Wednesday, 16 April 2014

Breaking News

Ada Kejanggalan Dalam Penyergapan Teroris Solo

JAKARTA, RIMANEWS-Terkait penangkapan terhadap orang-orang yang disebut teroris oleh polisi di Solo pada 31 Agustus lalu, Indonesia Police Watch (IPW) mencium tiga kejanggalan dalam penangkapan tersebut.

"Pertama, pistol yang disita dari tertuduh teroris yang terbunuh adalah Bareta dgn tulisan Property Philipines National Police. Padahal sebelumnya Kapolresta Solo Kombes Asdjima'in menyebutkan, senjata yang digunakan menembak polisi di pospam Lebaran jenis FN kaliber 99 mm. Pertanyaannya, apakah orang yg ditembak polisi itu benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran atau ada pihak lain sebagai pelakunya?" tulis Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam rilisnya, Minggu (2/9/2012).

Temuan kedua yakni anggota Densus 88 Bripda Suherman yang tewas akibat tertembak di bagian perut. Hal ini menunjukkan sebagai anggota Densus, dalam bertugas yang bersangkutan tidak sesuai dengan SOP yang harus memakai rompi anti peluru. "Pertanyaannya, apakah benar pada malam 31 Agustus itu ada operasi Densus, jika ada kenapa anggota Densus bisa teledor, bertugas tidak sesuai SOP?" Tambah Neta.

Ketiga, beberapa jam setelah penyergapan 31 Agustus, Presiden SBY memerintahkan Kapolri segera meninjau TKP. "Padahal dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi, bahkan saat tiga kali penyerangan terhadap Pospam Lebaran SBY tidak bersikap seperti itu. Pertanyaannya, apakah SBY ingin membangun citra dan menarik simpati publik dari peristiwa Solo yang sempat memojokkan Jokowi ini?" tegas Neta.

IPW menganalisa, meski Densus sudah melakukan penyergapan di Solo tapi teror dan penembakan terhadap polisi tetap menjadi ancaman. Sebab rasa kesal sebagai masyarakat terhadap polisi kian memuncak.

Catatan IPW, selama 5 bulan pertama 2012 saja ada 11 polisi yang dikeroyok masyarakat. "Untuk itu IPW mengimbau Polri agar mengubah sikap, perilaku dan kinerjanya. Anggotanya jangan arogan, represif, memeras dan memungli masyarakat. Tapi bekerja profesional dan proporsional," jelas Neta.

Polri Membantah

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Anang Iskandar menampik tiga kejanggalan yang disampaikan IPW. Pertama, penangkapan dua terduga teroris di Jalan Veteran, Solo, memang upaya penyergapan.

"Itu penyergapan, bukan operasi biasa. Tapi memang ada kegiatan khusus yang dilakukan oleh polisi dari tingkat Polres hingga Mabes Polri untuk mencari tersangka yang melakukan penembakan di pos polisi," kata Anang saat dihubungi detikcom, Minggu (2/9/2012).

Kejanggalan kedua yang disebut IPW terkait tertembaknya anggota Densus 88. IPW menilai ada ketidakberesan dalam standar operasional prosedur saat melakukan penyergapan hingga menyebabkan anggota Densus tewas tertembak.

"Memang terjadi baku tembak dengan Densus. Soal kelengkapan, pasti sesuai dengan standar yang mereka miliki saat bertugas," terang Anang.

Polri juga membantah kejanggalan ketiga menyangkut perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo untuk meninjau lokasi baku tembak sehari setelah penyergapan.

IPW menyebut Presiden SBY tengah menggalang pencitraan dibalik serangkaian teror di Solo.

"Begitu ada anak buah gugur ketika melaksanakan tugas, siapapun pemimpinnya, pasti memberikan penghormatan, pasti pemimpin datang melihat anak buahnya," kata Anang.[Ach/Detik/Tribun]