Pergulatan dalam pemikir Islam memang menarik. Kita kenal pemikiran yang penuh kontroversial mulai dari Ahmad Wahib, Nurcholis Majid, Abdurrahman Wahid, dan baru-baru ini Ulil Absor Abdala. Salahsatu pemikir muda Indonesia yang kritis lulusan IAIN Walisongo Semarang adalahSumanto al-Qurtuby, termasuk salah satu nama dari deretan panjang pemikir kontroversial. Pemikir kelahiran Batang Jawa Tengah memiliki analisis kritis tentang Islam.
Sikap seorang muslim yang melakukan perbuatan bajik hanya semata-mata mengharap surga tuhan sama seperti pikiran ala pedagang. Dan mereka beribadat karena takut ancaman neraka adalah cara peribadatan budak. Mereka hanya akan bekerja jika disuruh dan seolah-olah selalu melaksanakan pekerjaan jikalau diperintah dan dibentak-bentak. Sedangkan orang-orang yang beribadat karena kesadaran diri, inilah yang namanya orang beragama secara merdeka.
Keberadaan Islam di tanah air yang kian hari bermunculanaliran-aliran yang menganggap bahwa hanya merekalah Islam yang benar. Mereka menilai kelompok di luar mereka adalah sesat dan patut untuk dimusnahkan. Pemikiran Islam yang tradisionalis-konserfatif dan puritan-fundamentalis berpikiran bahwa Islam merekalah adalah Islam yang otentik.Semua mengaku sebagai kelompok islam yang benar dan tepat padahal kita tahu bahwa kebenaran mutlak tergenggam dalam tangan Tuhan.
Buku “Islam Postliberal; Agama, Kebebasan, dan Kemanusiaan” karya Sumanto al-Qurtuby merupakan pemberontakan intelektual. Dimana kebebasan dan kemanusiaan adalah entitas yang tak dapat dipisahkan dan selaras dengan nafas Islam.Segala bentuk ajaran dalam agama sejalan dengan kemaslahatan manusia. Jikalau ada yang bertentangan maka kemaslahatan itulah yang dimenangkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya rukhsoh (kemudahan) dalam agama.
Sumanto memberi pencerahan tentang pemikiran Islam yang lebih bersifat memanusiakan manusia (toleransi-pluralis-humanis). Teks-teks keagamaan bukan menjadi titik akhir dari pembentukan manusia yang sempurna. Seorang muslim akan lebih bermanfaat manakala ia sudah melakukan kebajikan sosial, tidak sekedar pemuasan diri semisal pergi ke makkah, haji, shalat, i’tikaf di masjid dan sebagainya. Ibadah sosialis lebih bermakna karena cakupan hasil akan membentuk suatu keadaan tidak hanya dalam pribadi pelaku tetapi juga berpengaruh pada sekitarnya.
Muslim sejati akan menilai manusia layak sebagai manusia. Oleh karena itu ia lebih mementingkan masalah pengentasam kemiskinan, menyantuni anak terlantar, korupsi, dan hal sosial lainnya. Islam postliberal berorientasi pada seorang muslim yang lebih mementingkan humanisme sosial.Dan yang terbesar contohnya adalah tindakan korupsi yang menyengsarakan berjuta-juta jiwa.
Kenapa harus Postliberal? Apa bedanya dengan kelompok Islam lainnya seperti Islam Liberal, Islam Proressif, Islam Transformis, Islam Modernis, Islam Tradisionalis, Islam Fundamentalis, dan jenis Islam lainnya? Dengan tidak bermaksud mengadakan genre baru dalam kelompok Islam, Sumanto berasumsi bahwa Islam Postliberal menempatkan sifat universal kemanusiaan di atas segala-galanya di atas gagasan normatis keagamaan dan ketuhanan (hal. xviii).
Islam sebagai agama yang memanusiakan manusia akan lepas dari ikatan-ikatan normatif. Masalah kemanusiaan yang bertabrakan dengan tafsir keagamaan, maka wacana tersebut harus di-update atau bahkan dihapus. Hukum nasikh-mansukh dalam Islam akan terus dan masih berlaku sampai kapanpun.Selamat membaca dan berefleksi diri!.
_________________________________
Peresensi: Achmad Marzuki, Pegiat di Farabi Institute, Mahasiswa IAIN Waisongo Semarang
Judul buku : Islam Postliberal; Agama, Kebebasan, dan Kemanusiaan
Penulis : Sumanto al-Qurtuby
Penerbit : Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA)
ISBN : 978-979-15965-8-9
Terbit: I, Nopember 2011
Tebal : xxxiv + 330 halaman