JAKARTA,RIMANEWS-Dengan dukungan Partai Golkar, PPP, PKS dan PAN, hampir pasti kepercayaan diri Partai Demokrat untuk memenangkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli pada pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) DKI Jakarta putaran kedua, semakin tinggi. Namun jika kelak ternyata Foke-Nara keok, maka itu menunjukkan kehebatan Jokowi-Ahok, sebab secara politis, duel Foke-Nara versus Jokowi-Ahok berjalan timpang karena Foke-Nara didukung istana dan segenap elemen negara. Rakyat ingin pemilukada DKI ini jurdil, dan negara tak intervensi atau terlibat terlalu jauh dengan cara tak wajar.
Demikian halnya, kubu Jokowi-Ahok pun makin intensif berkonsolidasi. Duel bermutu laga putaran dua pilkada DKI ini ditunggu publik dengan semangat kebhinekaan dan kedamaian ibukota. Begitulah kiranya.
Asalkan mesin politik Fauzi-Nachrowi bekerja efektif, bisa jadi laga pilkada DKI putaran dua merupakan pertarungan simbolik antara kemapanan (petahana, incumbent) versus perubahan sekaligus penantangnya (Jokowi-Ahok).
Duel politik ini simbolik karena secara sosial-kultural, Fauzi-Nachrowi mewakili simbol Betawi-Jawa dan kesinambungan, sementara Jokowi-Ahok simbol Jawa-Tionghoa dan perubahan. Manakah yang mendapat tempat di hati rakyat?
Tentu saja pemilukada DKI putaran dua ini harus jurdil dan bersih agar elok dirasakan badan dan jiwa. Sehingga yang kalah legowo, yang menang pun tetap rendah hati dan mawas diri serta tidak sembrono.
Asal tahu saja, Fauzi Bowo adalah satu-satunya Cagub DKI Jakarta yang telah berkiprah selama 34 tahun di lembaga pemerintahan yang bertugas mengurusi ibukota, dan membangun ibukota hingga menyedot perhatian dan impian jutaan warga daerah dari seluruh penjuru Tanah Air untuk beradu nasib ke ibukota.
Peluang Fauzi Bowo untuk menang jelas ada, apalagi, kini dua partai besar yaitu PPP dan Golkar serta PAN sudah bergabung mendukungnya. Ini tantangan berat bagi Jokowi-Ahok secara psikologis-politis.
Golkar,PPP dan PAN mengaku jika dalam putaran pertama pihaknya masih terpecah-pecah mendukung beberapa pasangan calon, maka pada putaran dua, lebih fokus dan ini menguntungkan Fauzi-Nachrowi sekaligus.
Para pendukung Fauzi Bowo meyakini bahwa membangun Jakarta harus dikerjakan secara bertahap dan berkesinambungan. Tidak bisa dikerjakan dengan sekaligus. “Saya kira suatu keniscayaan Jakarta harus dipimpin oleh orang yang tahu Jakarta. Karena tahu lika-liku dan seluk beluk Jakarta," jelas Wakil Ketua Umum DPP Demokrat, Max Sopacua,
Agaknya, mesin koalisi partai pro-Fauzi Bowo yang berkuasa ini akan berjalan pada putaran kedua ini. Walau, kita akui bahwa pengaruh partai terkadang tidak signifikan dibandingkan dengan ketokohan calon yang diusung.
Dalam hal strategi, pada putaran pertama, publik melihat model komunikasi dari tim pasangan Fauzi-Nachrowi agak berbeda dibanding putara pertama. Sudah seharusnya, interaksi kedua calon ini kepada masyarakat lebih intensif lagi. Sejauh ini, sepertinya ada perubahan dari Fauzi dan Nachrowi.
Sementara kubu Jokowi-Ahok akan terus menggelorakan spirit perubahan dan penataan kembali ibukota agar bebas dari banjir dan kemacetan serta kemiskinan. Maka praktis pertarungan putaran kedua nanti, menjadi pertarungan simbolik penganut kesinambungan pembangunan (Fauzi-Nara) versus pengusung perubahan (Jokowi-Ahok).
Jawaban tentang siapa yang menang, akan disampaikan para konstituen dan pemilih mereka setelah Lebaran. Duel politik ini harus bermutu dan beretika. Semoga damailah warga ibukota dan bersihkan diri dari kekotoran. Prosesi pemilukada pun harus bersih dan jujur-adil, sehingga yang muncul sebagai pemenangnya, siapapun mereka, adalah lambang kebaruan dan harapan, bukan horor dan kecemasan. [mdr]