Monday, 14 July 2014

Cari

Breaking News

Menghadang Negara Gagal Ala Adhyaksa Dault

Apakah saat ini Indonesia memang Negara Gagal? Jika itu pertanyaan pertama yang muncul di benak Anda ketika membaca judul buku ini, jawaban penulis buku ini, Adhyaksa Dault, cukup jelas: “Tidak!” (Hal. 10). Atau lebih tepatnya mungkin “belum” - dengan catatan. Mengapa?

Karena secara terbuka ataupun diam-diam, secara massif ataupun hanya sekelompok orang, kesadaran pandangan tentang ketidakberesan pengelolaan negeri gemah ripah loh jinawi ini tampaknya sudah menjalar kemana-mana.

Pertanyaan yang sering muncul: Mengapa negara yang dikaruniai SDM dan SDA yang luar biasa ini tidak juga menunjukkan kemajuan dan kesejahteraan yang berarti layaknya negara-negara maju lain? Mengapa kemiskinan masih merajalela setelah 60 tahun lebih kita merdeka?

Ironisnya, kesadaran bahwa negeri bermasalah itu sering kali dianggap sebagai “rasa” yang subyektif dan sedikit. Barulah ketika sebuah lembaga dari Amerika Serikat bernama Fund For Peace (2012) mengeluarkan Indeks Negara Gagal (Failed State Index) baru-baru ini, “rasa” itu seperti semakin mendapatkan pembenarannya.

Fund For Peace menempatkan Indonesia sebagai negara “dalam bahaya” (in danger), pada peringkat 63 dari 178 negara. Turun satu tingkat dari tahun 2011. Sebaliknya, negara-negara tetangga, seperti Singapura (157), Malaysia (110), dan Thailand (84), menempati peringkat yang lebih bagus dari Indonesia. Kategori Indonesia saat ini: “Very High Warning”, peringatan bahaya yang sangat tinggi. Indonesialah satu-satunya negara G-20 yang masuk ketegori ini.

Pro-kontra pun terjadi. Ada yang menerima hasil riset itu sebagai pembenaran, ada yang menerimanya dengan catatan, tapi tidak sedikit yang menyikapinya secara defensif, sembari meragukan kredibilitas dan motif tersembunyi dari lembaga Fund For Peace itu.

Ada juga yang berkilah, yang dimaksud “negara gagal” adalah pemerintah yang tidak mampu memenuhi rasa aman dan kenyamanan warga, dan bukan bangsanya. Sebuah rezim pemerintahan di Indonesia boleh saja gagal, tapi NKRI tak akan pernah menjadi negara gagal.

Apapun definisi yang dipakai soal negara gagal, Adhyaksa sebenarnya hanya ingin menawarkan resep “ijtihad politik” agar negara ini tidak terjebak menjadi negara gagal beneran. Warning-nya sudah cukup banyak dan kasat mata. Sesuatu yang membuat mantan Menpora ini gelisah.

Sikap yang paling sehat, menurut Adhyaksa, mestinya menjadikan judgment “negara gagal” itu sebagai evaluasi konstruktif yang menguntungkan rakyat Indonesia, bukan sebaliknya. Sebab, kalau tidak benar-benar diwaspadai, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengikuti jejak negara-negara gagal yang sudah ada, seperti Somalia, Kongo, Sudan, Chad dan lain sebagainya.

Adhyaksa menegaskan di halaman Epilog bukunya bahwa kita tak perlu menolaknya secara defensif atau menerimanya secara inferior, melainkan kita harus mengolah riset soal negara gagal itu sebagai kesadaran untuk memperbaiki kenyataan (Hal. 322).

Tapi, kenyataan yang mana? Evaluasi seperti apa? Apa solusi yang ditawarkan buku terbitan ReneBook ini untuk menghadang Indonesia dari negara gagal?

Ada tiga faktor penting yang coba disampaikan Adhyaksa dalam buku ini. Pertama, isu kepemimpinan yang lemah. Inilah yang harus dievaluasi pertama kali. Tanpa pemimpin yang baik dan kuat mustahil negeri ini mencapai puncak kejayaannya. Namun begitu, pemimpin di sini bukan sekadar Bapak Presiden, tapi siapa saja yang diberi amanat untuk mengurus publik.

Faktor kedua, isu Pancasila. Menurut Adhyaksa, pemimipin yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang mampu meletakkan, mengembalikan dan menjaga Pancasila sebagai the sets of value negeri ini.  Sebab, harus diakui, Pancasila saat ini hanya berhenti pada kata-kata dan slogan yang tidak punya korelasi positif dengan kenyataan di lapangan.
 
Faktor ketiga, isu perubahan diri rakyat Indonesia. Untuk menghadang kegagalan suatu negara-bangsa, menurut Adhyaksa, tidak cukup hanya menuntut perubahan pada level kepemimpinan atau pemimpin. Rakyat pun harus melakukan evaluasi diri untuk berubah menjadi lebih baik.  Tanpa rakyat yang berubah, pemimpin yang dihasilkan pun kiranya tak jauh berbeda. 

Komperehensif dan mencerahkan untuk awam. Membaca buku ini kita seperti diajak memahami setiap elemen penting bagaimana sebuah negara seharusnya dioperasikan. Apa saja yang penting dalam sebuah bangunan negara; dan apa saja yang berbahaya bagi kelangsungan negara. Sebuah renungan anak bangsa yang layak diapresiasi.
____________________________________
Peresensi: Tata Septayuda Purnama, Peserta Program Doktor Religious Studies UIN Bandung

***

Judul buku: Menghadang Negara Gagal (Sebuah Ijtihad Politik)
Penulis: Dr. Adhyaksa Dault
Penerbit: ReneBook
Jenis Cover: Soft Cover
Jenis Kertas: Bookpaper  55 gram
Ukuran: 15,5 cm x  24 cm
Halaman: 350 hal
ISBN: 978-602-19153-5-6

SOURCE: beritasatu.com