Seks dan Sapi: Kader PKS (AF) Booking Maharani Bisa Dijerat Pasal Perzinahan
Penulis :
2614    0

RIMANEWS-  Seks dan politik dagang sapi kader PKS rupanya meruak dalam skandal suap daging sapi. Tak hanya dijerat pasal penyuapan, Ahmad Fathanah, staf pribadi mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama seorang mahasiswa bernama Maharani, juga layak dijerat pasal perzinahan.

Penangkapan Ahmad Fathanah (AF), orang dekat Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq bersama seorang mahasiswi bernama Maharani di sebuah kamar Hotel Le Meridien dalam operasi tangkap tangan, dibenarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Dalam proses seperti itu, kami melihat, yang pertama ditangkap siapa, yaitu AFH. Ketika kami gerebek kamarnya, ia bersama seorang wanita. Kemudian kami lihat ada uang. Setelah uang itu, kami sudah tahu urut-urutannya," ujar Wakil Ketua Pimpinan KPK Bambang Widjojanto di kantornya, Jakarta, Kamis (31/1/2013).

Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai, penangkapan itu adalah fakta adanya dugaan gratifikasi seksual. Meskipun, pembuktiannya harus melewati proses hukum, dan perlu dipertanyakan mengapa mahasiswi ada di situ.

"Ini ditujukan ke AF, bukan LHI," ucap Hamdi.

KPK, lanjutnya, memiliki cara pembuktian AF disogok melalui wanita. Ia menuturkan, cara itu juga memperlihatkan bahwa korupsi politik memiliki berbagai modus.

"Ini sesuatu yang menjangkiti semua partai," imbuhnya.

maharani_ok2.jpg

 

laman Tribunnews.com melaporkan, Maharani atau akrab disapa Rani adalah mahasiswi dari kampus swasta di bilangan Jakarta Selatan. Sementara, Ahmad adalah anak seorang tokoh Islam terkemuka di Sulawesi Selatan (Sulsel), yakni Fadeli Luran. Ahmad dan Maharani memasuki hotel sekitar Selasa (29/1/2013) sore, namun baru ditangkap Tim KPK pukul 20.00 WIB, saat keluar hotel.

Sebelumnya, penyidik KPK menguntit keduanya selama di hotel. Awalnya, penyidik KPK menduga Luthfi akan datang menemui Ahmad di hotel yang dimaksud. Saat penangkapan Ahmad dan Maharani, tim buru sergap KPK juga mengamankan uang senilai Rp 1 miliar.

Uang 'suap' berasal dari Direktur PT Indoguna Utama, Juard Effendi, dan Arya Abdi Effendi. Namun, saat dihitung, uang pecahan Rp 100 ribu hanya berjumlah Rp 990 juta. Sedangkan 10 juta sisanya ada di tas Maharani.


Sebagaimana diketahui, Ahmad memiliki istri yang sah. Terkait hal ini anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari mendesak pihak terkait untuk juga memproses kasus ini secara pidana.
 
"Jerat saja delik susila, berkaitan langsung dengan pelaku yang terlibat langsung dalam transaksi seks," kata politikus PDI Perjuangan saat dihubungi Okezone di Jakarta, Jumat (1/2/2013).
 
Menurut Eva, pihak penegak hukum tidak perlu ragu menjerat oknum yang menggunakan jasa mahasiswi sebuah kampus swasta tersebut. Sebab, payung hukum untuk menindak pelaku itu sangat jelas.
 
"Sama dengan argumen melakukan gropyokan PSK-PSK di jalanan atau di motel-motel. Sudah ada sistem hukumnya, lakukan seperti yang sudah selama ini dilakukan," sambung Eva.
 
Namun Eva menegaskan, hal itu bukanlah termasuk dalam kategori gratifikasi seks. Sebab, perempuan itu mendapatkan imbalan uang dari pelaku, bukan dari ditujukan untuk menyuap seseorang.
 
"Kalau asas pidana ya pelaku transaksi seks yang harus tanggung jawab. Sudah ada peristiwanya, locus delikti jelas. Pakai asas pemidanaan tersebut sehingga tidak menimbulkan gaduh," tutup Eva.

Mahasiswi

]Identitas mahasiswi bernama Maharani, 19 tahun, yang sempat dibawa KPK saat melakukan penangkapan masih menjadi misteri. Maharani akhirnya dilepaskan karena tidak cukup bukti terlibat dalam kasus yang menyeret nama Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq.

Informasi awal menyebut Maharani merupakan mahasiswi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Jakarta, Kamis (31/1/2013). Liputan6.com mencoba menelusuri ke kampus yang berada di kawasan Senayan itu.

Dari sekretariat kampus terlihat memang terdapat nama Maharani. Nama Maharani, fakultas, dan angkatannya itu terlihat dalam sebuah daftar data diri di sekretariat kampus.

Tapi apakah itu Maharani yang dimaksud? Saat dikonfirmasi, Wakil Dekan III Fikom Prasetya Yoga Santoso tidak membantah dan membenarkan. Prasetya tidak tahu dan tidak hafal nama Maharani.

"Saya lagi di luar kota. Kalau soal betul atau tidaknya Maharani mahasiswa Fikom, saya belum tahu," kata Prasetya saat berbincang dengan Liputan6.com.

Informasi yang diperoleh Liputan6.com, Humas Fikom Moestopo, Muminto Arif sempat mendatangi KPK semalam. Muminta disebutkan sedang mencari tahu kabar kebenaran mahasiswanya turut dibekuk KPK.

Tetapi saat dikonfirmasi, Muminto membantah mendatangi KPK semalam. "Wah, tidak ke KPK tuh mas. Saya juga masih mencari tahu bahwa Maharani itu mahasiswi kami atau bukan," kata Muminto saat berbincang dengan Liputan6.com.

Seperti diketahui, Maharani sempat dibekuk KPK saat melakukan tangkap tangan terhadap Ahmad Fathanah, pria yang disebut utusan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Barang bukti KPK hampir mencapa Rp 1 miliar. Luthfi yang juga anggota Komisi I DPR menjadi tersangka dalam kasus dugaan suap ini.vAhmad Fathanah, lelaki yang disebut-sebut sebagai staf Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq, bukan kader PKS. Mantan Presiden PKS, Tifatul Sembiring, menyampaikan hal tersebut ketika ditemui Tempo usai mengisi diskusi Perhimpunan Keluarga Besar PII di Jakarta, Kamis, 31 Januari 2013.

Menurut Tifatul, Fathanah tidak pernah aktif di PKS. “Dia memang dekat dengan Luthfi Hasan karena sama-sama pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo,” kata Tifatul. “Tapi dia bukan kader PKS.” Benarkah? Media massa melaporkan AF kader PKS.

KPK menangkap tersangka penerima suap AF, yang diduga Ahmad Fathanah, saat sedang keluar dari lift hotel Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa, 29 Januari 2013 sekitar pukul 20.20. Dari jok mobil Ahmad, KPK menyita Rp 980 juta, sejumlah dokumen, dan dua buku tabungan.

KPK juga telah menetapkan LHI, yang diduga Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden PKS; JE yang diduga Juard Effendi, Direktur Utama PT Indoguna Utama (perusahaan importir daging); dan AAE, diduga Arya Abdi Effendy, Direktur PT Indoguna Utama. Luthfi akhirnya mengundurkan diri sebagai petinggi partai.

“Saya heran kenapa Presiden PKS yang dijadikan tersangka, padahal yang menerima duit suap itu Ahmad Fathanah. Luthfi Hasan hanya dijanjikan, tapi tak pernah menerima duitnya,” kata Tifatul. Mana ada maling yang ngaku?

Dugaan adanya suap dalam bentuk lain berupa layanan seks dalam kasus suap impor daging sapi dibantah petinggi KPK. Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, menegaskan bahwa KPK juga tidak akan mengembangkan kasus ini ke arah itu.

"Jangan dikembangkan dulu lah. Bahwa kami ini mempunyai informasi, ya cuma informasi. Dan pasti akan dipakai secara proporsional untuk kepentingan orang yang sekarang sedang diperiksa," kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto di kantornya, Kamis, 31 Januari 2013.

Sebagaimana ramai diberitakan bahwa Ahmad Fathanah ditangkap penyidik KPK di sebuah hotel di Jakarta. Dia ditangkap bersama seorang wanita berinisial MR yang mengaku sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Ahmad diduga sebagai orang dekat Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq.

Penyidik KPK menangkap keduanya setelah turun dari kamar hotel di lift saat menuju basement. Penyidik mengamankan barang bukti berupa uang Rp1 miliar di jok belakang mobil Ahmad. Para penyidik KPK menduga bahwa uang yang diterima Ahmad dari PT Indoguna merupakan bagian dari komitmen fee yang akan diserahkan ke Luthfi Hasan Ishaaq, Anggota Komisi I dari fraksi PKS.

"Jadi kita juga harus menjaga sesuatu yang tidak perlu atau belum perlu dibuka-buka. Supaya kemudian fokusnya tetap jelas, jangan kemana-mana. Saya yakin teman-teman paham," ungkap pria yang akrab disapa BW itu.

Sumber VIVAnews juga membantah ada suap seks dalam kasus impor daging ini. "Tidak ada. MR itu orang lepas yang kebetulan bertemu di lokasi penggerebekan Selasa sore," kata sumber. Kesimpulan itu, kata sumber tersebut, didapat dari pemeriksaan penyidik. "Sejak awal rangkaian kasus ini, MR tidak ada. Dia baru muncul hari itu," jelasnya. (Ism)