Sunday, 13 July 2014

Cari

Breaking News

Hatta akan Bicara Era Baru Nasionalisme Ekonomi Indonesia di ITB

JAKARTA, RIMANEWS - Alumni Teknik Perminyakan ITB tahun 1973, Hatta Rajasa bakal menjadi pembicara kunci dalam Sarasehan Kebangsaan bertema ’Menuju Era Baru Nasionalisme Ekonomi Indonesia’ yang digelar di ITB pada Sabtu (24/11/2012), sehari penuh dari pagi hingga malam, khusus membahas kedaulatan dan kemandirian ekonomi bangsa.
 
Menurut Anggota Dewan Pengarah Ikatan Alumni ITB Pusat, Syahganda Nainggolan, Hatta Rajasa akan menyampaikan pemikirannya di hadapan publik dan mendengarkan serta menyimak pendapat para ahli mengenai kedaulatan dan kemandirian ekonomi bangsa.

Pada sarasehan yang akan dibuka oleh Rektor ITB Prof Dr Akhmaloka itu, Hatta Rajasa menjadi keynote speaker dengan membawa pokok bahasan bertajuk ’Nasionalisme dan Pembangunan Berkualitas’.

Selain menjadi pembicara kunci, jelasnya, Hatta Rajasa juga akan terlibat dalam rangkaian diskusi dan perumusan rekomendasi selama sehari penuh atas berbagai tema yang dibahas dalam sarasehan kebangsaan itu.

Sarasehan itu bakal diikuti oleh 400 peserta terdiri pimpinan daerah atau kepala daerah provinsi dan kabupatan/kota, pemuka agama, pemangku adat masyarakat lokal, pengusaha, budayawan, aktivis LSM, perguruan tinggi, perwakilan ormas, media massa, termasuk unsur politisi tingkat nasional.

Pelaksanaan sarasehan dibagi ke dalam enam tema kebangkitan era baru nasionalisme Indonesia yakni pembangunan agroindustri menuju kemandirian pangan; skenario membangun kemandirian energi nasional; konektivitas nasional menuju ekonomi berdaya saing; skenario kebijakan moneter dan fiskal dalam mendorong sektor riil dan keuangan menuju ekonomi nasional yang kuat; peningkatan kesejahteraan sosial berbasis "people centered development"; serta membangun tata kelola pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.

Keenam tema itu dibahas para panelis dengan melibatkan peserta sarasehan sesuai minat dan keahliannya, selanjutnya diskusi yang dikemas dalam mekanisme grup atau komisi itu diharapkan berkembang secara dinamis, sekaligus produktif dalam menghasilkan berbagai kesimpulan maupun rekomendasi.

Pada pembahasan bertema “Pembangunan Agroindustri Menuju Kemandirian Pangan” akan menampilkan pembicara yakni Dr. Ir. Nunung Nuryartono, MS  (Kepala Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi IPB), Didi Novrian     (Direktur Pendayagunaan Studi-Studi Agraria), Barnabas Suebu (mantan Gubernur Papua), Prof. Dr. Ir. Musa Hubeis (Ketua Program Studi Industri Kecil Menengah Sekolah Pascasarjana IPB) dengan lingkup pembahasan  kemandirian pangan, kelestarian hutan, kearifan masyarakat, inovasi dan teknologi pangan, pengembangan ekonomi daerah, pasar pangan dunia, nilai tukar petani, dan kesejahteraan petani.

Pada pembahasan bertema "Skenario Membangun Kemandirian Energi Nasional" akan membahas penguasaan sumber daya energi nasional, pengadaan dan pemanfaatan energi, diversifikasi energi (pengembangan energi terbarukan), penghematan energi, dan pengembangan teknologi dan inovasi di didang energi, dengan menampilkan sejumlah pembicara, Ir. Marwan Batubara, MSc (Direktur IRESS), Tri Mumpuni (Praktisi Mikrohidro), Supramu Santosa     (Direktur PT. Supreme Energy), Dr. Ir. Andang Bachtiar, MSc (Ketua Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia), dan Hanung Budya Yuktyanta (Direktur Pemasaran dan Bisnis Pertamina)

Untuk tema "Konektivitas Nasional Menuju Ekonomi Berdaya Saing" dengan pokok bahasan peningkatan peringkat infrastruktur nasional, peningkatan kapabilitas infrastruktur nasional, ketidakseimbangan geografis dan redistribusi industri, dan alternatif kebijakan ekonomi maritim, akan menampilkan pembicara     Ir. Bambang Susantono, MSCE, MCP, PhD (Wakil Menteri Perhubungan), Carmelia Hartoto (Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pelayaran Indonesia INSA),
Ir. Harris Fabillah (Direktur Eksekutif Indonesian Railways Institute), Emirsyah Satar (Direktur Utama Garuda Indonesia), dan Prof Dr Ir Senator Nur Bahagia (Guru Besar Teknik Industri ITB).

Untuk tema "Skenario Kebijakan Moneter dan Fiskal yang Mendorong Sektor Riil dan Keuangan Menuju Ekonomi Nasional yang Kuat"  menampilkan pembicara Sofyan Basir (Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia), Dr. Ir Perdana Wahyu Santosa, MM (Direktur Riset Ekonomi dan Keuangan SMC), Ir. Nurhaida, MBA (Anggota Dewan Komisioner OJK),     Dr. Aries Mufti (Ketua Dewan Pakar Ekonomi Syariah Indonesia), Dr. Purbaya Yudhi Sadewa (Kepala Ekonomi Danareksa Research Institute), dan Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, MA     (Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional) dengan pokok bahasan peran otoritas jasa keuangan, suku bunga perbankan, aset pasar keuangan,  permodalan sektor riil, kestabilan moneter, jaring pengaman sistem keuangan, kepemilikan perbankan nasional, dan arah investasi dan penanaman modal.

Pada pembahasan bertema "Peningkatan Kesejahteraan Sosial berbasis People Centered Development" dengan pokok bahasan pertumbuhan ekonomi berkualitas dan berkeadilan, pengembangan dan peningkatan akses pendidikan dan kesehatan, kesejahteraan sosial-ekonomi dan sosial-politik, jaminan sosial, dan keadilan penguasaan aset, dengan menampilkan pembicara Dr. Ninasapti Triaswati S.E., M.Sc (Anggota Komtek Sosial Kemanusiaan Dewan Riset Nasional), Prof Dr Armida S. Alisjahbana SE MA (Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas), Prof Dr Bambang Shergi Laksmono M.Sc     (Dekan Fisip UI), dan Ninuk Mardiana Pambudi (Wakil Pemimpin Redaksi Kompas).

Sedangkan pada pembahasan keenam bertema "Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Lebih Memihak Kepada Kepentingan Rakyat" menampilkan pembicara Prof Dr Eko Prasojo (Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan  Reformasi Birokrasi), Ir H Amran Nur (Wali Kota Sawahlunto), Elnimo M. Husein Mohi, ST. MSi (Anggota DPD dari Gorontalo), dan Wahyu Muryadi     (Pemimpin Redaksi Tempo) dengan pokok bahasan reformasi birokrasi, sumber-sumber pemasukan pegawai negara, desentralisasi pemerintahan dan fiskal (desentralisasi yang terseleksi), dan komitmen politik pimpinan daerah pasca-Pilkada).

"Hasil rekomendasi ataupun kesimpulan masing-masing diskusi akan disampaikan kembali di hadapan peserta, yang juga sebagai masukan berharga untuk penyelenggara pemerintahan, dunia usaha, penggiat sosial kemasyarakatan, eksponen aspirasi kerakyatan, media massa, serta pihak-pihak tertentu yang berpentingan," ujarnya.

Ia juga menyebutkan setiap tema akan menjadi fokus pembahasan yang detil dan bercorak dialogis (interaktif) antara pembicara dengan peserta, sehingga mampu memperkaya materi diskusi guna mendapatkan hasil akhir yang bersifat komprehensif, kualitatif, namun bisa mudah dilaksanakan (aplikatif).

"Dengan demikian, tujuan utama sarasehan ini pun akan terpenuhi sebagai sebuah keniscayaan membangun nasionalisme ekonomi Indonesia baru, yang berorientasi pada semangat kemajuan bangsa, produktivitas nasional, serta pemberdayaan kehidupan sosial ekonomi rakyat baik kini maupun mendatang," kata Syahganda.[ian/psn]