Kota terbesar di Turki, Istanbul, Rabu malam, menggelar festival puisi dengan tema "Empat Benua, Satu Syair, Istanbul".

Festival puisi internasional yang dilaksanakan selama empat hari dan dihadiri 55 penyair kondang dari 17 negara, telah memberi nafas baru bagi kekayaan budaya sejarah Istanbul.

Xinhua melaporkan hampir 1.000 penonton menghadiri acara pembukaan. Selama itu, 15 penyair menampilkan puisi mereka.

"Melalui penyelenggaraan festival puisi internasional ini, kami ingin membawa semangat puisi ke Istanbul dan rakyatnya," kata Mehmet Mazak, Direktur Urusan Sosial dan Kebudayaan di Kotapraja Sultanbeyli, Istanbul, penyelenggara utama festival tersebut.

Banyak penyair mancanegara menyampaikan cinta mereka untuk Kota Istanbul.

"Istanbul sendiri adalah puisi. Kota itu sangat cantik. Rakyat Istanbul hidup dalam puisi, bagaimana mereka bisa tidak mencintai puisi?" kata Faten Al-Ghorra, perempuan penyair dari Palestina, sebagaimana dikutip Xinhua.

Al-Ghorra pun ingin menulis puisi untuk Istanbul ketika ia kembali ke tempat tinggalnya.

Turki sejak dulu selalu menjadi negara puisi, yang melahirkan beberapa penyair Sufi mistik paling terkenal di dunia, seperti Jalaluddin Ar-Rumi dan Yunus Emre.

Puisi Ar-Rumi, yang hidup pada abad ke-13 di Turki, telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan dibaca oleh banyak orang di seluruh dunia, dan kebijaksanaan Sufinya mengilhami Timur dan Barat.

Yunus Emre adalah salah seorang penyair yang telah meninggalkan pengaruh sangat besar pada kesusasteraan Turki bahkan hari ini.

Pelajar Turki mempelajari puisi di sekolah menengah pertama dan atas mereka.

Namun, sebagian orang Turki berpendapat cinta pada puisi tak lagi sekuat pada masa lalu.

Mereka mengatakan, "Buku puisi tidak laku di Turki dan sulit untuk hidup sebagai seorang penyair di Turki hari ini."[ian/ant]