Friday, 11 July 2014

Cari

Breaking News

Prabowo, Jokowi dan Prospek Pilpres 2014

 JAKARTA,RIMANEWS-Siti Zuhro PhD dari LIPI menilai Rizal Ramli merupakan salah satu aktor oposisi dan tokoh alternatif untuk pilpres 2014. Sementara Nehemia Lawalata, pengamat politik, menilai duet Prabowo-Rizal Ramli bisa tak terbendung dalam pilpres mendatang jika pemilu jurdil dan bersih. Dan  dengan kemenangan Jokowi-Ahok di pilkada DKI ,  yang secara moril mendapat dukungan Prabowo dan Rizal Ramli, mantan menko ekuin, semua itu berdampak pada pilpres ke depan secara imajis dan sosiologis.

Nama Joko Widodo dan Prabowo Subianto Djojohadikusumo melambung tinggi ke ruang politik publik . Kemenangan Jokowi  sebagai gubernur DKI Jakarta, telah mendorong reaksi dan respon para politisi terhadap Prabowo, yang dicurigai bakal menggunakan popularitas Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas  capres Gerindra tersebut. Bagaimana kemungkinannya?
 

Rasanya ganjil  jika Prabowo dicurigai mau memanfaatkan Jokowi untuk meraih suara pada pilpres 2014. Jarak politik itu masih jauh.

 

Dalam hal ini,  pangamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit  menyatakan bahwa, terlalu berlebihan bila Prabowo menjadikan Jokowi sebagai alat untuk mengangkat citra. "Jokowi tidak ada cacat, sementara Prabowo banyak cacat," tegas Arbi Sanit mengingatkan. Itu saja sudah berbeda.

 

Namun publik juga tahu bahwa  Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto lebih populer dibanding Joko Widodo yang terpilih sebagai gubernur DKI Jakarta versi hitungan cepat.

 

Namun demikian, Partai Demokrat mengaku tak gentar jika kemenangan Jokowi - Basuki akan berdampak positif bagi Prabowo Subianto (dan Megawati Soekarno Puteri ) sebagai tokoh pengusung kedua kandidat Cagub DKI Jakarta. "Jokowi itu akan menguntungkan PDIP dan Gerindra, namun kami tak gentar, biasa saja," ujar Ketua DPP Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana .

Kita tahu , kemenangan Jokowi tak otomatis mengangkat citra Prabowo (dan Megawati), kecuali secara simbolik dan itupun untuk sementara.

Dalam kaitan pilpres 2014, publik juga melihat,  masih banyak tokoh berkualitas yang bisa diusung sebagai tokoh nasional di 2014. Bahkan tokoh-tokoh itu tersebar di pemerintahan dan lembaga lainnya.

Sebagian elite politik menilai, kemenangan Jokowi-Basuki akan dimanfaatkan untuk meningkatkan popularitas Prabowo yang akan maju sebagai calon presiden 2014 mendatang.

Memang, pada satu sisi,  Prabowo rela mempertaruhkan nama dan popularitasnya untuk mengusung Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon gubernur Jakarta periode 2012-2017.  

Tapi pada sisi lain, mudah dibaca bahwa Prabowo melakukan ‘’testing the water’’ atas kans atau peluangnya pada pilpres ke depan, terutama untuk wilayah Jakarta, dengan menunjuk ‘’jagonya’’ yakni Jokowi-Ahok dalam pilkada DKI ini.

 

Menarik secara garis linier bahwa kemenangan Jokowi-Ahok akan menguntungkan Prabowo, tidaklah tepat. Sebab jika Jokowi- Ahok gagal dalam membangun DKI Jakarta yang bebas dari keruwetan birokrasi,  kemacetan dan banjir ke depan, maka taruhannya adalah citra dan kredibilitas Prabowo pula.

 

Dalam soal ruwetnya  birokrasi Jakarta, sekedar misal,  sejarawan JJ Rizal mengingatkan Jokowi-Ahok bahwa  birokrat di DKI Jakarta  sudah seperti 'mandor kawat', yakni kerja kendor korupsi kuat. ‘’Itu yang harus diperbaiki," kata Rizal menanggapi problem-problem Jakarta yang harus dihadapi Jokowi-Ahok. Jika Jokowi-Ahok gagal, maka  citra dan nama baik Prabowo dan Megawati bakal terjegal.

Kini yang penting adalah sejauh mana checks and balances dari civil society dan media atas kinerja Jokowi-Ahok di hari-hari mendatang. Jelas 100 hari pertama akan jadi barometer kemana visi-misi Jokowi-Ahok dalam membenahi carut-marut DKI, dari urusan birokrasi sampai kemacetan, kekumuhan dan banjir.

 

Dengan demikian, mengaitkan Jokowi dan Prabowo-Megawati pada pilpres 2014 , rasanya sulit dan  masih jauh  jarak politiknya. Sementara segala kemungkinan bisa terjadi dalam dinamika kehidupan politik dewasa ini.

Prabowo dan Jokowi sendiri sadar bahwa masyarakat kita adalah jenis masyarakat melodramatis, mellow society, yakni mudah tersentuh, mudah melupakan, mudah gumunan (terkagum) dan mudah mencampakkan.

 

Maka mengaitkan Prabowo-Jokowi menuju pilpres 2014, sungguh rumit dan tak terdefinisikan,   sungguh misteri situasi-kondisi  sosio-politik ke depan.

Mari lupakan dukungan dunia internasional terhadap Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden ke-7 Republik Indonesia. Sebab perkembangan baru menunjukkan pembicaraan tentang peluangnya untuk menjadi Presiden RI lewat Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014 dari hari ke hari terus menjadi topik pembicaraan yang hangat.

Sehingga tanpa dukungan dunia internasional, jika partai yang mengusung Prabowo sebagai capres, pendiri Partai Gerindra ini tetap berpeluang besar menjadi RI-1.

Banyak yang meyakini, bekas anak mantu Presiden ke-2 RI, Soeharto itu, memiliki peluang lebih besar dibanding kandidat lainnya. Kemenangan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada 2012 DKI, disebut-sebut sebagai salah satu referensi. Kemenangan pasangan yang didukung PDIP dan Gerindra itu antara lain ditengarai sebagai ditentukan oleh strategi "perang" ciptaan Prabowo.

Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI baru lalu, pasangan yang menang, hanya didukung oleh dua partai: PDI Perjuangan dan Gerindra. Dua partai ini mampu mengalahkan pasangan yang diusung koalisi partai-partai besar.

Dalam kemenangan itu, Prabowo sebagai pendiri Gerindra dilihat sebagai sosok yang berperan besar dalam menyusun strategi pemenangan Jokowi-Ahok. Peran itu berada dalam keputusannya memilih Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama dipasangkan dengan Jokowi.

Tanpa peran Prabowo, Ahok yang tadinya anggota DPR-RI mewakili Golkar, tidak akan mungkin "disulap" menjadi kader Garindra. Ahok bukan kader Gerindra dan Gerindra pun secara politik relatif kecil kekuatannya dibanding PDIP yang mencalonkan Jokowi.

Namun sekalipun kecil, Gerindra mampu meyakinkan PDIP dan berhasil. Sehingga tidak heran jika muncul anggapan, sekalipun kecil, calon Gerindra berhasil menjadi faktor penentu kemenangan dalam Pilkada DKI baru lalu.

Maka tidak heran, kemenangan pasangan Jokowi-Basuki tersebut ikut melambungkan popularitas Prabowo Subianto. Sebagai mantan Danjen Kopassus, sebuah korps berisikan militer terlatih, Prabowo diyakini menggunakan strategi perang dan infiltrasi dalam agenda politik Pilkada DKI.

Peran yang membuahkan kemenangan itu menghasilkan stempel tambahan bagi Prabowo sebagai kandidat kuat untuk merebut posisi Presiden di Pilpres 2014. Stempel ini melekat kepadanya mengingat Jakarta secara politik merupakan miniatur Indonesia. Sehingga sebagai penyusun strategi yang berhasil memenangkan Pilkada DKI ibukota NKRI, Prabowo diperhitungkan juga bisa berhasil menyusun strategi pemenangan Pilpres 2014.

Sebelum Pilkada 2012 pun, Prabowo sudah melakukan berbagai kegiatan agresif yang selalu bermuara ke pergantian kepemimpinan nasional. Kegiatan itu antara lain dengan membumikan dirinya kepada masyarakat luas melalui media sosial Facebook. Prabowo menjaring dukungan dari para pengguna media sosial yang berasal dari berbagai strata.

Caranya, secara teratur Prabowo menyapa para sahabatnya di jaringan dunia maya itu. Sapaannya menghasilkam interaksi. Hasilnya terjalin sambutan positif dari ratusan bahkan ribuan pengguna Facebook terhadap Prabowo sebagai kandidat Presiden.

Sambutan terdiri atas dua ketegori: yaitu acungan jempul ke atas dan komentar-komentar yang menggambarkan begitu 'fanatik'nya mereka terhadap Prabowo. Anak kandung begawan ekonomi, almarhum Sumitro Djojohadikusomo itu dilihat sebagai sebagai kandidat yang cocok menggantikan Presiden SBY.

Iklannya di televisi yang bertujuan mendukung pencalonan pasangan Jokowi-Ahok, tanpa disadari berangsur menjadi bagian dari komunikasi politik yang efektif. Yang menjadi pertanyaan, akankah keyakinan atas terpilihnya Prabowo selaku Presiden ke-7 RI, terwujud tanpa hambatan?

Sebelum tiba pada jawabannya, ada hal yang tidak bisa dihilangkan begitu saja, penyebab, mengapa nama Prabowo santer disebut-sebut sebagai salah seorang kandidat terkuat posisi presiden.

Pertama, pernyataan tentang keinginannya untuk menjadi Presiden RI, tidak melalui orang kedua, ketiga apalagi bersifat "katanya" ataupun malu-malu. Pernyataan itu dinyatakannya secara langsung. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi bertanya-tanya ataupun harus melakukan klarifikasi.

Pernyataan keinginan yang dia nyatakan secara langsung, menumbuhkan kepercayaan bahwa Prabowo merupakan seorang figur yang berbicara apa adanya dan bukan peragu. Sebuah sikap yang sangat bertolak belakang dengan gaya Presiden ke-6 Republik Indonesia, SBY.

Kedua, masyarakat yang sudah lelah bercampur kesal menghadapi pola kepemimpinan SBY, seakan mendapatkan sosok pengganti yang pas. Masyarakat melihat dalam diri Prabowo terdapat satu karakter positif yang sedang dicari dan diperlukan bangsa Indonesia. Yaitu berani mengambil keputusan.

Ketiga, Prabowo berhasil memanfaatkan emosi masyarakat yang merasa negara ini tengah mengalami kekosongan pemimpin yang bisa digantungi harapan. Iklan-iklan pribadinya baik dalam bentuk video maupun baliho mampu membangunkan semangat bangsa Indonesia yang di beberapa situasi mulai mengalami kemerosotan.

Jadi kalau mau disimpulkan sekalipun baru bersifat sementara, sambutan dan dukungan terhadap pencalonan Prabowo erat kaitannya dengan keberhasilannya dalam melakukan komunikasi politik.

Komunikasi politik itu menggiring dan mempengaruhi masyarakat bahwa Prabowo merupakan kandidat presiden yang memiliki visi dan misi yang jelas tentang bagaimana membagun Indonesia menjadi sebuah negara besar.

Isu korupsi termasuk hal yang disentuhnya dalam komunikasi politik tersebut. Dalam dinding Facebook-nya Prabowo misalnya menyebut sudah banyak kader dan pemimpin Partai Gerindra, yang dia tendang dari partai yang didirikannya empat tahun lalu itu.

Prabowo juga mengungkapkan setiap kader Gerindra yang melakukan tindakan merugikan rakyat, selalu mendapatkan hukuman berat. Untuk itu ia membuka kotak pengaduan di sebuah website khusus.

Dengan berjalannya komunikasi politik Prabowo dan terus mengalirnya dukungan terhadap pencalonannya, yang tinggal ditunggu adalah hasil perolehan suara Partai Gerindra dalam Pemilu Legilslatif April 2014.

Gerindra harus bisa meraih suara hingga 20%. Jadi di DPR-RI yang memiliki kursi dan anggotanya sebanyak 560, Partai Gerindra harus bisa meraih kursi sebanyak 112. Hanya dengan hasil tersebut, Prabowo Subianto dapat dicalonkan langsung sebagai kandidat presiden pada Pipres Juli 2014.

Jika gagal meraih suara sebanyak 20%, Prabowo harus berkoalisi dengan partai lain. Yang menjadi penghambat atas pencapresan Prabowo, apabila partai koalisinya pun menghendaki kadernya menjadi calon presiden.

Syarat ini bukan hanya berlaku bagi Prabowo tetapi untuk semua kandidat dan partai. Karena ketentuan dan persyaratan tersebut diatur melalui Undang-Undang. Persyaratan itu bisa berubah apabila DPR dan pemerintah sepakat melakukam perubahan atas UU Pemilihan Presiden.

Hanya saja dalam perubahan UU tersebut, peran Gerindra, tidak cukup kuat. Sebab Gerindra merupakan salah satu partai yang perolehan suaranya dalam Pemilu 2009, masih cukup kecil. Sehingga disinilah sebetulnya kendala terbesar yang menghadang Prabowo untuk menjadi RI-1.

Kata Kunci