Pantun Persahabatan, Kolaborasi Imagi Didiek Soepardi MS !
Penulis :
1900    0

SEMARANG, RIMANEWS -- Pantun adalah salah satu bentuk puisi lama yang mempunyai pola tertentu. Biasanya terdiri atas empat baris per baitnya.Digunakan dalam pergaulan sehari-hari untuk mengakrabkan tali silaturahm, Sitor Situmorang salah satu penyair yang sadar betul bahwa pantun adalah 'ibu' maka dalam beberapa sajaknya ia kembali dalam bentuk pantun dan juga dialami oleh Chairil Anwar perhatikan puisi " Senja Di Pelabuhan Kecil " kalau kita cermati betul bait-baitnya adalah berbentuk pantun, Bagi  Sutardji CB lebih subtantif lagi bahwa antara sampiran dan isi tak perlu saling terkait, maka didalam sampiran ia memakai kata apa saja bahkan tak ada arti sama sekali yang penting bunyi akhir akan sama, Misal : ta ti ti ta ti dang/ ti ta da ti ti da da ti// kalau ada umurku panjang /  kita boleh berjumpa lagi. ( Didiek Soepardi MS, Penyunting )

PANTUN PERSAHABATAN

Kue kering enak dimakan
Dimakan satu bagi empat
Yang penting sudah saling memaafkan
Meski tak ada lagi ketupat

bila bunga hendak merekah
biarkan warna penuhi taman
bila tiba saat berpisah
biarlah cinta jadi kenangan

angin berhembus dari Barat
membawa air jatuh di tangan
berpisah memang sangat berat
meskipun cinta jadi kenangan

melati memang warnanya putih
dirangkai satu gantung di dinding
hatiku hancur semakin sedih
melihat kekasih duduk bersanding (R.D. Kedum)

daun selasih tumbuh di tebing
pakailah cangkul cari umbinya
biarkan kekasih duduk bersanding
tetaplah senyum cari gantinya (Noeel G.)

daun selasih dimakan burung camar
hinggap di huma menerkam ubi
gak ada kekasih masih ada pacar
gak dapat juga carilah istri (Huta Baringin)

periuk perigi di atas nampan
Jangan lupa letakkan makanan
Biarlah hilang mimpi harapan
satu pergi masih ada simpanan (Huta Baringin)

masih banyak ikan di laut
ambillah pancing dan umpan
jangan satu tempat berpaut
masih banyak pemuda tampan (Huta &RD)

Sungguhlah Ranum si buah mangga
Dimakan orang rasanya manis
RD Kedum cantik orangnya
Bergaya apapun tetaplah manis (Thamrin)

jamur merang di sekam padi
Dimasak dengan daun pala
Bung Thamrin memang pandai memuji
Membuat Kedum besar kepala (RD Kedum)

Semarang masih turunlah hujan
mesti sedia payung selalu
kalaulah ingin memakan ketan
jangan malas masak dahulu (Didiek MS)

Payung hitam dipakai petang
Jangan kembangkan di bawah rumah
Okelah Pak Driya aku 'kan datang
makan ketan diberi kuah (RD Kedum)

ketan dimasak campur durian
dalam belanga tanah liat
memang kunantikan pertemuan
agar jalinan kian bersahabat (Didiek MS)

tanah liat kuning warnanya
menanak nasi dengan belanga
indahnya tawaran dari pak Driya
persahabatan kita tetap terjaga (RD Kedum)

pantun di atas memanglah wangi
menanak ketan dalam kuwali
pantun di atas pantun berbini
nak makan ketan jauh sekali (Kokinos Te)

ketan putih tentulah wangi
meski ditanak dalam kuali
tak ade maksud pantun berbini
yang ade pantun persahabatan sejati (RD Kedum)

kemane ketan dibawa pergi
tadi kuali betanak nasi
kemane pantun sahabat sejati
tadi dimulekan niat bebini (Kokinos Te)

Nasi putih telah ditanak
Untuk makan siang ini
Tepiskan saje duhai sanak
Tentang segale bebini laki (RD Kedum)

Betanak nasi di siang hari
coba dicium wangi perigi
bepantun kite mari kemari
oi akak kedum, mulekan lagi (Kokinos Te)

setiap hari langit tersenyum
terang pelangi lepas hujan
kapanlah lagi, akak kedum
mari bepantun kite mulekan (Kokinos Te)

Hujan pagi terase dingin
pelangi hendak muncul di langit
bepantun besame sangat kuingin
jadi ubat rindu menyakit (RD Kedum)

serase dingin di tepi bukit
pergi keluar mencari api
kalau rindu dirase sakit
pergilah bertemu pujaan hati (Kokinos Te)

rindu menyakit aku tak mau
kerna hati terjerat cinta
hanya adinda yang kumau
tempat berlabuh ini rasa (Didiek MS)

ade cicak menatap surya
merayap dinding tinggi sekali
kenapelah pulak oi pak driya
mengintip jempol sedari tadi (RD Kedum)

rindu setia menatap asa
manalah tahu dinda pun rasa
saye kira apak mengintip saja
ternyata, ada cinta membahana (Kokinos Te)

Hujan lebat menutup purnama
Tak ade bintang yang berkedip
Ade ape dik Gun dengan pak Driya
Kak Kedumpun ikut mengintip (RD Kedum)

Sri Sudariati duduk termenung
Menunggu kue putu lewat
Janganlah dulu dinda menyanjung
Di sini tak ada orang yang hebat (RD Kedum)

Penulis yang terlibat : RD Kedum, Noeel G, Huta Baringin, Thamrin, Kokinos Te.

Bio data yang bisa kami cantumkan :

*) Didiek Soepardi MS

Lahir 01 Oktober 1957 dengan nama Driya Widiana MS. Didiek adalah nama kecilnya, sedang nama yang mengikuti dibelakangnya, masing-masing nama almarhum ayah dan kakeknya. Nama Didiek Soepardi MS dipakai sejak bergabung dengan komunitas sastra / teater Kumandang Sastra dan ikut siaran satra di RRI Semarang. Itu terjadi tahun 1975 hingga sekarang. Kumandang Sastra sendiri didirikan 29 Maret 1967, oleh Victor Roesdianto.

Dua tahun yang lalu, bersama Jessica Permatasari, mendirikan grup facebook Kumandang Sasatra. Melalui grup itu, dia dan Jessica bertujuan untuk melanjutkan cita-cita sang pendiri ( Victor Roesdianto / Kak Roes) Kumandang Sastra. Yaitu mengajak anak-anak muda untk mencintai karya sastra, khususnya puisi.

Dalam perjalanannya di dunia sastra,beberapa antologi puisi bersama sudah diluncurkannya. Diantaranya : 105 Penyair dalam kebangkitan sastra (2011) dan Jemari 7 Penyair (2012).
Dan yang terbaru dia bergabung dalam antologi Melati Senja (Januari 2013)

Nama fb : Driya Widiana MS (Didiek Soepardi MS)

*) RD Kedum mengaku bekerja sebagai pemulung,penggiat sastra dan teater di Lubuklinggau - Bengkulu. Ada beberapa buku sudah diterbitkan olehnya.
Alamt kontak : http://facebook.com/rd.kedum

*) Kokinos Te.
Sedang belajar di jurusan Tekhnik Industri di UNRIKA BATAM,KEPRI.Dari Baturaja, Sumatera Selatan, Indonesia. Lahir 08 September.

Alamat kontak : http://facebook.com/kokinos.te

*( Wrh/RIMA)