Thursday, 17 April 2014

Breaking News

PUISI DALAM BAHASA DAERAH: SEPERCIK KEINDAHAN YANG BERBEDA


SALATIGA, RIMANEWS -- Setelah diterbitkannya banyak puisi dalam bahasa Jawa, tampaknya ini saatnya menampilkan puisi-puisi anggota Kumandang Sastra yang berbahasa ibu selain Jawa. Tentu saja keindahan kata-kata dalam bahasa Duri (Sulawesi Selatan), Sunda (Jawa Barat), dan Batak (Sumatera Utara) tidak kalah dari puisi-puisi dalam bahasa Jawa. Sebagai editor yang berbahasa ibu Jawa, saya tentu saja saya hanya bisa memahami keindahan alunan dari kata-kata, tanpa memahami isi pesan dari puisi-puisi tersebut, sehingga saya meminta adanya terjemahan dalam bahasa Indonesia. Semoga keindahan yang saya rasakan setelah pelan-pelan membaca alunan kata-kata dan memahami isinya dapat Anda rasakan juga. Masih dalam bulan Agustus, bulan kemerdekaan negara Indonesia, saya mengharap puisi-puisi dalam berbagai bahasa daerah ini semakin meningkatkan kecintaan anak negeri terhadap keaneka ragaman khazanah sastra negeri sendiri. Salam sastra! (Neny Isharyanti, Editor)

===============================================================================

=AYANO ROSIE=

MASSE PENAWA (Kesedihan)

labami to kupuji (telah berpulang yang tercinta)
na ampami to matarrang (pergi bertemu cahaya keabadian)
toromo aku melaja to disanga (tinggallah aku belajar pada yang bernama)
ikhlas, waimata te'da na bisa kutahan (ikhlas, airmata tak tertahan)
napasau to penawa (sekedar melepas rasa sedih jiwa)

Strowberry Makassar, Agustus 2012
*) dalam bahasa Duri, Enrekang, Sulawesi Selatan

=VALDA ALI VAM=

SATIIR MALATI DINA IMPLENGAN (Satu Roncean Melati Dalam Lamunan)

Tawis kadeudeuh nu dianti-anti, tina rundayan waktu nu ngagilisir mentangkeun jamparing asih (Tanda kasih yang ditunggu-tunggu, dari begitu banyak waktu yang berlalu (halus), membentangkan panah asmara)

Seumatkeun na dada kuring, satiir malati (Sematkan di dadaku, Satu Roncean Melati)
Tawis asih nu moal lipur seungitna. (Tanda cinta yang takkan sirna wanginya)

Kuring nungguan, isuk pageto, urang baseuh lantis nyimbeuh awak ku katresna dina angseu malati (Aku menunggu, esok lusa, kita akan basah kuyup, mengguyur tubuh penuh asmara dalam aroma melati)

Kuring nganti taya sudana (Aku menunggu tanpa akhir)

Bandung, Agustus 2012
*) dalam bahasa Sunda, Jawa Barat

=ONALD ANOLD=

LUNGUN ( terhanyut sedih)

dao ni rohaku tu luat-mi ( jauh sudah hatiku menuju padang-mu )
adopi sude si taonan ( syukuri semua perjalanan)
si dangolan ( penderitaan)

:rohakon roha! ( menghatikan hati!)

Pamulang, Agustus 2012
*) dalam bahasa Batak, Sumatra Utara

===============================================================================

BIODATA PARA PENYAIR

*) AYANO ROSIE Lahir di Cakke-Enrekang, Sulsel, pada tanggal 22 desember. Mulai menulis puisi sejak SMA tapi hanya sampai pada buku harian, lalu diterbitkan di Facebook sejak 2010. Pernah meluncurkan antologi bersama " Indonesia Berkaca" tahun 2011 dan satu karyanya diterbitkan di berita mingguan Singapura tertanggal 6 Mei 2012

*) VALDA ALI VAM Penulis bernama asli Valda Ali Mansyoer (Ninung Valdasari). Lahir pada tanggal 20 November dan bermukim di Bandung. Mulai menulis sejak tiga tahun lalu.

*) ONALD ANOLD - pemilik nama asli Ronald Pangaribuan ini adalah putra Batak kelahiran betawi. Penyuka puisi dan pemrakarsa ''Cinta tanpa Warna"

TENTANG SI EDITOR DAN GRUP KUMANDANG SASTRA

*) Puisi-puisi ini dipilih dan disunting seperlunya oleh NENY ISHARYANTI, salah satu administrator di grup penyair Kumandang Sastra di Facebook. Selain sebagai editor, peran lain yang dilakoninya adalah sebagai penulis puisi dengan sebuah buku antologi puisi "Sajak Rindu di Negeri Itu" (2012) dan blog kumpulan puisi http://nenyizm.wordpress.com/. Sedang di dunia nyata, masih tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana di University of Melbourne, Australia; dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga; serta sesekali menjadi penyanyi dan penggerak diskusi di beberapa forum.

*) Kumandang Sastra (atau disingkat KuSas) didirikan di RRI Semarang oleh Victor Roesdianto atau Kak Roes, panggilan akrabnya, dan melakukan siaran perdana pada tanggal 29 Maret 1967. Sejak tahun 2005, KuSas dikemas dengan format yang berbeda yaitu lebih menekankan menjaring para penulis pemula dengan tujuan agar mereka berani menulis apapun yang mereka ingin tulis (khususnya puisi) tanpa ada rasa ketakutan untuk salah. Sejak munculnya Facebook, anggota KuSas semakin bertambah dan meluas dengan dibentuknya grup yang memungkinkan anggota grup untuk mempublikasikan puisinya tidak hanya melalui ajang pembacaan puisi di radio tetapi juga melalui dinding grup di Facebook.(Wrh/RIMA)