Di Balik Terpilihnya Anis Matta Sebagai Presiden PKS
Penulis :
4051    0

Oleh; Hendrajit*

Keberhasilan Anis Matta menggantikan Luthfi Hasan Ishaq sebenarnya seperti pucuk dicinta ulam tiba bagi Anis. Bayangkan. Sejak awal Anis selalu jadi sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS), siapapun Presiden PKS. Berarti ini orang sangat kuat pengaruh dan kuku-kuku kekuatannya di partai yang berbasis Ikhwanul Muslimin ini. Para figur semacam Tifatul Sembiring dan Hidayat Nur Wahid, memang kader-kader PKS yang dibina oleh Ikhwanul Muslimin yang berhasil dijinakkan oleh mantan agen non organik dari BAKIN bernama Suripto. Sementara orang-orang model Anis Matta dan jaringan pendukungnya di PKS, sebenarnya berasal dari jalur lain di luar IkhwanulMuslimin. Dan tidak berbasis pada pengaruh para Ulama Salaf yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin. Sehingga motivasi dan agenda politiknya jauh lebih pragmatis.

Jadi, dengan kepemimpinan PKS di bawah kendali Anis Matta, kayaknya PKS akan semakin pragmatis dan kompromistis dalam membaca angin politik jelas 2014 mendatang. Kalau menelisik jalur kontak dan jaringan perkawanannya yang dekat dengan para aktivis penggerak NASDEM, tampaknya kemungkinan terjalinya kerjasama PKS-NASDEM bukan hal yang terlalu mengada-ada.

Kalau ditelisik ke belakang bagaimana anaknya Wiranto bisa direkrut dan dikaderisasi oleh PKS, juga berkat kerja politik jaringannnya Anis Matta. Berarti ini orang, di luar jalur Ikhwanul Muslimin, ada dukungan kuat dari jaringan tidak kasat mata baik dari dukungan finansial grup konglomerat tertentu, maupun dari jaringan militer/intelijen di luar orbit pengaruh Suripto. Untuk sementara dugaan saya, berasal dari Cendana Grup. Jadi, klop lah dengan NASDEM yang notabene berada dalam orbit BIMANTARA GRUP. Meski Surya Paloh dan Hary Tanoe, terkesan sudah pecah kongsi.

Bagaimana kita membaca kejadian sesunguhnya di balik skandal keterlibatan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan? Menurut penglihatan saya, saat ini memang sedang terjadi  perpecahan serius di kubu PKS antara faksi IkhwanulMuslimin dan faksi PKS non Ikhwanul Muslimin pimpinan pimpinan Anis Matta yang sekarang jadi Presiden partai. Buktinya, Ketua Fraksi PKS dari faksi Ikhwanul Muslimin Hidayat Nur Wahid menyatakan ada konspirasi besar terkait penetapan Luthfi sebagai tersangka. Luthfi Hasan Ishaaq terkait dugaan keterterlibatannya dalam suap kuota daging impor.

Terlepas moralitas Luthfi Hasan memang rapuh sehingga jadi sasaran empuk "operasi intelijen/special operation" menggusur dirinya dari tampuk kekuasaan, namun pada dasarnya ini bukan sekadar buah dari konflik internal antara para kader PKS dari jalur IM/Suripto versus jalur Anis Matta yang non IM. Hal ini menggambarkan sedang adanya pertarungan anta elit-elit strategis di luar lingkaran internal masing masing partai. Yang muaranya adalah terbentuknya FORMASI BARU ELIT NASIONAL 2014.  Dan pada tataran ini, PKS di bawah kepemimpinan Luthfi Hasan yang dari faksi IM dan orbit pengaruh Suripto, dirasa tidak bisa klop dengan skenario besar membentuk Formasi baru elit nasional tersebut. Maka operasi khusus KPK menjaring Luthfi Hasan tersebut harus dibaca sebagai bagian dari skenario besar memunculkan Anis Matta sebagai kekuatan baru tanpa saingan di PKS.

Bagaimana perbedaan pola rekrutmen keanggotaan IM dan non IM? Kalau IM penggalangan dan rekrutmennnya berbasis di kampus dan masjid.  Haluan ke-Islaman yang dikembangkan oleh Faksi IM  merujuk pada Hasan al Bana dari Mesir. Ikhwanul Muslimin atau Al Ikhwan al Muslimun secara harfiah diterjemahkan  Organisasi Persaudaraan Muslim, dan didirikan pada 1928 oleh Hasan al-Banna. Adapun rujukan ke-Islaman yang jadi induk ajaran berasal dari Rashid Rida.

Inti ajaran Rashid Rida yang diyakini dan dianut oleh IM Mesir dan pada perkembangannya diadopsi  oleh para kader-kader IM di Indonesia melalui Hilmi Aminuddin dan kawan-kawan,  adalah Islamisme politik. Bahwa Islam adalah satu-satunya jawaban untuk memecahkan berbagai masalah sosial-budaya, ekonomi dan tentu saja politik.  Untuk tegasnya, tidak ada pemisahan antara negara dan agama. Slogannya yang terkenal:  AL QURAN ADALAH PEDOMAN KAMi. JIHAD ADALAH JALAN KAMI. MATI SYAHID ADALAH TUJUAN KAMI.  Bahkan ditegaskan dalam sebuah brosur mereka: "Jika ada orang bilang kepadamu (kader) ini adalah politik, katakanlah bahwa ini adalah Islam."

Uniknya dari IM Mesir yang kemudian lingkup dan eskalasinya semakin meluas dan melebar justru di masjis-masjid dan perguruan tinggi di Eropa dan Amerika, menyusul kedatangan Said Ramadan, anak menantu Hasan al Banna, ketika meneruskan studi hukumnya di Jerman.

Para kader-kader Indonesia sepertinya merujuk pada model yang dikembangkan oleh Said Ramadan dalam pengembangan basis dan jaringan IM di kawasan Eropa, dengan bertumpu pada basis masjid dan perguruan-perguruan tinggi yang ada di Eropa. Tak heran meski sikap mereka sangat radikal dalam meyakini dan memperjuangkan Islamisme politik dan Islam sebagai ideology negara, namun cita rasanya sangat barat seperti dalam berpakaian, dalam mengelola dan mengembangkan organisasi-organisasi sosial, maupun dalam penggunaan teknologi dan mengakses informasi.

Gambaran sekilas mengenai profil kader dan organ-organ yang merujuk pada IM di Eropa, pada perkembangannya menjadi role model atau rujukan  bagi para kader-kader Im di Indonesia. Tujuan strategis kelompok ini adalah menjadi elemen-elemen kunci kelas menegah Indonesia yang berbasis di kampus perguruan tinggi dan masjid-masjid di Indonesia. Karena paham ke-Islaman model IM ini sangat tidak mengakar di pesantren-pesantren berpaham Ahlul Sunnah wal Jamaah yang notabene merupakan tradisional Islam. 

Metode Hasan al Banna yang kemudian dikembangkan oleh Said Ramadan dalam menggalang calon-calon kader IM di Eropa adalah dengan mengidentifikasi sebuah permasalahan dalam suatu masyarakat, kemudian memecahkannya. Kelompok tersebut dapat membantu membangun masjid atau sekolah, atau mengembangkan industri  lokal. Dari sini jelas bahwa melalui metode ini, output profil kader-kader IM adalah menjadi aktivis dan penggerak sosial di semua bidang kehidupan masyarakat.

Bahkan gilanya lagi, dalam konsepsi rancangannya tentang pengembangan IM, juga didirikan apa yang disebut "Badan Khusus" semi militer IkhwanulMuslimin. Bagi Banna, maksud dari sebuah organisasi keagamaan memiliki sayap militer sama sekali tidak aneh. 

Nah profil kader-kader IM yang berbasis di kampus-kampus dan masjid-masjid inilah yang sejak era 1980-an mulai dibina oleh Badan Koordinasi Intelijen Negara/BAKIN. Pada tataran inilah, Suripto, agen intelijen non organik dari BAKIN, ditugaskan untuk mengontrol sekaligus membina kader-kader IM yang kelak pada saat reformasi dan pemilu 1999, bermetamorfosa sebagai Partai Keadilan.

Dan pada  pemilu 2004, berobah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hingga sekarang. Untuk menjinakkan kader-kader IM namun pada saat yang sama tetap menjaga radikalisme paham ke-Islaman mereka yang merujuk pada Hasan al Banna dan cendekiawan Muslikm Rashid Rida, Suripto bertumpu pada sosok di dalam IM yaitu Hilmi Aminuddin.  Begitulah. Tifatul Sembiring, Hidayat Nur Wahid dan Luthfi Hasan Iskaq merupakan kader-kader Hilmi Aminuddin, yang berarti juga berada dalam orbit pengaruh Suripto hingga sekarang.

Lalu bagaimana pola dan modus operandi faksi PKS non IM dalam menjaring kader-kadernya untuk masuk dan bergabung sebagai anggota/kader PKS? Kalau faksi non IM PKS penggalangan dan penjaringan anggota dan kader PKS melalui yang disebut Tarbiyah. Semacam kelompok studi/pengkajian/atau pengajian. Profil para anggota yang dijaring umumnya orang orang awam tapi punya tingkat pendidikan yang relatif bagus. Karena mereka ini tidak dalamn bimbingan dan pembinaan ideologis dari faksi IM di PKS, maka orientasi politik Keislaman yang mereka jaring adalah orang orang yang kecewa terhadap figur atau organisasi Muslim seperti NU dan Muhammadiyah. Alhasil, meski PKS terkesan solid, jalur non IM inilah yang rawan terhadap gelombang pragamtisme dan oportunisme yang melanda semua partai yang ada, baik yang berhaluan keagamaan maupun yang berhaluan kebangsaan.

Sekarang, dengan terseretnya Presiden PKS Luthfi Hasan dalam korupsi impor sapi, maka faksi PKS dari IM yang berada dalam orbit Suripto, mengalami kekalahan politik yang cukup melumpuhkan. Sayangnya, hampirsemua pemberitaan terlalu fokus pada besarnya kekayaan Luthfi Hasan. Padahal yang penting digali informasinya adalah, dari jalur mana operasi khusus menjebak Presiden PKS itu berasal. Karena kalau Hidayat Nur Wahid menyebut ini sebagai konspirasi besar, maka elemen elemen di dalam PKS itu sendiri juga ikut bermain. Agaknya, ini adalah kekalahan telak kubu Suripto dan faksi Ikhwanul Muslimin di dalam tubuh PKS. Pertanyaan menarik sekarang, apa manuver Suripto untuk membalikkan keadaan menjadi remis di dalam internal PKS maupun dalam permainan politik di lingkup nasional.

Mencermati apa mamnuver Suripto di PKS saya kira cukup menarik mengingat kenyataan bahwa Suripto lah yang selama ini menjadi "mentor politik" para kader-kader PKS dari jalur IM sejak zaman pemerintahan Suharto di era orde baru. Bukan itu saja. Pada saat memanasnya situasi politik Mei 1998 menuju tumbangnya Presiden Suharto, Suripto merupakan salah satu mentor gerakan Mahasiswa angkatan 1998 dari organ kemahasiswaan KAMMI(Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang para anggotanya semua dari unsur Ikhwanul Muslimin.

Beberapa alumni KAMMI yang kemudian masuk Partai Keadilan dan kemudian PKS seperti Fahri Hamzah dan Rama Pratama, kemudian masuk menjadi anggota DPR-RI bersama-sama dengan Luthfi Hasan, Iwan Prayitno, Hidayat Nur Wahid, Nur Mahmudi Ismail, dan Tifatul Sembiring.

Sementara itu, Anis Matta bergabung dengan PKS namun dari jalur non IM, dan kemudian mengembangan jaringan dan basis kekuatannya melalui  Tarbiyah tersebut di atas. Dan pada perkembangannya, Anis Matta malah lebih dekat dengan jaringan sayap militer yang menginduk pada Jendral Wiranto.  Apalagi ketika pada masa masa awal konsolidasi PKS, Wiranto masih menjabat Panglima TNI.  Jabatan yang waktu masih sangat strategis tidak saja secara kemilitran, tapi juga secara politis.

Yang unik dari koalisi antara faksi IM dan non IM yang berada dalam kendali Anis Matta, Anis selalu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PKS siapapun yang menjadi Presiden PKS. Maklum, karena Presiden PKS selalu berasal dari faksi PKS asal IM. Namun rupanya, pengaruh dan kuku-kuku kekuasaan Anis Matta cukup kuat dan mampu mengimbangi pengaruh Suripto lewat IM.

Pada pemilu 2004 dan 2009, sikap politik PKS dalam pemilihan presiden selalu dengan dasar pertimbangan pragmatis dan oportunistik, dan sama sekali tidak ideologis seperti cirri khas dari warna politik IM. Di sinilah bukti nyata pengaruh dan kekuatan politik Anis Matta sehingga pada pemilu 2004 PKS memihak Jenderal Wiranto pada putara pertama, dan SBY pada putaran kedua.

Padahal, pada pemilu 2004 Partai Islam berhaluan modernis Partai Amanat Nasional (PAN) memutuskan untuk mengusung duet Amien Rais-Siswono Yudo Husodo. Namun dengan pertimbangan pragmatism dan oportunismenya,  PKS lebih memihak calon calon dari kalangan militer seperti Wiranto dan SBY daridapada Amien Rais yang bagaimanapun juga masih mengidentifikasi dirinya sebagai figure dari kalangan Muslim.

Sedangkan pada Pemilu Presiden 2009, PKS  juga dengan pengaruh dari Anis Matta, mendukung duet Jusuf Kalla-Wiranto, yang kemudian di putaran kedua juga akhirnya berpaling ke duet SBY-Budiono.

Dari sini sudah tergambar bahwa Anis Matta bekerja untuk jaringan militer yang di masa orde baru dekat dengan Cendana Group, khususnya BIMANTARA GROUP pimpinan Bambang Trihatmojo.

Apakah ini berarti PKS di bawah kepemimpinan Presiden Anis Matta akan mencalonkan kembali Wiranto pada pemilu 2014? Itu memang bisa jadi salah satu kemungkinan.  Namun tidak tertutup kemungkinan lain yang jauh lebih strategis daripada sekadar mendukung Wiranto yang dari segi usia sebenarnya sudah tidak akan popular lagi di mata masyarakat.

Kemungkinan kedua, Anis Matta mungkin akan menjadi mata-rantai penting dari terbentuknya KONFIGURASI ELIT STRATEGIS BARU pada 2014 mendatang. Terlepas masih akan tetap muncul dari sistem dan aturan main pemilu seperti 2004 dan 2009, atau akan muncul dari sistem dan aturan main baru di luar kerangka dan skema Pemilu 2004 dan 2009.  

Jika skenario ini benar, Anis Matta dan PKS akan menjadi operator politik penting dari Bimantara/Cendana Group dan tetap dalam koordinasi politik baik dengan Surya Paloh maupun Hari Tanoe. Dua Bandar politik besar yang akan bertindak sebagai "King Maker" calon presiden Indonesia 2014.(IRIBIndonesia/theglobal review/PH)

*Direktur Eksekutif Global Future Institute