Oleh Hamidulloh Ibda*
Dewasa ini budaya mahasiswa telah berubah. Mereka yang seharusnya aktif dikegiatan ilmiah, namun sekarang bergeser dengankegiatan yang kurang bermanfaat. Pergeseran zaman tak bisa dibendung, dan Life style semakin memuncak. Sayang, bagi mahasiswa perubahan itu hanya berkisar pada perubahan fisik.
Saat ini, budaya mahasiswa sangat memprihatinkan. Perubahan itu dapat dilihat dari penampilan, potongan rambut, serta budaya tongkrong yang telah menggantikan budaya ilmiah. Menurut mereka, mahasiswa hanya dijadikan status tanpa memikirkan tugas sosial yang mereka pikul.
Pergeseran
Globalisasimerupakan penyebab utama pergeseran budayamahasiswa. Dulu, mahasiswa selalu menjaga almameter kampus dan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Namun,sekarang kampus hanya dijadikan tempatpamer kekayaan. Tujuan utama adalah status, bukan ilmu dan idealisme.
Seharusnya,kampus digunakanuntuk menghidupkan budayailmiah, sepertidiskusi, baca buku, dan sebagainya. Namun, wajah kampus sekarang telah ternodai oleh mahasiswa. Di pojok kampus lebih sering digunakan pacarandaripada diskusi,lebih sering dijadikan tempat nongkrong, daripada kegiatan ilmiah.
Pergeseran budaya di kampus, sangat dipengaruhi oleh “gaya hidup modern.” Mereka lebih bangga punya HP bagus daripada punya banyak buku, lebih mengutamakan membeli pulsa daripada membeli buku, dan sebagainya.
Menurut penulis, mahasiswa kaya bukanlah yang memiliki motor bagus, baju, laptop, dan ponselmahal. Namun, mahasiswa kaya adalah yang mempunyai banyak ilmu, dibuktikan dengan nilai IPK, karya ilmiah, dan punya banyak buku.
Dulu, mahasiswa dikatakan “gaul” ketika akrab dengan buku dan aktif di forum diskusi. Lebih gampanganya mahasiswa gaul adalah yang aktif di perkuliahan dan aktif di organisasi. Sehingga, pada saat itu mahasiswa yang tidak “gaul” merasa minder ketika berkawan dengan calon intelektual. Akan tetapi, sekarang mahasiswa dikatakan gaul jika mempunyai HP, motor, dan baju bagus atau sejenis atribut yang dianggap sebagai ciri modernisme.
Padahal, semua itu hanyalah buah dari pemikiran modernism buta yang telah meracuni mahasiswa. Selain itu, “tren modis” juga mewabah pada mahasiswi. Model dan cara berpakaian mereka semakin “glamor.” Sehingga, sekarang mereka lebih percaya diri ketika bisa mengenakan pakaian, kerudung, tas, dan perhiasan yang mewah.
Sebelum merusak masa depan, pergeseran budaya tersebut harus dicegah. Budaya itu menjangkiti mereka tanpa kompromi. Jika dibiarkan, mereka akan mengalami pendangkalan nilai hidup dan disorientasi dalam menjalani kuliah.
Sebenarnya, tujuan utama kuliah adalah mencari ilmu, bukan memamerkan harta benda. Tak sedikit mahasiswa sekarang yang berlomba-lomba memamerkan kekayaan orang tuanya. Hal ini membuktikan bahwa dunia mahasiswa sudah melebihi batas kewajaran. Apalagi, jika kita melihat gaya pacaran yang mengedepankan free sex, hal inisangat ironis sekali.
Kesadaran
Kesadaran yang paling mendasar adalah kesadaran akan fungsi/peranmahasiswa.Yang menjadi pertanyaan adalah, masihkan mahasiswa saat ini melaksanakan peran agen of social change? Ataukah jiwa sebagian mereka telah dikuasai oleh budaya hedonis? Sungguh ironi.
Mahasiswa yang hedonis adalah akibat salah pergaulan. Mereka dianggap gaul jika mempunyai barang mewah. Sedangkan mereka yang rajin ke perpus, baca buku, dan diskusi dianggap katrok atau ndeso.
Jadi,sejak dinimahasiswaharussadar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab sosial. Dengan sadar akan posisi sebagai mahasiswa, tentu mereka tahu apa yang harus dilakukan. Salah satu dosa besar pelajar adalah malas diskusi dan baca buku. Itulah yang harus direnungkan oleh mahasiswa sekarang.
Sebagai harapan masyarakat, sudah saatnya mahasiswa membuktikan kualitasnya. Belajar dan meningkatkan kualitas akademik menjadi kunci kemajuan bangsa. Dimasa kemerdekaan ini, pemuda Indonesia dituntut untuk mengisi masa kemerdekaan dengan rajinbelajar dan berorganisasi.Wallahu a’lam bisshawab.
_____________________________
*) Peneliti di Centre for Democracy and Islamic Studies IAIN Walisongo, dan Direktur LAPMI Cabang Semarang