Pidato SBY Bisa Jadi Blunder

JAKARTA, RIMANEWS-Wakil Ketua DPD Laode Ida menilai pidato kenegaraan Presiden SBY Kamis siang (16/8) layak diapresiasi. Jernih, brilian, dan cemerlang. Tapi, awas! Pidato itu di sisi lain bisa juga menjadi bumerang atau bahkan blunder.

"Terus terang, kami memiliki kekhawatiran yang luar biasa. Pidato yang cemerlang kalau tidak diikuti langkah kongkret atau agenda aksi yang bisa dikonkretkan malah bisa menjadi bumerang bagi Presiden sendiri," katanya  di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/8).

Laode bilang, dari awal sampai akhir pidato kenegaraan siang tadi sungguh luar biasa. Presiden SBY bahkan menyebut isu mutakhir seperti masalah Rohingya di Myanmar. Sementara soal dalam negeri, Presiden membahas tentang desentralisasi, korupsi, perimbangan keuangan pusat dan daerah, reformasi birokrasi, dan lain-lain.

"Pokoknya, hampir lengkap dan tak ada yang tersisa dari amatan SBY. Kalau semuanya menjadi kenyataan, masalah bangsa ini bisa selesai," tambahnya.

Hanya, Laode khawatir pidato tersebut hanya jadi dokumen tertulis atau dokumen pembohongan kepada publik. "Itu bisa berbahaya. Sungguh bahaya kalau dokumen itu tidak implementatif alias hanya karena masalah leadership, hanya masalah kepemimpinan," kata Laode.

Dalam isu korupsi, misalnya. Isu ini memang paling hangat dan aktual di dalam negeri. Presiden tak cukup hanya mengimbau, perlu langkah kongkret. "SBY harus bisa membersihkan korupsi dari aparat yang bisa dikomandoinya secara langsung. Mundurlah Anda kalau tidak bisa memberantas korupsi. Atau ganti menteri yang tersangkut korupsi," kata Laode.[ach/Jupar]