Memahami Hakikat Pondasi Cinta

          Banyak orang menderita karena salah memahami cinta. Kesalahan dalam membangun cinta adalah penyebab utama datangnya ketidakbahagiaan dan penderitaan. Maraknya kasus penceraian dan  kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah bukti bahwa masih banyak orang yang gagal dalam membangun cinta.

            Melalui buku ini, Badiatul Roziqin mengajak kita memahami hakikat cinta. Buku Atas Dasar Iman, Kumencintaimu ini hadir untuk mempersembahkan kepada masyarakat tentang cinta yang sesungguhnya.  Buku ini menghadirkan kisah cinta sahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib dan putrinya Fatimah Az-Zahra. Walaupun berbentuk kisah naratif, namun buku  ini mengajak berpikir dan mengambil pelajaran berharga dari rentetan cerita di dalamnya.

Siapa yang tidak kenal dengan Ali dan Fatimah. Sepanjang sejarah Islam, mereka berdua adalah pasangan cinta suami istri di zaman Rasulullah yang terkenal paling setia dan romantis. Cinta di antara keduanya begitu kuat dalam sanubarinya. Sebuah ikatan jalinan kasih yang diukir di atas iman kepada Allah SWT.

            Fatimah terkenal dengan parasnya yang cantik, santun akhlaknya, baik ibadahnya, dan cekatan dalam bekerja. Laki-laki mana yang tidak mengidamkan wanita sepertinya. Sayyidina Ali, sudah sudah lama terpesona dengan keindahan perangainya. Sahabat nabi yang cerdas ini sudah lama memendam rasa cinta begitu mendalam kepadanya. Bahkan, hati Ali sempat terbakar “api cemburu” saat Abu Bakar, Umar, dan Utsman mencoba meminang Fatimah.

            Di sisi lain, Fatimah juga sudah lama juga memendam api cintanya kepada Ali. Hingga suatu saat keduanya dipertemukan oleh Allah AWT dalam sekuntum mawar suci bernama pernikahan. Fatimah dinikahkan oleh Nabi pada usia 18 tahun, sedangkan Ali berusia 23 tahun. Keduanya membangun bersama rumah tangga mereka selama kurang lebih 10 tahun. Dalam rumah tangga itu Fatimah tampil sebagai seorang istri yang setia mendampingi suaminya dalam semua keadaan. Ia juga seorang pendidik terbaik yang telah berhasil mendidik anak-anaknya. (hlm. 7)

            Sayangnya, kisah romantika cinta, kesederhanaan, dan kebersamaannya keduanya tidak banyak ditulis oleh sejawan muslim. Padahal, rumah tangga mereka dapat memberikan teladan dalam membina rumah tangga yang baik. Atas dasar itu buku ini begitu penting untuk ditelaah dengan baik. Buku ini sangat tepat untuk para pemuda-pemudi muslim yang ingin melangsungkan pernikahan, ataupun bagi mereka yang sudah berkeluarga.

 

Pondasi Cinta

            Jalinan romantika cinta Ali dan Fatimah dibangun di atas iman yang benar, sehingga mereka siap hidup bersama sampai akhir hayat. Keimanan telah membuat cinta keduanya melekat begitu mendalam di hati mereka masing-masing. Kehidupan rumah tangga buah pendidikan madrasah Nabi ini hidup rukun, serasi, dan saling mencintai.  Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

            Tentang kecintaan dan perhatian Ali terhadap istrinya, dapat dilihat dalam sebuah peristiwa yang pernah mereka alami. Suatu hari Fatimah jatuh sakit. Ali menjadi sedih, turut merasakan sakit yang diderita istrinya. Tidak henti-hentinya ia menengok Fatimah, bahkan berhari-hari ia tak beranjak dari sisi istrinya. Ia menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan Fatimah, dan menggantikan tugasnya selama ia sakit. Hingga Fatimah merasa iba kepada Ali karena telah berhari-hari menggantikan tugasnya yang tidak ringan bagi seorang laki-laki.

            Pada saat itu secara tiba-tiba kemudian Ali bertanya kepada Fatimah, “Wahai istriku, adakah engkau menginginkan sesuatu?”. Fatimah terdiam sebentar kemudian berkata, “sesungguhnya sudah beberapa hari ini aku menginginkan buah delima”. (hlm. 93)

            Tanpa membuang waktu, Ali langsung berangkat menuju pasar meskipun dengan uang yang pas-pasan. Sesampainya di pasar ia langsung membeli sebuah delima, karena memang uangnya cukup untuk membeli sebuah delima, tidak lebih. Di tengah perjalanan pulang Ali melihat orang miskin yang duduk meringkuk di sudut jalan. Orang tersebut nampak sangat kelaparan karena sudah dua hari tidak makan. Lalu Ali memberikan separoh dari delima yang dibelinya.

            Sesampainya di rumah, delima yang tinggal sepotong itu diserahkan kepada istrinya. Fatimah merasa heran melihat buah delima yang  sudah tinggal separoh itu. Kemudian Fatimah bertanya, “adakah penjual delima ini menjualnya sepotong untukku?”. Kemudian Ali menjelaskan kejadian yang dialaminya di tengah perjalanan tadi, dan Fatimah pun tersenyum sambil menikmati sepotong delima itu.

            Masih diliputi kegembiraan karena kondisi Fatimah makin membaik, tiba-tiba ada Salman yang datang kepada Ali. Salman membawakan kepada Ali Sembilan buah delima dari Allah. Namun Ali tidak percaya bahwa buah yang dibawanya berjumlah Sembilan. “Jika memang dari Allah pasti berjumlah sepuluh,” kata Ali. Dan ternyata memang benar sepuluh, Salman hendak menguji kecerdasan Ali dengan menyembunyikan satu buah delima di sakunya. (hlm. 93-99) Begitulah kisah kesederhanaan, kedermawanan, kecerdasan, dan romantika cinta Ali dan Fatimah.

            Kemesraan cinta yang telah dicontohkan mereka berdua benar-benar patut dijadikan panutan oleh semua pasangan suami istri. Maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu bukti bahwa tidak mudah meramu cinta dalam bingkai kebahagiaan yang hakiki. Cinta yang dibangun di atas pondasi nafsu birahi semata pasti akan mendatangkan penderitaan dan kecemasan. Namun, sebaliknya cinta yang tumbuh karena Allah akan membuahkan kemesraan, kebahagiaan, dan ketenangan.

            Pada intinya buku setebal 252 halaman ini bermaksud memberikan cara bercinta yang benar. Bercinta dengan sepenuh hati yang tidak akan pernah hilang walaupun di terpa badai yang dahsyat. Yakni cinta yang berdiri di atas ikatan yang kokoh dan hati yang penuh keteguhan serta keimanan spiritual yang tinggi kepada Yang Maha Kuasa.

_________________________

Judul buku      : Atas Dasar Iman, Kumencintaimu: Kisah Cinta Paling Setia Ali bin Abi Thalib   dan Fatimah Az-Zahra

 

Penulis            : Badiatul Roziqin

Penerbit           : Najah

Cetakan           : I, Juni 2012

Tebal               : 252 halaman

ISBN               : 978-602-7663-08-4

Peresensi         : Rahmah Farihatus Sholihah, Penikmat buku tinggal di Batu