Friday, 18 April 2014

Breaking News

Endriartono Sutarto, Mantan Panglima TNI, ''testing the water'' capres 2014 , bakal jadi Saingan Prabowo?

JAKARTA,RIMANEEWS- Endriartono Sutarto,mantan Panglima TNI kelahiran Purworejo, mencoba ''testing the water'' untuk capreskan dirinya 2014, namun popularitasnya jauh di bawah Prabowo. Dia juga tak punya partai,  sudah pensiun dan berusia cukup tua, namun masih punya peluang meski bersaing berat dengan Prabowo yang antikorupsi , tegas dan punya nyali besar.  Prabowo, putera Begawan ekonomi Prof Sumitro Djojohadikusumo itu, menyambut baik semua pesaing yang mau bertanding 2014 melalui jalan  demokrasi dan pemilu yang bersih dan jurdil. Prabowo yang dikenal anti-KKN, berani, tegas dan decisive, sangat populer sebagai antitesanya SBY yang lembek, Prabowo bagaikan the raising star yang mengundang reaksi dari aktivis HAM dan para pesaingnya. Belum jelas mengapa Endriartono kini berani muncul untuktarung meski prospeknya masih kabur.

Setelah cukup lama menghilang dari ranah publik, Jenderal (Purn) TNI Endriartono Sutarto Selasa 14 Agustus 2012 tiba-tiba muncul dari "persembunyiannya".

Kemunculannya cukup menarik. Sebab Sutarto tidak sekadar tampil sebentar lalu menghilang, seperti ketika dia menjadi penasehat Komisi Pemberantasan Komisi (KPK) pada 2011.

Sebagai penasehat KPK jilid II ketika itu, Sutarto sempat menyatakan akan "mengawal" pimpinan KPK agar tidak menjadi lemah akibat serangan atau gangguan kalangan tertentu yang ingin membuat lembaga itu tidak berfungsi maksimal. Tapi setelah itu Sutarto tak terdengar lagi, seiring dengan terjadinya pergantian pimpinan KPK.

Kali ini Sutarto muncul dengan konsep dan persiapan. Kemunculan kali ini oleh bekas Panglima TNI itu sebagai advokat yang mengajak masyarakat untuk berkepribadian jujur, menimbulkan berbagai spekulasi.

Sebab Sutarto sendiri sebelumnya dikenal sebagai salah seorang anggota tim sukses Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat berjuang untuk meraih kepemimpinan nasional periode kedua (2009 - 2014). Sebagai kerabat, Sutarto nyaris tidak melayangkan kritik keras kepada SBY selaku Presiden SBY.

Namun kemarin, dalam penampilan dan sambutannya menandai peluncuran media advokasi itu, tersirat bahwa Sutarto sudah "berseberangan" dengan SBY. Dan ada kesan acara malam itu merupakan awal dari kegiatannya untuk menggalang dan mengumpulkan kekuatan dengan kalangan yang tidak puas dengan kepemimpinan SBY.

Oleh karenanya, apakah penggalangan itu sebagai bagian dari skenario menuju suksesi nasional di 2014, itulah yang menarik diamati. Selain itu dengan sisa waktu kurang dari dua tahun, mampukah Sutarto menggalang kekuatan yang efektif?

Di antara para undangan itu terdapat sejumlah pensiunan jenderal yang pernah menduduki posisi penting di era pemerintahan Soeharto dan reformasi. Seperti bekas Letjen (Purn) Syahrir, prajurit yang menggantikan Pangkostrad Prabowo Subianto di 1998 atau Brigjen (Purn) Robik Mokav, Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI AD di era KSAD Jenderal Hartono.

Sementara substansi pidato Sutarto secara terang-terangan menyebut sejumlah kasus di era pemerintahan SBY yang ia sebut adanya kegagalan negara dalam menegakan martabat bangsa.

Pelanggaran hukum, tindakan anarkis buruh, perlakuan tidak adil oleh negara terhadap warga miskin dan tentu saja mega korupsi yang melibatkan sejumlah elit, satu per satu diulas oleh Endriartono Sutarto dalam pidatonya sebelum buka puasa.

Selain sejumlah pensiunan jenderal, juga hadir bekas pimpinan KPK Erry Riana Hardjapamekas sementara yang mengantar khotbah, tokoh pendidikan Arief Rachman. Sutarto mengakui setelah reformasi berusia 14 tahun, sudah banyak perubahan positif yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Tahun-tahun terakhir ini, pertumbuhan ekonomi berada pada level 6,4-6,5 %. Pendapatan per kapita sudah mencapai US$4,500. Dalam daftar orang terkaya di dunia, juga sudah terdapat nama-nama yang berasal dari Indonesia.

"Tetapi saya kira akan lebih menggembirakan kalau dalam daftar orang-orang kaya di dunia itu, tidak ada orang Indonesia asalkan di sekitar kita tidak ada lagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan," kata Sutarto.

Endriartono Sutarto dikenal sebagai salah satu prajurit TNI berpangkat jenderal yang pernah bekerja di lima presiden yang berbeda masanya yakni Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Jabatan yang pernah dipegangnya antara lain, Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Komandan Pasukan Indonesia di Misi Perdamaian PBB, Kepala Staf Angkatan Darat dan terakhir Panglima TNI. Seusai pensiun dari Mabes TNI, Sutarto ditugaskan oleh SBY menjadi Presiden Komisaris di Pertamina.

Seorang jenderal yang menjadi salah satu anggota tim advokasi dalam lembaga yang baru diluncurkannya kemarin bertutur, Sutarto hanya beberapa bulan saja bertugas di Pertamina. "Pak Tarto mengundurkan diri karena dia terkejut menerima gaji sebesar Rp150 juta per bulan," ujar sosok yang tak mau disebut namanya itu.

"Mengapa? Apakah jumlah itu terlalu kecil?" tanya INILAH.COM. "Tidak justru Pak Tarto menangis karena dia tidak tega menerima uang sebanyak itu. Dia merasa tidak pantas dibayar semahal itu, sementara ia tidak melakukan pekerjaan yang berat," katanya.

Ia lantas mengutip ucapan Pak Tarto. "Selama bertugas di TNI, jangankan membawa pulang Rp150 juta per bulan, Rp50 juta saja tidak pernah. Inilah salah satu bentuk ketidakadilan yang hidup dalam masyarakat Indonesia saat ini," tuturnya.

Pengunduran diri itu dilakukan secara diam-diam. Kendati begitu pengunduran diri tersebut tetap saja mengganggu hubungan kekerabatan antara Sutarto dengan SBY. Tetapi bagi Sutarto lebih baik dia bersikap walaupun harus berbeda dengan SBY, sahabatnya. Satu hal yang dipegang Sutarto, SBY ia tidak boleh diturunkan di tengah jalan. "Pak Tarto sangat patuh pada konstitusi", tambahnya lagi.

Latar belakang di atas kemudian membuat sejumlah pensiunan jenderal, pegiat kemasyarakatan termasuk sekelompok pengusaha menegah melihat Sutarto sebagai seorang pemimpin yang jujur. Hal ini mendorong mereka meminta Endriartono Sutarto untuk mempersiapkan diri menjadi calon (alternatif) Presiden RI.

Kendala terbesar, mereka sadari. Yaitu Sutarto tidak terikat dengan salah satu partai politik. Sementara UUD 45 mengamanatkan antara lain Partai Politik yang berhak mencalonkan seseorang menjadi Presiden. Dan untuk masuk ke partai politik papan atas saat ini, akan sangat sulit bagi Sutarto.

Selain itu, Sutarto pun bukan tipe sosok yang ingin mempromosikan diri dengan mengatakan, pilihlah saya! Sehingga langkah awal yang dilakukan adalah meluncurkan website pribadi. Kelak website itu diisi oleh pemikiran Sutarto dan masyarakat luas tentang bagaimana memperbaiki kerusakan Indonesia.

Tetapi yang paling utama dilakukan adalah semua warga harus bersikap jujur. "Jujur mulai hari ini," bunyi tulisan dalam kaos oblong warna putih yang dibagikan kepada para undangan Selasa malam itu.

Seorang alumni Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional) yang ikut hadir dalam acara itu mnengakui perjuangan menjadikan Sutarto sebagai presiden memang tidak gampang. Namun ia bertamsil, bahwa kalau Tuhan Allah berkehendak, sekalipun saat ini Sutarto tidak punya kendaraan politik, di 2014, bisa saja dia menjadi Presiden RI.

"Manusia harus bekerja dulu, setelah itu baru boleh berharap pertolongan dari Tuhan Allah", katanya. "Nabi Musa bisa menyelamatkan bangsanya melewati laut, setelah terlebih dahulu ia berjuang. Pertolongan dari Allah akhirnya diturunkan kepada Musa pada saat diperlukan".

Untuk keperluan advokasinya tersebut, Sutarto menyewa sebuah rumah yang cukup besar di Jl Imam Bonjol 16, Menteng, Jakarta Pusat, yang berada dalam satu deretan dengan Kantor Kedutaan Besar Filipina.

Yang menjadi pertanyaan, akankah cita-cita Sutarto atau pendukungnya berhasil? Atau masih mungkinkah rakyat Indonesia, generasi muda Indonesia melakoni hidup mereka dengan bertitik tolak dari budaya jujur?

Jujur, semua pertanyaan itu, tak mudah menjawabnya. k/inilah./[mdr]