Siapa bilang hidup di pesantren itu membosankan? Buktinya, ada sekelompok remaja yang happy-happy saja menjalani hidup di pesantren yang konon gudangnya anak bermasalah? Mereka adalah Badar, Oji, Guntur, Itoy, Mahmud, Basri, de el el.
Di pesantren Al-Mizan, mereka ngejalani hidup berdisiplin sejak dini. Jarang sekali ada anak remaja yang mau seperti mereka. Yang mau hidup mandiri meskipun jauh dari orangtua. Tidak ada dalam kamus mereka untuk bermanja-manja lagi.
Pengalaman hidup santri-santri konyol dalam novel From Pesantren with Fun karya Irvan Aqila ini patut dijadikan contoh bagi remaja yang ingin belajar di pesantren. Meskipun tingkah polah mereka gokil dan konyol, mereka tetap patuh pada disiplin pesantren. Seperti disiplin salat berjamaah, tidak akan ke luar pondok sebelum mengantongi izin dari keamanan pesantren, dan disiplin lainnya.
Novel ini cocok sekali bagi kita yang punya rencana belajar di pesantren. Perlu diketahui, pendidikan di pesantren sekarang sudah didesain dengan serba modern. Kurikulum-nya pun sudah tidak kalah dengan sekolah-sekolah umum. Ada bahasa Arab-Inggris-nya juga.Memang, dulu pesantren selalu diidentikkan dengan kekolotan, jauh dari informasi, atau kuper alias kurang pergaulan. Tapi, sekarang sudah tidak ada lagi istilah itu.
Kalau tidak percaya, coba kulik cerita yang membahas tentang kehidupan mereka di pesantren. Kisah-kisah mereka penuh dengan kelucuan-kelucuan yang mengundang tawa. Seperti ide-ide cemerlang waktu mereka sering kehilangan sendal jepit waktu salat berjamaah. Mereka bahkan ada yang “memborgol” sendal mereka dengan gembok demi keamanan sendal mereka.
Atau, kisah romantis ketika Oji “jatuh hati” pada seorang perempuan berkalung serbet dalam episode “Bidadari Berkalung Serbet”. Apa judul itu tidak salah, ya? Bukankah seharusnya berkalung sorban? Tapi, memang benar kalau yang mencuri perhatian Oji itu adalah seorang gadis yang sedang bantu-bantu Mbok Dapur. Jadi, wajar jika bidadari itu berkalung serbet.
Demi mencuri perhatian si doi, Oji harus merayu sohib kentalnya, Guntur, untuk membuat puisi yang akan diberikan pada perempuan berkalung serbet itu. Mau tahu seperti apa bait-bait puisi Guntur yang juga membuat pembaca tersenyum dan tertawa lucu itu? Begini puisinya:
Kekasih pergi karena cinta…
Wanita datang karena cinta…
Debt Colector datang karena utang…
Di samping itu, sekelompok remaja yang menghuni kamar Abdurrahaman bin Auf ini pun harus serius berlatih main bola untuk mengikuti event tahunan Al-Mizan yang merayakan hari jadi-nya ke-25. Meskipun badan mereka ceking-ceking, mereka tetap semangat ‘45 untuk mengikuti kompetesi bergengsi di Al-Mizan itu. Mereka tidak mau kalah sama Lionel Messi atau Irfan Bachdim yang menjadi idola remaja gibol (gila bola) saat ini. Mereka juga mau ngetop seperti mereka. Makanya, mereka tidak mau memalukan tim Abdurrahman bin Auf.
Novel ini akan mengingatkan pembaca—yang sudah pernah hidup di pesantren—akan masa-masa seru ketika hidup di pesantren. Kekonyolan-kekonyolan mereka, kisah sedih, haru, bahagia, semua ada. Karena begitulah hidup di pesantren. Kebersamaan selalu diharapkan demi keberlangsungan hidup di pesantren. Tidak mungkin kita bisa hidup sendirian di pesantren. Harus saling membantu sesama teman. Apalagi waktu ada teman kita yang kanker (kantong kering) karena jatah kiriman tidak cukup. Atau, wesel dari ortu telat.
Selain menyajikan kisah-kisah seru, novel ini juga diselipi tips-tips asik hidup di pesantren. Di antaranya: Tips Menghindari Antrean Panjang Saat Makan, Tips Agar Sandal Jepit Aman Waktu Shalat Jamaah, Tips Mandi Pagi Cepat tanpa Antre, Agar Pakaian Dalam Nggak Ketuker atau Hilang, dan tips paling buncit adalah Tips Agar Mudah Menghafal. Nah, seru, kan? Agar pembaca tidak mengalami nasib seperti yang dialami santri-santri dodol di atas, tak ada salahnya juga membaca tip-tip keren yang ada pada setiap season kisah ini.
Jadi? Siapa bilang hidup di pesantren itu membosankan dan membuat galau? Novel ini akan menjawab keraguan kita tentang kehidupan pesantren. Selamat membaca! [*]
_______________________________________
Judul Buku : From Pesantren with Fun
Pengarang : Irvan Aqila
Penerbit : Lingkar Pena (Grup Mizan)
Cetakan : I, 2011
Tebal : 180 halaman
Peresensi : Untung Wahyudi