tidak terlepas dari pengaruh kepentingan dibalik ini.

Keunikan yang muncul terhadap kepemimpinan di 2014 nanti menunjukan adanya kekacauan kepercayaan di tatanan masyarakat terhadap kondisi di elit dengan berbagai kasus korupsi yang melibatkan para elit dan memang saat ini, negeri ini sedang kacau. Hal itu berbeda di tahun 99 yang memunculkan calon Habibie dan Non-Habibie, kemudian di 2004 yang memunculkan calon Mega, SBY dan Wiranto serta di 2009 dengan SBY sebagai calon tunggal. Di 2014 yang tinggal setahun lagi, saya melihat seolah – oleh potensi kepemimpinan di 2014 nanti, ada yang menggiring secara sistematis terhadap kepentingan blok tertentu yang mengarah ke timur ( China ), test case yang dilakukan oleh Jokowi di Jawa Barat dan Sumatera Utara baru – baru ini dapat diindikasikan sebagai penjajagan terhadap kemungkinannya yang bersangkutan jika dilamar menjadi Wapres 2014 nanti. Tetapi saya lebih melihat jika Jokowi sampai maju maka Ahok yang menggantikannya akan semakin membuktikan hipotesis terhadap design bahwa pemimpin dari tatanan China dan Nasrani sangat dipaksakan saat ini untuk mendapatkan legitimasi terhadap kemudahan investasinya di Indonesia.

Terkait dengan konspirasi di balik demo buruh diatas, Hatta Rajasa menurut saya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarnya statement Iqbal tersebut, dan yang paling logis adalah dengan menarik Jokowi sebagai wapresnya jika Hatta sampai maju sebagai Presiden maka dengan suplai logistik dari pengusaha – pengusaha elit China dapat dikucurkan tentunya dengan adanya konsesi penguasaan lahan di Cikarang seandainya terjadi eksodus relokasi bagi pengusaha di daerah tersebut ( logika ini masih debatable ).

Sekali lagi, tulisan ini bukanlah untuk bermaksud sebagai bentuk “ SARASINISME “ tetapi, saya hanya mencoba untuk bertukar pikiran dalam bentuk pencerahan dimana ketika semua mata sibuk terhadap kasus – kasus korupsi dan rusaknya Partai Demokrat serta pencitraan SBY atau blusukannya Jokowi, saya kira kita semua harus tetap memperhatikan perkembangan yang terjadi kemudian menganalisanya serta harus diinformasikan secara transparan dalam bentuk opini publik sehingga masyarakat mendapat informasi yang lebih obyektif dalan menentukan sikapnya terhadap perkembangan politik melalui isu – isu yang dibangun oleh elit – elit kita saat ini.

(Kompasiana/Mohamad Chaidir)

 

 

Jakarta, 10 Maret 2013.

Mohamad Chaidir Salamun

Media Intelligence IndoSolution.