Impor Daging Dibatasi, Sapi Perah Jadi Sasaran
Penulis :
Penyunting :
839    0

Dokumentasi Rima

RIMANEWS-Pembatasan pasokan impor daging sapi di sejumlah daerah khususnya di wilayah Kabupaten Bandung. Mengancam populasi sapi perah menjadi sasaran untuk dipotong. Akibatnya, produksi susu sapi di Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan mengalami penurunan 23 persen.

"Iya, hal ini terjadi sejak dibatasinya keran impor daging ke wilayah Kabupaten Bandung. Sehingga populasi sapi perah menurun hingga 23 persen karena di potong," ujar Sekretaris KPBS Pangalengan, Adang Shalahuddin, Minggu (27/1)

Adang mengatakan, penurunan populasi sapi perah terjadi dalam kurun waktu satu tahun. Populasi sapi saat ini sekitar 17 ribu ekor, menurun lima ribu ekor dari jumlah populasi 22 ribu ekor.

"Jumlah tersebut, total dari keseluruhan sapi mulai dari anakan hingga yang sudah di perah. Sedangkan, khusus sapi perah yang sudah produksi menurun jumlahnya dari 12 ribu menjadi 10 ribu," jelasnya.

Selain itu, Adang menjelaskan, banyak bandar sapi yang mencari sapi perah untuk dikonsumsi daging di Kabupaten Bandung. Para peternak tergiur dengan harga yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga biasanya atau harga normal penjualan sapi potong.

"Harga sapi normal Rp10 juta. Namun, para bandar ini membeli dengan harga jual hingga Rp13 juta per sapi. Apalagi pada saat bulan puasa lalu, banyak peternak yang akhirnya menjual. Hal tersebut, hingga saat ini pun masih terjadi," ungkapnya.

Akibat transaksi penjualan sapi perah tersebut, lanjut Adang, saat ini produksi susu KPBS Pangalengan mengalami penurunan. Penurunan dari rata-rata setiap hari sekitar 125 ton menjadi 100 ton. Padahal pada tahun lalu produksi susu di KPBS bisa mencapai 140 ton per hari.

"Produksi mengalami penurunan sejak bulan puasa lalu dan ini jelas merusak sistem yang ada di KPBS. Bagi saya, tahun ini adalah masa-masa tersulit bagi KPBS," ucapnya.

Selain itu, sambung Adang, produksi susu menurun juga akibat harga pakan ternak yang mengalami kenaikan. Pakan ternak berupa konsentrat yang mengandung protein mengalami kenaikan dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.000 per kilogram.

"Keuntungan para peternak jelas berkurang. Akibatnya, banyak para peternak tergiur untuk menjual sapinya ke bandar. Padahal harga konsentrat yang dijual KPBS itu terbilang masih murah dibandingkan dengan koperasi lain di wilayah Jawa Barat," katanya.

Untuk menangani masalah tersebut, KPBS berupaya mengurangi biaya produksi, dengan cara merelokasi pabrik pakan dari Cirebon ke Pangalengan. Selain itu, KPBS akan menambah produk turunan susu dengan membuat pabrik olahan seperti mentega, keju, dan yoghurt.

"Iya, tahun ini kami akan dimulai rencana tersebut. Untuk pabrik olahan rencananya mulai Februari, sedangkan untuk pabrik pakan sekitar April mendatang. Kami juga melakukan pengawasan dan sosialisai kepada para peternak," tuturnya.[ach/jpnn]