PNS Pasaman Diwajibkan Konsumsi Beras Lokal

PADANG, RIMANEWS-Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Pasaman yang mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mengkonsumsi beras produksi daerah itu.

"Kebijakan Bupati Pasaman mewajibkan PNS setempat mengkonsumsi beras lokal, merupakan langkah maju untuk ketahanan pangan daerah," kata Muslim Kasim di Nagari Jambak, Lubuk Sekaping, Pasaman, Sabtu.

Pasaman, menurut Wagub, sudah membuat terobosan dengan mengemas beras produk lokal dengan kualitas baik, sehingga diharapkan mampu bersaing di pasaran.

Selain itu, Pasaman telah mampu meningkatkan produksi beras, bahkan surplus beras sekitar 90 ribu ton atau melebihi lima persen dari yang ditargetkan nasional.

Menurut dia, wajar mendapatkan penghargaan yang diberikan Presiden RI baru-baru ini, karena telah berkontribusi terhadap target pencapaian surplus beras nasional 10 juta ton pada 2014.

Kemudian kebijakan yang diterapkan bupati Pasaman, pegawai negeri sipil mengkonsumsi beras lokal patut dicontoh daerah di Sumbar, karena terobosan itu sudah sama mengembalikan peran Bulog masa lalu.

"Langkah ini harus didukung untuk pengembangan ke depannya seiring dengan adanya gagasan untuk revitalisasi peran Bulog," ujarnya.

Program penampungan beras melalui Perusahaan Daerah PT. Equtor oleh pemerintah setempat, merupakan upaya untuk menyejahterakan masyarakat.

Muslim menyontohkan, suatu negara yang kuat salah satunya dapat dilihat pada ketahanan pangan dalam negerinya, seperti di sejumlah negara Eropa misalnya Perancis dan lainnya.

Sementara Indonesia dalam masalah pangan masih dihadapkan pada persoalan impor sejumlah komoditas, mulai dari kedelai, beras, jagung dan bahkan garam.

"Makanya, kabupaten sentra beras lokal didorong melakukan berbagai terobosan untuk ketahanan pangan lokal dan punya nilai saing di pasaran," imbaunya.

Bupati Pasaman, Benny Utama saat menyambut rombongan tim safari Ramadhan provinsi dipimpin Wagub Muslim Kasim, menyebutkan, luas areal lahan sawah saat ini sedikitnya 17.000 hektare dengan produksi sebanyak 89.000 ton/tahun atau surplus 6,5 persen pada 2011.

Dari luas sawah itu, hanya sekitar 3.000 ha sawah irigasi dan sisanya tadah hujan, makanya upaya pembenahan irigasi tersier terus dilakukan.

Bupati memprediksi, bila saluran irigasi Rao sudah dapat dioperasikan secara maksimal akan mampu mengairi sawah sedikitnya 2.000 hektare dan potensi untuk pengembangan lahan sawah sekitar 8.300 hektare di masa mendatang, makanya sarana irigasi dimaksimalkan terlebih dahulu.

Menyinggung konversi lahan sawah oleh masyarakat untuk peruntukan lainnya, bupati menanggapi pihaknya telah melakukan berbagai program intervensi.

Sebab, alih fungsi tak dipungkiri karena banyak lahan sawah dijadikan masyarakat kolam ikan, lahan jagung dan lainnya, salah satu faktornya kurang memuaskan hasil produksi padi selama ini.

Justru itu, terus dibangun kepercayaan petani baik dalam memberi dukungan biaya produksi maupun penampungan hasil gabah dan beras.

"Kita sudah terapkan pembelian beras petani, minimal sama dengan harga beli pemerintah. Kemudian terus berupaya memutus mata rantai petani keluar dari lingkaran rentenir," ujarnya.[ach/ant]