JAKARTA, RIMANEWS - Hari Sabtu (11/8/2012), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menentukan sikapnya terkait dengan pemilihan kepala daerah DKI Jakarta putaran kedua. Sikap partai ini memang ditunggu publik setelah pasangan gubernur dan wakil gubernur yang diusung, Hidayat Nur Wahid - Didik J Rachbini kalah di putaran pertama.
Sebagian pengamat politik mengingatkan agar elite partai memperhatikan aspirasi akar rumput. "Jika tidak, maka akan merugikan partai sendiri. Ini momentum partai untuk memperbaiki citranya. Sekaligus dapat dipakai untuk mempertegas identitas PKS yang semakin dipertanyakan," kata dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Andrinof Chaniago, Sabtu (11/8/2012) kepada wartawan di Jakarta.
Menurut Andrinof, elite partai seharusnya tidak memaksakan kehendaknya dalam memutuskan sikap. Sejak awal berdirinya, kata Andrinof, PKS selalu mengusung jargon untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. Sehingga keputusan partai seharusnya tidak berbeda dengan jargon yang diusung, yaitu memilih atau mendukung pasangan yang mengusung isu sama.
Beberapa kali pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta, pendukung PKS terlibat konflik dengan pendukung pasangan calon lain. Salah satunya adalah serangan isu SARA (suku, agama, ras, dan antar-golongan). Hidayat dituding sebagai pemimpin yang anti maulid. Tudingan ini pun ditanggapi Hidayat pada saat kampanye putaran pertama lalu.
Tidak hanya itu, pendukung Hidayat - Didik juga pernah menjadi sasaran pelemparan bom molotov di Jakarta Selatan. Kasus ini dilaporkan ke kepolisian, namun belum jelas kelanjutannya.
Peristiwa-peristiwa seperti, menurut Andrinof, harus diingat. "Akar rumput sudah beberapa kali menghadapi konflik pada putaran pertama. Jangan sampai elitenya malah mendukung mereka yang pernah menyerang," katanya. [mam/kps]