Mengapa Koruptor Tidak Dikucilkan Saja? Masyarakat Wajib Mengucilkan Koruptor !!

JAKARTA, RIMANEWS -- Ini sebuah gambaran riel yang benar-benar terjadi di Indonesia. Bahwa masyarakat kita menilai kehormatan seseorang itu dari materi belaka - jadi makin kaya seseorang makin terhormat. Yang jadi permasalahan adalah bagaimana kalau kekayaan itu diperoleh dari hasil korupsi, maling dan nggarong ? Dan celakanya lagi masyarakat kita itu masih mudah ditipu dengan 'gebyar materi' yang haram itu ( Red: out-put criminal sekularism ).

Berikut ini saya sampaikan contoh riel bahwasanya masyarakat kita ini masih penuh absurditas dalam memaknai kesuksesan. Dialog singkat dibawah ini menunjukkan bagaimana seorang ibu yang membanggakan anaknya yang sukses besar; kaya raya, harta melimpah ruah. Tapi kasihan saya - Ibu yang 'agamis' itu tidak tahu atau tidak sadar kalau anaknya adalah seorang koruptor ulung. Inilah cuplikannya:

Sekitar sebulan lalu saya sedang mengisi bensin dekat rumah, kebetulan bertemu seorang ibu menggunakan jilbab -- khas ibu-ibu pengajian. Sang ibu memancing pembicaraan;

“dimana tinggal dik ?”
“oh komplek dekat sini bu”
“di depan atau di belakang ?”
“dibelakang bu, yang ukurannya kecil, Alhamdulillah aja, Ibu mau kemana ?”
“mau ke rumah anak, anak saya punya rumah di depan, harganya 3 miliar”
“Oh ….(nggak nanya harga sebenarnya)”
“anak saya punya 2 yang harganya 3 miliar”
“Oohh …. (sekali lagi nggak nanya), anak ibu kerjanya apa?”
“anak saya POLISI dik, baru lalu lulus sekolah polisi, sebentar aja udah kebeli, cepat dia karirnya ”
“Oohhh ….???? ”

Pembicaraan yang kelihatan biasa dilakukan di Indonesia. Itu sebenarnya pembicaraan yang sangat menyedihkan. Sang ibu yang bergaya ibu pengajian itu membanggakan anaknya yang memiliki banyak harta yang harusnya dipertanyakan keabsahan, asal-usul hartanya. Tidak ada tanda malu, menganggap pernyataannya adalah wajar. Nyatanya perilaku seperti ibu ini adalah perilaku yang wajar di Indonesia. Sebuah fenomena patologi sosial yang kronis.

Kita bukan iri pada rekan yang mendapat jabatan basah dan menjadi kaya raya. Bukannya memandang hina, di dalam hati kita ingin. Bukannya bersyukur dihindari dari jabatan basah yang penuh ujian, banyak orang berebut untuk mendapat jabatan basah. Bahkan seperti ada gula dan semut, banyak orang berusaha meminta bagian. Keluarga jauh mendadak jadi dekat, pesan minta sumbangan dan sponsor mengalir deras. Bahkan ulama pun banyak yang mendekat.

Orang-orang berebut masuk menjadi pegawai negeri di Indonesia. Pekerjaan yang seharusnya penuh pengabdian dengan gaji rendah. Biasanya pekerjaan jenis ini tidak banyak peminatnya. Tapi di negara kita orang-orang berebut bahkan dengan menghalalkan segala cara. Bisa diyakini bukan pengabdian cita-citanya, tapi kerja ringan dan 'return'  tinggi targetnya. Tapi sekali lagi ini wajar buat sebagian besar orang di Indonesia.

Banyak orang menghujat gayus. Tapi pernahkan terpikir bahwa gayus hanya sebuah produk dimana masyarakat menganggap korupsi adalah wajar. Tidak ada hukuman sosial bagi koruptor. Koruptor bukan menjadi penyakit, tapi menjadi obyek pandangan iri dari beragam sudut. Dalam Islam, dan saya yakin sama dalam agama lain juga, membiarkan sebuah perbuatan dosa, sama halnya dengan yang melakukannya. Tapi apa daya kita tak mampu untuk itu, karena yang paling berwenang adalah aparatur negara atau pemerintah. Tapi bagaimana jadinya - kalau aparatnya sendiri juga korupsi ???

Seharusnya kalau ada orang yang kita lihat melakukan korupsi, kita harus melaporkannya segera. Ada pejabat yang kekayaanya tidak masuk akal, kita harusnya melaporkan. Tapi di Indonesia mungkin timbul pertanyaan “melapor kemana, dan bagaimana caranya?”. Sebuah dilema memang, tapi kita sebagai individu harusnya menunjukkan bahwa koruptor adalah hina. Kalau ada keluarga atau rekan yang diduga melakukan korupsi, putuskan silaturahmi, sampai yang bersangkutan kembali ke jalan yang benar. Kalau anak kita korupsi, jauhkan dia, hukum dia.  Jangan pernah kita mau melakukan hubungan bisnis dengan koruptor. Jangan pernah minta sumbangan atau dana pada koruptor. Bahkan kalau anda tukang sayur, dan mengetahui pembelinya adalah pejabat dengan harta yang tidak jelas, jangan mau menjual barang dagangannya pada orang tersebut. Berikan hukuman sosial pada koruptor. Tanpa ada hukuman sosial bagi koruptor, gayus-gayus baru akan terus bermunculan bak cendawan dimusim hujan. KPK hanyalah salah satu alat yang  belum bisa efektif mengatasi korupsi. Dan negara kita tampaknya akan tetap menjadi salah satu anggota negara terkorup di dunia.    [ mrhill / RmN / FF / Kmps ]