Ruh Yang DItakdirkan Sebagai Pengembara! (EKSTASE 507)
Penulis :
Penyunting :
613    0

                                                            EKSTASE    507

 

 

 

ruh yang terlepas ke alam semesta
ditakdirkan sebagai pengembara
tak ada satu ruh pun terlepas dari prinsip-prinsip kosmik (4
ruh yang beruntung menemukan kerumunan (5 nya
yang menjaganya dari terkaman binatang buas (6
ruh yang celaka, mengembara sendiri
beribadah sendiri, dan tidak menemukan bimbingan
serta juga tiada menemukan pembimbing yang cerdas! (7


                                                         




4 ). hukum-hukum sunnatullah, baik bersifat jasmani maupun ruhani
5)  Hewan-hewan di dunia seperti domba, unggas bahkan hewan buas sekalipun, selalu mengikuti kerumunannya (jamaah). Hewan yang selalu berada dalam jamaah, apalagi yang memiliki kondisi lemah, akan selamat, karena terjaga dalam jamaah (kerumunan). Bagi yang terlepas dari kerumunan (jamaah) akan diterkam oleh predator (musuh-musuhnya) yang buas yang akan memakan (memangsa) dirinya.
6) , dalam dunia ruhani manusia, hewan-hewan buas itu diidentifikasi sebagai Iblis, Setan, Jin dan makhluk-makhluk ruhani (halus) yang ternyata jauh lebih buas dan licik disbanding dalam dunia fisik. Kaum sufi faham betul tentang masalah ini, karena itu mereka mencari jamaah (kerumunan) pada guru mursyid dalam berbagai aliran tarekat yang bertebaran di muka bumi, seperti tarekat Naqsyabandiyah, Tijaniyah, Isma’iliyah, Sattariyah, Idrisiyyah, Sanusiyyah, Ja’fariyyah dlsb.
7). Dalam al-quran digambarkan dalam surat al-kahfi ayat 17 diterangkan : ” Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah (karena mengambi petunjuk itu), maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya (karena tak mengambil bahkan menolak petunjuk), maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.Dalam hal menemukan pembimbing yang cerdas dan menolong ini, banyak para ahli sufi menafsirkannya bahwa mereka (manusia) tidak pernah merasa atau dengan pengetahuan sadar, untuk mencari pembimbing ruhani yang akan membawanya ke jalan Allah Swt.




                                                                         

 

                                                                            Menjelang detik Nol,  15  04 2012

 


juftazani: Penyair, editor. Novelnya bertajuk “Tanah Perlawanan 1873-1890” telah diselesaikannya (belum diterbitkan). Sekarang meneruskan  penulisan “Tanah Perlawanan” edisi kedua. Novel ini  berkisah tentang perlawnan orang-orang Aceh yang gagah perkasa terhadap intervensi kaphe-kaphe Belanda sepanjang 1873 sampai 1942
 

Review: The Expendables 3 -dibaca 1838 kali