Orangutan adalah salah satu satwa khas Indonesia yang keberadaanya mulai langka, bahkan hampir punah. Dari beberapa riset ditemukan, ternyata di Indonesia terdapat banyak satwa langka yang belum tersentuh konservasi. Tak sedikit pula yag mengalami nasib tragis. Mereka dibunuh warga karena dianggap meresahkan, ditangkap, diperdagangkan secara ilegal, baik hidup-hidup maupun hanya diambil salah satu bagian tubuhnya (hal. 5).
Hal itulah yang menggerakkan volunteer-volunteer—baik dalam maupun luar negeri—untuk menyelamatkan satwa langka tersebut. Memang, dana yang dibutuhkan untuk mendapat lisensi atas lahan konsesi sebagai hutan lindung tidaklah sedikit. PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), misalnya, harus mengeluarkan biaya USD 1,4 Juta atau berkisar Rp.13 Miliar untuk mendapatkan lisensi atas lahan konsesi seluas 86.450 hektar di sebuah hutan di Kalimantan Timur.
Perhatian dan rasa peduli terhadap lingkungan dan keberlangsungan hidup orangutan-orangutan inilah yang coba diangkat Riawani Elyta dan Shabrina WS dalam novel Ping!: A Message From Borneo. Lewat tokoh Molly, Nicholas dan Andrea, penulis menggambarkan kepedulian anak muda terhadap keberlangsungan hidup orangutan yang mulai langka.
Nicholas dan Andrea yang seorang bule sengaja datang ke Kalimantan untuk melakukan riset sebagai bahan skripsi. Mereka yang dilahirkan dari keluarga peniliti juga tertarik melakukan hal yang sama. Ayah Nicholas yang berprofesi sebagai ilmuwan dan peneliti juga pernah ambil bagian dalam konservasi penyelamatan terumbu karang di lautan Sulawesi dan misi penyelamatan orangutan di Kalimantan. Ayahnya inilah yang mempromosikan pada Nicholas bahwa Indonesia adalah salah satu tempat paling eksotis di muka bumi yang menyimpan “harta karun” beragam jenis hewan langka (hal. 5).
Sementara Molly, yang memang penyuka binatang, merasa mimpinya untuk mengunjungi binatang-binatang langka yang selama ini hanya dilihatnya di dunia maya akan menjadi nyata saat Nicholas mengajaknya serta dalam penilitian. Molly, diam-diam juga melakukan riset untuk bahan tulisan kreatif yang digarapnya.
Dalam penelitiannya, ketiga orang sahabat itu menemukan banyak kejanggalan yang terjadi. Dari beberapa orang petugas yang menjadi pemandu mereka selama di hutan, mereka mendapat laporan bahwa telah terjadi banyak kebakaran hutan yang mengakibatkan orangutan-orangutan terbunuh. Atau, memang ada oknum yang sengaja membakar hutan untuk peluasan lahan kebun sawit.
Di hutan konservasi itu mereka juga menemui beberapa orangutan yang tingkahnya tidak jauh beda dengan anak manusia. Mereka bermain, belajar membuat sarang untuk tempat berlindung, atau, belajar mencari makan sendiri.
Di antara beberapa orangutan yang mereka temui, ada satu anak orangutan jantan yang menarik perhatian mereka—terutama Molly. Molly melihat anak orangutan bernama Karro itu tidak seperti kawan-kawannya. Karro lebih banyak menyendiri, tidak mau bergaul dengan yang lainnya. Menurut dokter yang menangani Karro, anak orangutan itu mengalami depresi oleh sebuah peristiwa yang mungkin masih melekat dalam ingatannya. Bahkan, melihat buah pisang saja orangutan itu seperti ketakutan (hal. 58-59).
Kolaborasi dua penulis ini memadukan antara fiksi realis dengan fabel yang membuat pembaca terharu sekaligus tersentuh untuk berbuat sesuatu demi keberlangsungan hidup orangutan. Membaca kisah Ping—tokoh orangutan yang pada kemudian hari diberi nama Karro oleh para petugas—pembaca akan melihat dan merasakan bahwa ada sisi sifat manusia yang ada pada orangutan. Mereka juga bersedih ketika berpisah dengan induknya, merasakan sakit ketika mereka dilukai atau ditembak, bahkan, depresi saat menyaksikan sebuah peristiwa menyedihkan. Seperti ketika induk Ping ditembak, lalu dikubur oleh para pemburu liar (hal. 16-17).
Membaca novel Ping! yang keluar sebagai Juara I Lomba Novel Bentang Belia 2012 ini, pembaca setidaknya merasa peduli terhadap keberlangsungan hidup orangutan di hutan Kalimantan serta hutan-hutan lain seperti Sumatra atau Sulawesi.
Lewat kepedulian dan perhatian tokoh Molly, Nicholas, Andrea dan beberapa volunteer lain dalam penyelamatan orangutan, penulis ingin mengajak pembaca untuk mencegah aksi pemusnahan orangutan, atau perdagangan ilegal yang membuat habitat orangutan semakin berkurang. Sekaligus ingin menyuarakan pada orang-orang yang selama ini hanya “berkoar-koar” di dunia maya untuk lebih bertindak nyata, turun langsung ke lapangan untuk melindungi orangutan-orangutan dari aksi manusia yang tidak bertanggungjawab. (*)
______________________________________
Peresensi : Untung Wahyudi, Penggemar buku, tinggal di Sumenep
Judul Buku : Ping!: A Message From Borneo
Penulis : Riawani Elyta & Shabrina W.S.
Penerbit : Bentang Belia
Cetakan : Pertama, Maret 2012
Tebal : x + 142 Halaman