Ramadan Bulan Berkah Bagi Semua Umat

Oleh Hamidulloh Ibda*

Semarak bulan Ramadan menjadi berkah bagi semua umat. Baik umat Muslim, dan non Muslim semua mendapatkan kesempatan untuk mengais rejeki dari bulan puasa. Banyak muncul usaha musiman yang memanfaatkan potensi pasar yang ada di bulan ini. Mengintip peluang bisnis menjelang puasa, pada saat puasa dan saat lebaran tiba memang cukup menarik. Melihat di tahun-tahun sebelumnya peluang bisnis cukup baik. Peluang Usaha yang dapat di jalankan baik itu menjelang puasa, pada saat puasa dan saat lebaran tiba banyak sekali jenisnya.

Tidak kurang dari 15 abad yang lalu, Rasulullah SAW bersabda, “Ramadan adalah bulan sabar, dan sabar balasannya adalah surga, Ramadan adalah bulan pertolongan dan Ramadan adalah bulan di mana kaum Muslimin ditambahkan rezekinya.” (HR Ibn Huzaimah). Melalui hadis ini menurut dia seolah Rasulullah memprediksi bahwa kaum Muslim akan mengalami suatu pertumbuhan ekonomi dalam setiap bulan Ramadan melebihi rata-rata bulan lainnya.

Benarkah prediksi ini? Mari kita lihat fenomena berikut. Dari sisi pendapatan setiap karyawan di Indonesia baik Muslim maupun non-Muslim, swasta maupun pemerintah pasti akan bertambah menjadi 200 persen lebih banyak dari pendapan bulan-bulan biasa. Pertambahan 100 persen ini dimungkinkan dengan adanya Tunjangan Hari Raya (THR) yang sudah menjadi kewajiban perusahaan dan instansi serta hak karyawan. Berbagai bonus pun seringkali diberikan pada bulan suci ini.

Bahkan, dari segi ekonomi peluang bisnis di bulan puasa sangat besar dan tumbuh dua kali lipat dari bulan lainnya. Berbagai macam bentuk usaha dilakukan hanya untuk meraup rezeki musiman ini. Tidak hanya untuk umat Muslim, umat non Muslim lainnya pun turut merasakan berkah Ramadan ini. Adapun berbagai macam usaha yang menjadi berkah bagi masyarakat di bulan puasa antara lain seperti penjual kue kering musiman. Meski penjual kue kering sifatnya musiman, namun cukup menjanjikan. Banyak yang menjalankan bisnis ini murni untuk mencari keuntungan di balik momen Idul Fitri atau hanya mencari kesibukan di bulan Ramadan.

Pada masa-masa menjelang Lebaran, permintaan akan kue-kue Lebaran sangat tinggi. Kondisi seperti ini jarang terjadi pada hari-hari biasa. Yang perlu diperhatikan dalam bisnis ini tidak hanya pintar membuat kue dan punya peralatan saja. Tapi juga harus mampu memilih sistem pemasaran kue-kue itu dengan tepat, misalnya dititipkan ditoko atau supermarket dan sistem pesanan atau jual langsung. Pemilihan jenis kue pun patut menjadi perhatian. Diperlukan kejelian dalam membaca selera pasar, sehingga kue yang diproduksi bisa dijual dengan cepat dan laris di pasaran. Berbisnis kue lebaran di paruh terakhir bulan puasa selalu memberi rejeki bagi para pembuat kue.

Berkah Ekonomi

Fenomena Ramadan ini berdampak pada meningkatnya roda perdagangan dan bertambahnya jumlah barang dan jasa yang dibeli umat. Peningkatan ini terjadi di hampir semua sektor seperti angkutan, elektronika, pakaian dan busana, kue kering dan biskuit, sirup dan minuman, kendaraan roda dua dan empat, dan barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Sehingga, tak jarang tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada bulan suci ini.

Meskipun berpuasa adalah ritual keagamaan, namun implementasinya berefek sangat fenomenal, baik dari sisi psikologis, kultural, ekonomi, perilaku masyarakat dan aspek lainnya. Kehadiran Ramadan telah menciptakan dampak berlipatganda. Dan media massa, telah mendorong umat Islam untuk berlomba menggandakan efek itu. Karena terjadi perubahan jadwal aktivitas secara radikal dan massive (besar-besaran), maka media massa cetak dan elektronik, utamanya televisi, secara setia dan cerdas ikut mendampingi dan mengambil berkahnya secara ekonomi.

Berbagai perusahaan pun membelanjakan iklan cukup besar dalam bulan Ramadan, untuk mendukung berbagai acara menjelang berbuka puasa dan malam waktu sahur. Di situlah bertemu kegiatan bisnis, acara hiburan dan mimbar keagamaan. Berbagai pengamat menilai, adakalanya hiburan dan agenda bisnis yang lebih menonjol ketimbang mimbar agamanya. Namun, meski porsi agenda bisnis lebih banyak, namun mimbar keagamaan tetap saja besar, jika dibanding dengan jadwal acara selain Bulan Ramadan.

Memanfaatkan Keberkahan

Ramadan mubarakah adalah sebuah fakta bukan mitos. Sejarah membuktikan bahwa sesungguhnya sejarah Islam tidak lain adalah sejarah prestasi Ramadan.  Hampir semua peristiwa-peristiwa monumental dalam sejarah Islam terjadi di dalam bulan suci Ramadan. Bukan saja sejarah Islam di Timur Tengah tetapi juga sejarah Islam di atas hamparan bumi ini, dari Merauke sampai Maroko. Yang menarik untuk diperhatikan ada apa di dalam bulan Ramadan? Di antara peristiwa-peristiwa monumental Ramadan ialah; Pertama kali Al Qur’an diturunkan dan sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai Nabi. Kedua, Kemenangan besar pasukan Rasulullah di dalam Perang Badr yang bersejarah itu, bertepatan dengan tanggal 17 Maret 624M/17 Ramadan tahun ke-7 H. Ketiga, Perebutan kembali kota Mekah (fathu Makkah), Ramadan 8 H; perjanjian Tsaqif yang monumental itu terjadi dalam bulan Ramadan 9 H.

Selain itu, Diplomasi Qadasiayah yang membawa keuntungan besar bagi umat Islam, terjadi dalam Ramadan 15 H, Penaklukan Rodesia pada bulan Ramadan 53 H, Perang Andalusia Spanyol terjadi pada Ramadan 91 H, Penaklukan kota Spanyol pada Ramadan 92 H., Runtuhnya Daulat Bani Umayyah yang dinilai sudah korup digantikan rezim baru Bani Abbasiah, terjadi pada Ramadan 132 H., Pemisahan diri Mesir dari Dinasti Abbasiah pada Ramadan 253 H. Pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir, Universitas tertua di dunia, didirikan pada bulan Ramadan 361 Hijriah oleh Dinasti Fatimiyah (Syi’ah).

Terlepas dari itu, berkah di bulan suci harus dimanfaatkan dengan baik. Artinya, seluruh umat harus mengambil esensi di bulan ini sebagai wahana untuk membersihkan diri dan sarana mendekatkan diri pada sang pencipta. Bukan justru hanya memanfaatkan untuk mendapatkan “recahan” yang justru menodai esensi Ramadan.

Spirit, keputihan, kejernihan, keikhlasan, dan kesucian jiwa menjadi faktor yang amat penting untuk selalu dihisab dan diperhitungkan. Betapa tidak,  sulit membayangkan begitu banyak peristiwa monumental yang terjadi di dalam bulan Ramadan. Karena itu, jangan sampai kesucian di bulan ini ternodai oleh “nafsu” duniawai yang fana. Jadi, sudah saatnya di bulan Ramadan umat Islam harus meluruskan niat dan menata ibadah sebagai bekal untuk menghadap sang pencipta.

Tujuan perintah dan larangan dalam Islam bukan untuk Tuhan. Tanpa disembah pun Allah SWT tidak akan berubah posisi-Nya sebagai Tuhan. Seandainya semua orang mogok menyembah maka Tuhan tidak akan pernah menurut derajat ketuhanan-Nya. Sebaliknya seandainya seluruh makhluk-Nya semuanya taat menyembah-Nya, juga tidak akan menanbah posisi ketuhanan-Nya. Wallahu a’lam bisshawab.

______________________________

*Peneliti di Centre for Democrasi and Islamic Studies (CDIS) IAIN Walisongo, dan Direktur LAPMI Cabang Semarang

Kata Kunci