Antara Puasa dan Fitrah Manusia

Puasa merupakan tradisi yang sudah lama berlangsung. Jauh sebelum Islam datang, puasa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Perintah puasa yang dibawa oleh Islam menunjukkan upaya pengembalian manusia pada jati dirinya. Tujuan akhir menjalankan ibadah puasa adalah keinginan untuk kembali kekeadaan fitrah. Pertanyaannya, apa yang dimaksud keadaan fitrah?
 
Dari kajian terterminologi bahasa, kata fitrah berasal dari kata fathara yang bermakna menciptakan atau bentuk (model) ciptaan. Ringkasnya, manusia adalah makhluk Allah SWT. yang memiliki bentuk dan model ciptaan yang khas, yang tidak sama dengan makhluk lainnya. Berkenaan dengan ini, Allah SWT. berfirman, “Maka tegakkan (arahkan) wajahmu ke agama dengan lurus, sebagai fitrah Allah yang atas nya Ia menciptakan manusia. Dan tiada perubahan bagi ciptaan Allah”.(QS. Al-Rum: 30). Ayat ini menegaskan bahwa agama yang lurus adalah fitrah yang Allah tetapkan untuk manusia.
 
Dalam islam, fitrah manusia adalah pengakuan bahwa bahwa Allah SWT. adalah Tuhan mereka. Bahkan, sebelum terlahir ke dunia, pengakuan itu telah ada. Sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS. Al-A’raf: 172).
 
Firman Allah ini menegaskan, bahwa sejak sebelum manusia terlahir ke dunia, ia telah menetapkan pengakuan terhadap Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan. Dan itulah hakikat fitrah manusia, yakni bertuhan hanya kepada Allah SWT.
 
Kefitrahan manusia tersebut diperkuat oleh hadis Rasulullah yang sering kita simak; “Tidak ada anak yang dilahirkan, kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana binatang itu dilahirkan dengan lengkap. Apakah kamu melihat binatang lahir dengan terpotong (hidungnya)?” (HR. Bukhari)
 
Dalam perjalanan hidupnya, manusia dihadapkan pada banyak tantangan dan godaan yang tidak jarang menyebabkan ia kehilangan fitrahnya. Bagi orang yang tidak memiliki pegangan kuat tentang ajaran Islam, akan mudah terjerumus ke dalam perbuatan yang dilarang Allah yang sekaligus akan menggerus kefitrahannya. Karena itu, sejak awal Islam memberikan panduan yang lengkap agar manusia tidak kehilangan fitrahnya.
 
Salah satu benteng pertahanan bagi eksistensi kefitrahan manusia adalah puasa. Sebagaimana firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.(QS. Al-Baqarah:183).
 
Puasa sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut, ditujukan untuk taqwa. Taqwa merupakan implementasi dari fitrah manusia sebagai makhluk yang sejak azali berikrar hanya bertuhan pada Allah SWT. Imam Ali Zainal ‘Abidin pernah berujar, yang dimaksud taqwa adalah hendaknya Allah SWT. tidak mendapatkan kalian dikala Ia melarang kalian, dan tidak kehilangan kalian dikala Ia memerintah kalian. Dengan demikian, orang yang berpuasa dengan benar, akan menjadi pribadi yang bertaqwa, yaitu kembali bersih seperti dalam keadaan fitrahnya, yakni kembali mengingat Allah SWT.
 
Selain itu, puasa juga dimaksudkan untuk menghapus kealpaan manusia akan fitrahnya. Seperti sabda Rasulullah SAW. “Barangsiapa berpuasa dengan konsekuen (keimanan) dan konsisten (ihtisaaban), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. Maksud dari dosa yang telah lewat adalah pembelokan-pembelokan manusia dari fitrahnya akibat terlalu menuruti hasrat iblis melalui hawa nafsu manusia.
 
Oleh karena itu, sekali lagi, ibadah puasa merupakan upaya yang Allah buat untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yaitu kembali bertaqwa, mengingatkan ketauhidan bahwa Allah SWT satu-satunyaTuhan manusia.
 
Puasa bukan ibadah biasa. Ia di laksanakan di bulan yang paling mulia dibandingkan bulan-bulan lainnya. Ia dilaksanakan dalam waktu yang cukup lama, lebih dari 12 jam setiap hari dalam sebulan penuh.
 
Puasa adalah ibadah yang istimewa. Dalam hadis qudsi Allah menyebut bahwa puasa sebagai ibadah yang khusus untuk Allah dan Aku yang akan membalasnya. Puasa merupakan ibadah yang sangat personal baik dalam konteks vertika (hablun minallah), sebagaimana dalam hadis qudis tersebut, maupun dalam konteks horisontal (hablun minannas). Karena sangat personal, potensi riya’ (pamer) dalam ibadah puasa sangat kecil kemungkinan terjadinya dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya.
 
Merujuk kelebihan ibadah puasa dibanding ibadah lainnya, sudah sepatutnya kita bersungguh-sungguh menjalankannya. Karena hanya dengan kesungguh-sungguhan, kita semua akan dijamin bisa menuju fitrah kita yang mungkin dalam beberapa waktu silam terlupa akibat pesona kehidupan duniawiyah yang lebih dominan dibandingkan aspek ukhrawiyah. Dengan puasa yang kita laksanakan secara ikhlas hanya untuk Allah, kita akan semakin dekat dengan tujuan akhir puasa, yaitu manusia yang bertaqwa, manusia yang kembali pada fitrahnya sebagaimana ia terlahir kembali dalam keadaan suci. Bulan ramadhan inilah waktu yang tepat untuk menjadikan diri kembali ke pangkuan Ilahi.
 
 
Ir. H. M. Hatta Rajasa
Menteri Koordinator Perekonomian
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)

Kata Kunci