YOGYA, RIMANEWS -- Setiap hari berkutat dalam kegiatan anti korupsi, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas justru tersentil saat Ramadan tiba. Bagaimana tidak ? Tidak sedikit koruptor yang taat beribadah -- bahkan memiliki gelar keagamaan. Tetapi kenapa mereka tetap melakukan tindakan korupsi yang jelas-jelas diharamkan agama ? Demoralitas atau hobi ??
“ Shalat tetapi korup dan tetap nekat korup, itu adalah pendusta Islam,” kata Busyro.
Karena itu hadirnya Ramadan ini memiliki arti khusus bagi alumni S3 Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) ini. Ia memaknai, berpuasa memiliki dua kemungkinan hasil, yakni puasa formal atau puasa substansial. Puasa formal ini sekadar memenuhi kewajiban syariah, tidak sampai level hakikat. ” Kalau begini pahala untuk diri sendiri,” ujar Busyro. Adapun puasa subtansial yakni tidak hanya menjalani kewajiban tetapi disempurnakan dengan kontemplasi dan imajinasi diri, keluarga, tetangga, serta bangsanya.
” Ketika narkoba, jabatan dan korupsi sudah dibisniskan, kita lihat 40 juta rakyat miskin semakin dimiskinkan moralnya, dan kecerdasan jiwanya. Tidak butuh waktu lama negara ini akan rontok, daya tahannya rontok dan menjadi negara mafia,” tutur pria kelahiran Yogyakarta, 17 Juli 1952 ini.
Busyro menambahkan, andai saja 90 persen pejabat negara dan daerah itu melakukan puasa substansial maka betapa negara ini menjadi bersih.
Dan setelah Ramadan tetap berpuasa dalam arti menahan hawa nafsu dan melawan godaan suap serta berpihak pada rakyat.
” Bersih bukan karena polisi, jaksa atau KPK, melainkan dari revolusi puasa,” ujar mantan Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum UII Yogyakarta ini.
” Puasa seperti ini adalah puasa substansial yang dapat berfungsi membebaskan diri dan bangsanya dari kerak-kerak dan noktah-noktah hati menuju bangsa yang bersih dan sehat jiwa dan akalnya,” ujarnya lagi.
Peraih penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) tahun 2008 ini meyakini puasa substansial juga berfungsi sebagai langkah tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.
” Jiwa sehat menjadi kekayaan hakiki atau al ghina al nafs. Jika keluarga muslim dan pejabat serta penegak hukum muslim tercerahkan jiwa dan akalnya, maka akan hadir keluarga sehat yang hidup dari harta halal dan barakah, kerja keras, jujur, dan dizakati. Istri dan anak akan memuji bapaknya yang menjabat bukan karena gaji dan pangkatnya melainkan kejujurannya,” ujarnya. [ mrhill / SMS ]