JAKARTA, RIMANEWS - Indonesia sebentar lagi akan menikmati Kemerdekaannya yang ke-67 Tahun. Di balik itu ternyata Indonesia belum sepenuhnya merdeka.
Kemerdekaan Indonesia yang dicita-citakan membawa keadilan sosial bagi seluruh rakyat sampai saat ini dinilai hanya dinikmati segelintir manusia saja, kelas borjuis yang menganut kapitalisme.
"Rakyat kecil sampai saat ini belum merasakan apa itu kemerdekaan yang dicita-citakan Bapak Bangsa. Semarak kemerdekaan ternyata hanya dinikmati para elite dan kapitalis yang menindas kemerdekaan rakyat," kata Radhar Panca Dahana, budayawan dan sastrawan di Cikini, Jakarta, Sabtu (11/8/2012).
Radhar mengungkapkan, jika negara menjamin kapitalisme berkembang biak maka ada jurang ketidakadilan yang menganga. Jurang itu telihat pada perbedaan kemakmuran antara yang kaya dan miskin.
Kelas borjuis yang berideologi kapitalis ini memperkaya dirinya dengan mengambil uang rakyat dan para pekerja yang menjual tenaganya untuk kelas borjuis tersebut. Dalam iklim kapitalisme, lanjutnya, kemiskinan bukan diberantas tapi dipelihara.
"Kapitalisme itu memelihara kemiskinan dan kebodohan, bukan malah berusaha menghilangkannya. Sudah terbukti bahwa kapitalisme itu menyelengsarakan masyarakat berkemanusiaan," pungkas Radhar.
Radhar menambahkan, Pemerintah Indonesia yang terus mengekor pada barat adalah bukti dari Indonesia belum merdeka 100 persen. Barat yang dipimpin Amerika Serikat, lanjutnya, tidak dapat dipungkiri lagi telah merampas kemerdekaan Indonesia. Terlebih lagi, Amerika Serikat berpegang penuh dengan kapitalisme sehingga Indonesia turut pula mencontoh ideologi barat tersebut.
Dia mengungkapkan, bahwasannya jika Indonesia mau merdeka 100 persen maka Indonesia harus merdeka dari Amerika. "Indonesia harus berjuang keras untuk merdeka lagi. Merdeka dari belenggu Amerika," tegasnya. [kps]