Antasari Azhar Masih Pegang Dua Data Penting, Korupsi IT KPU dan Bailout Bank Century

JAKARTA, RIMANEWS - Antasari Azhar mengaku memegang data penting soal korupsi IT KPU dan Bank Century. Apakah akan dibuka dalam waktu dekat?

Melewati hari demi hari di penjara, Antasari Azhar memiliki kesibukan baru: menulis buku. Satu buku yang telah ditulis telah diluncurkan, September 2011. Judulnya  "Untuk Hukum dan Keadilan" yang dibuat Antasari sendiri dan diedit oleh Servas Pandur, teman lama Antasari.

Setiap hari Antasari memang membuat tulisan. "Papa sehat dan masih terus menulis. Sekarang lagi menulis biografi tentang sosok dan kiprah," ujar  Ajeng Oktariefka, putri kedua dari dua bersaudara pasangan Antasari Azhar dan Ida Laksmiwati kepada Beritasatu.com.

Antasari tidak memakai laptop atau komputer di penjara, ia menuliskan pikirannya melalui tulisan tangan. Hasil tulisan itu diketik keluarga lalu diedit. Kadang juga dia bercerita ke penulis.  "Papa lebih cepat nulis tangan ketimbang mengetik," tutur Ajeng.

Di buku keduanya itu nanti Antasari akan bercerita masa kecil di Belitung, jualan di Jakarta dan tinggal di lingkungan Betawi.

Data Paling Ditunggu-tunggu
Satu lagi yang ditunggu-tunggu adalah soal data-data penting apa yang akan ditulis Antasari di buku itu. Ajeng memberi petunjukan ihwal pentingnya data-data yang masih sempat diselamatkan Antasari untuk ditulis di buku ini. "Dia tidak tahu harus dikemanakan cerita itu. Banyak hal yang penting dalam buku ini," ujar Ajeng.

Kepada keluarga dan rekan sejawatnya yang membesuknya, Antasari sering bercerita tentang datang yang masih disimpannya. Dua data penting yang masih menjadi teka-teki isinya adalah soal korupsi informasi dan teknologi di KPU pada Pemilu 2009 dan kasus Bank Century yang sudah tiga tahun ini mandeg.

"Pemeriksaan korupsi IT KPU tidak berjalan. Ini sudah mau pemilu lagi. Tidak terjawab apa yang terjadi waktu IT KPU. Sampai sekarang tidak ada jawaban kenapa IT KPU tidak berfungsi dan kembali ke perhitungan manual dengan segala hasilnya," ujar Ajeng yang sering menjadi juru bicara keluarga Antasari ini.

Dalam kasus bail out Bank Century, Antasari kabarinya juga mengetahui cukup banyak informasi yang belum terpublikasi. Belakangan kasus Century sering dijadikan bargain politik, baik yang pro maupun kontra dengan bail out. "Duplikasi data itu rasanya papa punya. Yang jelas data lengkap, penyimpanan hanya papa yang tahu dan tidak melibatkan keluarga," kata Ajeng.

Lagi-lagi dua data yang berurusan dengan korupsi IT KPU dan Century itu tidak diketahu apa wujudnya. "Saya tidak tahu data itu berupa saksi, dokumen, atau apa saya tidak tahu. Data untuk kasus yang jelas, tidak peru menduga-duga," kata Ajeng memberi kode.

Data yang dipegang Antasari ini akan dilemparkan ke publik pada saat yang tepat. Namun ia tak akan sembarangan membuka datang tidak dengan cara menuduh kanan kiri. Ia akan menggunakan jalur hukum. "Semua pakai jalur hukum. bukan dengan menuduh sana sini hanya menimbulkan isu yang liar," kata Ajeng.

Dan buku adalah media yang dipilih Antasari untuk sedikit demi sedikit menguak data yang dimilikinya.  Antasari, kata Ajeng, sedang mencari sekutu untuk sama-sama membongkar kasus besar ini. Hanya orang yang memenuhi kriteria yaitu hanya demi bangsa dan negara. "Hanya orang merah putih untuk indonesia yang berani untuk menegakkan kebenaran," kata Ajeng.

Antasari juga ogah kalau data yang dimilikinya dijadikan alat tawar menawar. "Mengeluarkan data ini itu tapi untuk menembak lawannya. Bukan begitu caranya. Papa jadi alat dong. Tapi kasusnya dan statusnya tidak berubah," ujar Ajeng.

Keluarga masih punya keyakinan ada keajaiban Atasari bisa keluar lebih cepat. [beritasatu]