Sunday, 13 July 2014

Cari

Breaking News

Jangan Lupa Memberi Makan Fakir Miskin

RIMANEWS - Islam sangat memperhatikan masalah memberi makan kepada orang lain, terutama terhadap fakir miskin. Dengan demikian salah satu tradisi baik dalam agama Islam adalah memberi makan orang lain. Sebagian umat Islam memberi makan orang lain secara massal terutama dalam berbagai peringatan hari besar Islam seperti Idul Qurban, bulan Ramadhan dan Asyura Imam Husein.

Al-Quran merupakan hidangan ruhani bagi manusia untuk meraih ketakwaan dan mencegah manusia dari kobaran api neraka. Al-Quran dan Hadis sangat menganjurkan memberi makan terhadap orang lain terutama orang-orang yang kelaparan. Terkait hal ini, Rasulullah bersabda, "Di surga ada tempat khusus yang terlihat dari dalam dan luar. Ruangan itu milik orang yang bertutur kata baik, memberi makan orang lain dan mendirikan shalat malam."

Sebaliknya, Quran mengecam orang yang tidak memberi makan orang lain dan melarang perbuatan itu dilakukan orang lain. Terkait hal ini  dalam surat al-Maa'un ayat 1-3 Allah Swt berfirman, "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. "

Memberi makan fakir miskin sejah dahulu kala merupakan perbuat baik yang sangat dianjurkan oleh para pemuka agama. Allah Swt dalam al-Quran menjelaskan kisah tentang pemberian makanan yang dilakukan Nabi Ibrahim terhadap para tamunya. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi itu telah ada sejak dahulu.

Al-Quran juga mengisahkan Nabi Ibrahim juga memberi makan para tamu yang tidak dikenalnya, dan melayani mereka dengan baik. Nabi Ibrahim adalah orang pertama yang memberi makan tamunya dengan daging kurban. Kemudian sejak zaman Nabi Muhammad Saw, kurban merupakan hal yang wajib bagi jemaah haji di hari Idul Adha. Demikian pula, setiap muslim pada hari kurban memotong hewan untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Selain itu Rasulullah juga menganjurkan untuk menghidangkanmakanan bagi para tamu. Imam Ahlul Bait juga termasuk para teladan dalam melayani tamu.

Suatu hari Imam Hasan dan Imam Husein, cucu Rasulullah Saw jatuh sakit. Ketika itu, Imam Ali, Sayidah Fatimah dan pembantunya Fiddhah bernazar akan berpuasa selama tiga hari jika Imam Hasan sembuh.

Kemudian setelah Imam Hasan dan Husein sembuh, Ahlul Bait bepuasa selama tiga hari. Namun ketika hendak berbuka, pada hari pertama makanan untuk berbuka itu diberikan kepada orang miskin. Pada hari kedua makan untuk berbuka diberikan kepada anak yatim. Pada hari ketiga makanan itu diberikan kepada tawanan. Allah Swt dalam surat al-Insaan menyinggung pengaruh berderma kepada orang lain. Ahlul Bait dengan baik menjadi teladan manusia dalam bertindak. Ahlul Bait memberikan makanannya demi mendapatkan ridha Allah.

Dalam surat al-Insaan ayat 11-14, Allah Swt berfirman, "Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang menusuk. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya."

Peristiwa pembebasan seorang tahanan karena melayani tamu pada periode Rasulullah Saw merupakan contoh lain dari urgensi perbuatan mulia ini. Di kisahkan setelah selesai usai perang, sejumlah tawanan non-Muslim mendatangi Rasulullah, ketika itu malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada beliau, "Wahai Muhammad ! Allah menyampaikan salam kepadamu, dan berfirman bahwa tahanan itu memberi makan kepada orang lain dan bersikap ramah terhadap tamu. Ia juga tegar dalam menghadapi berbagai cobaan."

Rasulullah kepada tahanan itu berkata, "Jibril menyampaikan berita mengenai dirimu dan aku akan membebaskanmu karena perbuatan muliamu kepada orang lain." Tawanan itu bertanya kepada Rasulullah, "Apakah perbuatan mulia itu juga berharga di hadapan Tuhamu ?" Rasulullah menjawab, "Benar!" Ketika itu, ia berkata, "Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, Asyhadu an la Ilaha Ilallah wa Anaka Rasulullah. "

Tawanan itu begitu gembira ketika menyaksikan perilaku manusiawinya mendapat ridha Allah. Mualaf itu berkata kepada Nabi Muhammad Saw, "Wahai Rasulullah, aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Kini, aku bertekad untuk berbuat lebih baik terhadap orang, dan orang-orang yang kesusahan bisa tertolong oleh hartaku."

Memberi makan orang lain merupakan motode yang efektif untuk mengurangi tingkat kelaparan masyarakat. Mengenyangkan orang-orang yatim, tanpa wali asuh dan kaum papa, memiliki pahala yang besar di sisi Allah Swt. Perbuatan mulia ini juga meningkatkan solidaritas sekaligus memperkokoh kerjasama serta mendekatkan hati.

Allah Swt dalam al-Quran menegaskan dampak positif memberi makan dari sisi sosial. Orang yang tidak bisa bekerja karena berbagai faktor sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhannya jelas membutuhkan bantuan orang lain. Kini, jika tetangga dan sesama manusia tidak memberikan perhatian terhadap dirinya termasuk memenuhi kebutuhan makan, maka ia akan terjangkit penyakit dan terancam kematian.

Dalam al-Quran, memberi makan fakir miskin dan yatim merupakan kewajiban orang-orang yang mampu. Dengan demikian, kebutuhan yang paling utama adalah pangan mereka.Tidak diragukan lagi, jika ajaran agama di dunia dijalankan dengan baik, maka kita tidak akan menyaksikan masalah besar bernama kemiskinan dan kelaparan global yang setiap tahun menelan korban jutaan orang.[irb/ian]