Thursday, 24 April 2014

Breaking News

Sang Flamboyan Aceng Menganut Ilmu Hitam?

RIMANEWS -- Setelah acara islah antara Bupati Garut, Aceng Fikri dengan Fany Octora, gadis yang dinikahi 4 hari lalu dicerai lewat SMS (5 /12), saya kira gonjang-ganjing pun mereda dan selesai. Konon aceng sudah memenuhi semua janjinya pada keluarga fany, dan sudah ada janji perdamaian diantara keduanya .

Tapi tak dinyana tadi sekitar  jam 16.00 setelah acara 100 % Ampuh di Global TV (6/12), ada ceritera lanjutannya – lebih mengejutkan dan bikin orang makin tambah muak. Konon, seorang bapak bernama Bambang Kusbayono, bercerita jika anaknya, Shinta juga pernah dinikahi oleh bupati aceng tanggal 13 Maret 2011, dalam tempo 2 bulan lalu dicerai lewat SMS, sebelum janji-janji sang bupati diselesaikan. Aceng berjanji akan memberikan rumah, meng-haji-kan keluarga Shinta, dsb-nya. Diperlihatkan ada surat nikah, foto-foto dan kesaksian beberapa orang yang melihat acara pernikahan itu, jadi mau tidak mau pemirsa akan percaya.

Konon kabarnya, Aceng juga mendalami suatu ilmu hitam ? Bahwa untuk melanggengkan kekuasaannya, dia harus bisa mendapatkan 8 perawan ting-ting untuk dinikahinya. Bahkan kalau bisa ayu thing-thing pun di-embatnya.... he..he..he......
Untuk meyakinkan para korbannya, dia berjanji memberikan rumah, meng-haji-kan keluarganya, dan memberikan mobil, dsbnya. Tapi rupanya janji itu cuma di bibir saja, setelah berhasil menikahi sekian lama, dia mulai bikin alasan untuk menghindar dan mencari korban baru. Konon sudah banyak yang jadi korbannya dan itu bisa diselidiki sendiri di Garut –  katanya pernikahan itu selalu disertai dengan acara seremonial jadi wajarlah kalau banyak yang tahu.

Belum reda dengan skandal seks-nya, rupanya ada masalah lain, yaitu kasus penggantian Dicky Chandra (DC). Siapa yang mau menduduki posisi wakil bupati dipersilahkan asal ada ‘upetinya’. Dan akhirnya seorang yang bernama Asep bersedia dan diharuskan membayar Rp 1,4 milyar untuk bisa mengganti kedudukan DC sebagai wakil Bupati.
Tapi Pak Asep baru bisa mbayar Rp 250 juta saja, nanti kalau sudah jadi wabup akan dilunasi. Dan alhasil sampai sekarang janji itu tak pernah ditepati, duit juga tidak kembali dan akhirnya Asep pun melapor ke polisi.

Tampaknya aksi ‘koboy aceng’ ini banyak menyimpan segudang masalah. Jadi wajar saja jika banyak yang menghendaki dirinya untuk mengundurkan diri daripada nanti dipaksa turun oleh rakyatnya sendiri.  Dan ternyata kubu aceng pun gak kalah taktis yakni mengadakan aksi demo tandingan untuk menghadang aksi demo aspirasi rakyat - untuk menunjukkan pada publik bahwa aceng masih didukung sebagian ‘rakyat’ Garut.

Di sisi lain terlihat para pejabat atasannya juga sudah pada gerah - dari Gubernur Jabar, Mendagri bahkan Presiden SBY pun juga memberi pernyataan bahwa norma dan tata krama harus tetap ditegakkan oleh para pemimpin di negara ini. DPP Golkar pun sudah menyerukan agar aceng mengundurkan diri dari jabatannnya sebagai bupati Garut.

Lalu bagaimana nasib bupati aceng selanjutnya ? Mari kita lihat bersama bagaimana pemerintah negara ini menyelesaikan kasus ini – setidaknya itu akan menunjukkan bagaimana kualitas pemerintahan SBY sekarang ini.

Tiba-tiba ketika saya sedang  menulis artikel ini terdengar lantunan lagu Dessy Ratnasari ‘Tenda Biru’ tapi liriknya sudah dimodifikasi oleh Mat Peci, teman ronda malam – yang lewat jalan samping jendela rumahku.

“...’acengaja lewat depan rumahmu..... kumelihat kemilau dipahamu...... tak kuasa diriku menahannya..... imanku kuat tapi ‘imron’ berontak........”

" Gundulmu mlothas, Mat...... gak usah nyindir-nyindir.....!"  umpatku dari dalam kamar.

[ mrhill / rims / S2 / kmps ]