Tim Sukses Jokowi - Ahok Pembohong, PKS Marah Besar!
Penulis :
Penyunting :
2716    0

Dokumentasi Rima

JAKARTA, RIMANEWS - PKS mengecam pernyataan yang disampaikan oleh tim sukses pasangan calon Gubernur Jokowi-Ahok, yang seolah menyatakan jika partai itu telah melakukan politik transaksional dengan memberikan dukungan ke pasangan Cagub Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli pada putaran kedua Pemilukada DKI Jakarta.

Ketua DPW PKS Jakarta Triwicaksana menegaskan jika apa yang disampaikan oleh tim sukses pasangan Jokowi-Ahok adalah black campaign dan sebuah kebohongan besar. "Itu adalah kebohongan, itu black campaign. Kami tidak pernah meminta mahar kepada siapapun," tegas Triwicaksana, Rabu (8/8/2012).

Pria yang akrab disapa Sani itu menjelaskan, PKS telah mempelajari dan menimbang dengan sangat mendalam sebelum memilih siapa yang akan didukung dalam putaran kedua. Oleh sebab itu lah pada hari Sabtu dan Minggu pekan lalu, dua pasangan Cagub yakni Fauzi Bowo dan Jokowi datang ke DPP PKS.

"Kita telah berdiskusi dengan kedua pasangan calon, pekan lalu. Tapi tidak pernah ada yang namanya uang 'mahar'. Pertimbangan yang digunakan PKS dalam memberikan dukungan diputaran kedua yakni, apakah Cagub yang ada mampu melanjutkan perjuangan agenda dari PKS dan Hidayat-Didik," jelasnya.

Sani mengatakan, kemana dukungan PKS akan diberikan akan diketahui sebelum libur hari raya Idul Fitri. Terkait pernyataan tim sukses Jokowi-Ahok, ia mengatakan bukan tidak mungkin ini akan dilanjutkan ke ranah hukum. "upaya black campaign yang dilakukan oleh pihak lain ini merusak citra kami, bukan tidak mungkin kami akan lapor polisi," ucapnya.

Sebelumnya Salah satu tim sukses Joko Widodo dan Basuki T Purnama, Denny Iskandar mengatakan Partai Keadilan Sejahtera pada Pilkada putaran kedua nanti akan merapat ke calon incumben yakni Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli.

Ia menduga PKS mendukung pasangan Foke di putaran kedua karena faktor materi atau politik transaksional. "Ya namanya juga dekat lebaran mau THR, kalau dia merapat ke Jokowi kan ga ada dana. Kita aja bikin spanduk ga sanggup, apalagi mau THR. Apakah PKS menjalankan politik transaksional, saya tidak bisa memastikan, cuma memahami saja kalau itu dilakukan, ya namanya organisasi perlu dana," jelas Denny, kepada INILAH.COM.

Dikatakan oleh Denny, pada tahun 2007 silam partai tersebut (PKS) adalah lawan politiknya calon incumben sekarang ini. Nah, ini tidak logis bisa mengarah kepada Foke dalam Pilkada putaran kedua. "Dulu tahun 2007 Adang dikeroyok ama yang lain, masa sekarang mau merapat. Itu kan gimana ya logikanya," tandasnya.[l/inilah/bay]