Prabowo-PM Lee Dialog di Singapura, Beri Kuliah di Kampus NTU, Prabowo Mau Jadi Deng Xiaoping-nya Indonesia.

JAKARTA,RIMANEWS-Prabowo Subianto yang disebut-sebut sebagai salah seorang tokoh yang berpeluang memenangkan pemilihan presiden mendatang bertemu dengan Presiden Singapura Lee Hsien Loong di Singapura baru-baru ini. Prabowo mengunjungi Singapura selama beberapa hari untuk berbicara di berbagai forum di negeri jiran itu. Foto pertemuan Prabowo dan BG Lee ini dimuat di halaman Facebok mantan Danjen Kopassus, mantan Pangkostrad dan mantan menantu Soeharto itu.

Kedatangan Prabowo Subianto ke Singapura memberikan suatu kesempatan yang unik dan berharga bagi masyarakat Indonesia di Singapura untuk menyaksikan kuliah umumnya yang bertema “Indonesia Facing the Future: Challenges for the Next 20 Years” (1 Agustus 2012). Acara yang diselenggarakan oleh S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University (NTU) ini mendapatkan respons positif, baik dari kalangan masyarakat Indonesia maupun non-Indonesia di Singapura. Tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari penuhnya penonton yang datang ke kuliah umum ini. Bahkan, banyak yang aplikasi pendaftarannya ditolak karena kuota kursi sudah habis.

Sehari setelah kuliah umum berlangsung (2 Agustus 2012), koresponden IPA Voices dan rekan-rekan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Singapura berkesempatan untuk mengikuti jamuan makan malam bersama Prabowo Subianto di Raffles Hotel, Singapura. Dalam acara makan malam sekaligus dialog ini, Prabowo, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA), memberikan beberapa nasehat sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilontarkan oleh para pelajar.

Prabowo mengawali dialog makan malamnya dengan mengingatkan para pelajar Indonesia di Singapura untuk senantiasa bersyukur atas kesempatan yang diberikan kepada mereka sehingga mereka dapat belajar di luar negeri. Beliau juga mengingatkan para pelajar untuk menyeimbangkan antara IQ dan EQ, memperluas jaringan dan pandai bergaul, serta menjauhkan diri dari bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang.

“Dulu semasa saya masih di TNI, saya adalah tipe orang yang tidak begitu peduli dengan pandangan orang terhadap saya. Asalkan saya bisa mengerjakan tugas dengan baik, saya tidak peduli mau orang suka atau tidak suka dengan saya. Sekarang, saya menyesali itu karena nyatanya networking itu penting sekali. Seperti kata pepatah: a thousand friends are too few, one enemy is too many,” ujar mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) ini.

Menanggapi pertanyaan yang diajukan mengenai nasionalisme pelajar di luar negeri, idealisme, serta loyalitas, Prabowo menerangkan bahwa baginya, nasionalisme itu mempunyai banyak tipe, tidak harus selalu kembali ke Indonesia. Malahan, bekerja lima sampai enam tahun di luar negeri itu adalah sesuatu yang bagus dalam pandangannya. Terkait soal loyalitas, beliau mengakui bahwa loyalitas itu sangat penting dan harus selalu dipertahankan, kecuali jika atasan kita sudah mulai mengarah ke hal-hal yang negatif.

“Saya itu suka sekali nonton film-film kungfu dan samurai. Dalam film-film seperti itu, kental sekali rasa loyalitas tokoh-tokohnya kepada gurunya, atasannya, saudara seperguruan, dan sebagainya. Ya kecuali kalau sudah ke arah yang negatif, kalian mau jadi mafia, ya susah,” jelasnya sambil tertawa.

Dalam obrolan Kamis malam ini, Prabowo juga menjawab cukup banyak pertanyaan dengan menekankan pentingnya clean government sebagai solusi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, mulai dari solusi untuk menumbuhkan iklim persaingan yang sehat dan bersih antar para pengusaha serta untuk menciptakan Indonesia yang dapat menjamin keamanan warganya.

“Semuanya kembali lagi kepada clean government. Kalau pemerintahnya bersih, pengusaha yang bersih tidak perlu khawatir kalah tender akibat saingannya yang dekat dengan orang pemerintahan. Sebenarnya praktek KKN ini tidak cuma terjadi di Indonesia saja kok, orang-orang asing pun banyak yang suka begini,” terangnya. 

“Untuk masalah security, pemerintahan yang bersih juga penting. Naikkan gaji para oknum penegak hukum. Kalau gajinya kecil, bisa-bisa bukannya melindungi, tapi nanti mereka yang malah memanfaatkan kesempatan untuk mencari uang tambahan.”

Lalu bagaimana kita bisa mengetahui mana orang-orang yang bersih dan mana yang tidak? Untuk pertanyaan ini Prabowo menekankan pentingnya peran teknologi, khususnya internet dan social media saat ini.

“Media massa itu bisa dimanipulasi. Tapi internet? Kita punya Facebook, Twitter, dan sebagainya. Siapa yang bisa menutup internet ini? Siapa juga yang bisa memonitor satu per satu account Facebook dan Twitter ini? Kita harus mau berusaha, cari tahu dari media-media sosial di internet ini tentang kredibilitas seorang kandidat. Lantas, seandainya menurut kita kandidat yang ada tidak bagus semua, ya jangan menyerah. Kalau kalian menyerah dan bahkan tidak mau menggunakan hak suara kalian, nanti hak suara-hak suara tak bertuan itu bisa disalahgunakan pihak lain. Saran saya, coba diskusi dulu dengan orang-orang yang kamu percayai, yang lebih wise. Kaum muda ini harapan saya, mudah-mudahan kita bisa memulai perubahan dari generasi kalian ini,” ujar pria kelahiran 17 Oktober 1951 ini. 

Saat ditanya mengenai apakah Indonesia akan mencontoh reformasi yang terjadi di China selama 30 tahun belakangan ini serta tanggapannya mengenai pengusaha di Indonesia, Prabowo mengaku dirinya sering dicap sebagai sosialis padahal kenyataannya tidak.

“Cita-cita saya adalah menjadi Deng Xiaoping-nya Indonesia. China itu benar-benar contoh nyata yang menggabungkan hal-hal terbaik dari kapitalisme dan sosialisme. Dia terbuka dengan perdagangan, tetapi di sana juga masih ada peran pemerintah yang kuat. Itu yang harus kita contoh. Saya ini tidak anti pengusaha, wong saya juga pengusaha kok. Akan tetapi, ada baiknya bank-bank pemerintah yang selama ini sering memberikan kredit untuk masyarakat membeli mobil dan motor produksi asing, sekarang mengganti fokusnya menjadi penyokong pengusaha-pengusaha lokal.”

Prabowo juga mencontohkan mengenai usaha parfum. Menurutnya, parfum ini salah satu komoditi potensial untuk dikembangkan di Indonesia lalu dijual ke luar negeri, apalagi mengingat Indonesia kaya akan berbagai jenis bunga-bungaan serta minyak atsiri yang bisa dijadikan bahan baku untuk membuat parfum.

“Seperti yang saya utarakan dalam kuliah umum saya, saya ingin melaksanakan big push strategy, dalam artian kita fokus ke beberapa sektor untuk didorong dan dikembangkan. Saya yakin, ke depannya Indonesia bisa menyamai rekor pertumbuhan ekonomi China, yaitu sekitar 12 – 13% per tahun”, tutur Prabowo mengenai analisisnya di bidang ekonomi. 

Anak dari mantan Menteri Keuangan Indonesia Sumitro Djojohadikusumo ini juga menuturkan dirinya percaya bahwa bersama dengan generasi muda, kita bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk Indonesia, dimulai dari kancah Pilkada DKI Jakarta.

“Seperti kata pepatah, 100,000 kilometers journey starts with one footstep (A journey of a thousand miles begins with a single step). Pilkada DKI Jakarta inilah one footstep yang memulai perubahan ini. Mudah-mudahan bisa kita tularkan juga ke daerah-daerah lainnya. Ya boleh ya sambil kampanye sedikit-sedikit,” demikian tuturnya sambil tertawa.

Dalam kesempatan ini,Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah kabar dirinya mundur dari kepengurusan DPP Partai Gerindra.

"Tolong diluruskan, saya tidak mundur. Saya baru saja selesai makan malam dengan Pak Prabowo di Singapura," kata Fadli Zon saat dihubungi redaksi, Selasa (31/7).

Fadli Zon juga mengatakan, dirinya akan menemani Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra sampai besok.

"Besok saya juga akan menemani Pak Prabowo untuk ceramah di Rajaratnam School of International Studies," sambungnya.

Saat ini, sambung Fadli Zon, keadaan internal Partai Gerindra baik-baik saja. Sekalipun ada perbedaan pendapat, intinya dinamika partai yang normal.

Lalu bagaimana dengan keluarnya Halida Hatta dari partai, bukankah ia keluar karena kecewa dengan partai?

"Ya itu (keluarnya Halida Hatta) adalah pukulan bagi kami. Ada alasan pekerjaan dan keluarga. Ada juga mungkin kekecewaan. Tapi, kritik Mbak Halida sangat kami perhatikan dan jadi catatan," ujarnya lagi

Tahun 1990-an, Prabowo Subianto adalah seorang jenderal yang ditakuti, menantu mantan presiden Suharto, dan diduga berada di balik aksi penindasan para aktivis demokrasi. Kini, ia menjadi salah satu calon kuat presiden Indonesia berikutnya.

Beberapa survei menempatkan sosok kontroversial tapi karismatis ini sebagai unggulan untuk menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hasil pemilu presiden 2014 akan menentukan apakah Indonesia akan tetap menjadi poros kemakmuran dan stabilitas di Asia Tenggara, atau malah terjerumus kembali ke dalam kesemrawutan pasca-krisis moneter 1998.

SBY memang banyak dipuji karena berhasil mengembalikan kestabilan setelah krisis keuangan itu. Namun bukan berarti Indonesia bebas masalah. Tersendatnya pembangunan dan penyediaan infrastruktur serta korupsi akut masih menjadi isu sentral masalah ekonomi Indonesia.

Sebagian rakyat menginginkan sosok pemimpin yang lebih tegas untuk mengurai masalah itu. “Rakyat sudah kecewa dan nyaris putus asa,” kata Prabowo dalam wawancara khusus bersama Wall Street Journal di rumahnya yang luas di pinggiran kota Jakarta, dengan ladang jagung dan singkong yang menghampar. “Orang mulai hilang kepercayaan terhadap pemimpin dan lembaga pemerintah. Ini sangat berbahaya.”

Beberapa aktivis hak asasi manusia (HAM) menganggap Prabowo tidak layak memimpin negara ini, karena ia diduga terlibat dalam aksi kekerasan dan penindasan di era Suharto. Di akhir rezim Orde Baru tahun 1998, anggota Kopassus—yang saat itu dipimpin Prabowo—dituduh menculik beberapa aktivis demokrasi.

“Tahun 1990-an, Prabowo berperan penting dalam melindungi rezim Suharto dari potensi ancaman, dan itu menempatkannya di posisi yang sama sekali bertolak belakang dengan elemen-elemen reformasi,” kata Kevin O’Rourke, pengamat politik. “Jika Prabowo unggul dalam survei-survei calon presiden, itu mencerminkan ketidakpuasan rakyat akan calon-calon yang lain.”

Prabowo belum pernah didakwa secara resmi atas tuduhan itu. Dalam wawancara, ia menyatakan tidak pernah terlibat dalam pelanggaran HAM apapun. Menurutnya, lawan-lawan politiknya menyebar kabar yang tidak benar tentang dirinya. “Itulah risikonya menjadi jenderal. Kita mengabdi kepada negara dan pemerintah, lalu situasi politik berubah dan kita harus menghadapi risiko dituduh macam-macam,” ujarnya.

Prabowo di bulan Februari 1998.
(ASSOCIATED PRESS)
 
 
 

Tapi menurut beberapa pengamat dan para pendukungnya, pengalaman militer itu malah menjadi keunggulannya.

“Ia dikenal bisa mengambil keputusan di bawah tekanan,” kata Sabam Rajagukguk, 32 tahun, anggota Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo. “Lihat Singapura atau Korea Selatan. Negara Asia yang sukses memiliki pemimpin yang tegas dan tidak mengkhawatirkan popularitas.”

Prabowo mengakui latar belakang tentaranya bisa membedakannya dengan kandidat presiden lain. Sebagai anak dari keluarga kaya, ia berkarier di militer, menikahi Titiek—putri Suharto—dan kemudian menjadi salah satu jenderal termuda Indonesia saat itu. Prabowo bercerai dengan Titiek setelah Suharto lengser, walaupun ia tidak mau berkomentar tentang pernikahannya saat diwawancarai.

Kekayaan keluarga Prabowo datang dari bisnis perminyakan, batu bara, dan kelapa sawit. Adiknya, Hashim Djojohadikusumo, adalah salah satu orang terkaya Indonesia berdasarkan perhitungan Forbes, dengan kekayaan lebih dari $700 juta atau Rp 6,6 triliun. Kiprah politik Prabowo berawal dari Partai Golkar, dan kemudian ia mendirikan partainya sendiri, Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra.

Prabowo berjanji akan memakai efisiensi gaya militer untuk memuluskan proyek-proyek infrastruktur yang terhambat, serta untuk membuka lapangan kerja di daerah tertinggal dengan meningkatkan produktivitas pertanian.

Ia juga menyatakan partainya relatif bersih dari korupsi. Menurutnya, dari sekitar 600 politisi asal partainya yang pernah dan sedang memegang jabatan, hanya enam orang yang pernah diduga terlibat korupsi, dan enam orang itu telah dipecat dari partai.

Hal lain yang membedakan Prabowo di bursa calon presiden adalah sikap sekuler yang tegas. Partainya berjanji akan melindungi hak-hak kelompok agama minoritas di negara mayoritas Islam ini.

Di Gerindra, Prabowo masih dikelilingi oleh orang-orang militer. Perpustakaan pribadinya dipenuhi buku-buku militer dan dihiasi koleksi senjata tajam tradisional. Dinding rumahnya pun menampung foto-foto dan lukisan Prabowo berseragam militer. Sambil bercanda, Prabowo berkata ia sekarang adalah petani, walaupun ia masih sering memandang dirinya sebagai seorang tentara.

“Di militer, saya dilatih untuk berkonsentrasi,” ujarnya. “Kita tak bisa menang di lima front—harus fokus di satu atau dua saja.”

Sepekan setelah saya meluncurkan blog ini, saya mulai merasakan kesulitan untuk menulis ‘tema-tema’ sederhana seputar Pak Prabowo Subianto. inilah kekurangan yang kerap ditemui seorang penulis jika sama sekali belum berhadapan langsung dengan subjek yang ditulisnya. Semuanya serba imaginer dan mereka-reka. Sekalipun demikian, bahasan tentang sosok beliau tak pernah habis. Saya ter-inspirasi seorang komentator blog ini, yang mengapresiasi tulisan-tulisan saya dengan ucapan terima kasihnya, karena menganggap saya telah ‘membumikan’ Pak Prabowo. Sayapun tak lupa memberi ucapan yang sama atas atensi yang diberikan. Karena memang tak ada niat lain, terkecuali mengasah sensitivitas sebuah tulisan. Kalimat yang kerap saya ucapkan.

Inspirasinya, membuat saya mencari sejumlah figur publik yang digadang-gadang menjadi calon Presiden RI. Tak perlu saya sebutkan nama. Tetapi seharian saya searching tentang tokoh-tokoh dimaksud, namun saya tak menemukan jejaring sosial khusus dari para figur dimaksud, terkecuali Pak Prabowo itu sendiri, khususnya melalui facebook. Yang banyak saya temukan hanya ‘situs-situs’ figur yang mempromosikan biografi singkat, tanpa ada ‘dialog’ langsung antara pembaca dengan figur dimaksud. Saya pun mengambil kesimpulan, jika Pak Prabowo-lah satu-satunya Calon Presiden yang berani menyapa rakyatnya secara langsung.

Kesimpulan sementara itulah yang membuat saya berani untuk berspekulasi dengan kalimat yang amat politis bahwa “Pak Prabowo Paling Siap Jadi Presiden”. Benarkah? Indikatornya bagi saya amat sederhana. Pak Prabowo adalah calon Presiden yang memfungsikan jejaring sosial berupa facebook maupun twitter, yang komentar-komentarnya ditulis langsung oleh beliau. Saya amat meyakini itu, sebab jika komentar itu diwakili oleh seseorang, maka kometar-komentar itu hanya seputar sapaan biasa, dan tak berani memberi ‘kontrak politik’ berupa pernyataan-pernyataan politis, yang menggambarkan visi beliau tentang kejayaan Indonesia Raya.

Lebih dari itu, melalui facebook dan twitter, Pak Prabowo juga berani membuka ‘forum’ dan meminta rakyat Indonesia bertanya langsung padanya, dan tentunya akan dijawabnya, meski tidak semua pertanyaannya terjawab secara detail satu persatu, mengingat banyaknya komentar yang masuk ditambah (mungkin) kesibukan Pak Prabowo yang begitu padat. Tetapi yang menarik, setiap hari Pak Prabowo tak lupa menyapa rakyat Indonesia, memberikan komentar dan solusi, serta menjawab pertanyaan yang bisa di jawabnya.

Tentu ini merupakan hal yang positif, dari seseorang yang punya niatan untuk menjadi pemimpin di negeri ini. Apalagi kita semua mengetahui jejaring social seperti ini adalah ‘front terbuka’ yang sulit menghindari adanya kecaman maupun kritikan. Tetapi Pak Prabowo telah membuktikannya bahwa beliau sosok militer, sosok politisi dan sosok pengusaha yang tak pernah takut dengan kritikan dan kecaman. Bahkan kepada saya, beliau melalui sapaannya ‘meminta’ saya untuk tetap kritis pada beliau. Saya terkesima dengan hal-hal seperti ini, sebab beliau sadar jika kritik adalah ruang yang nyata untuk melihat apa kekuarangan yang dimiliki oleh sesorang. Termasuk pribadi Pak Prabowo.
—————-

“Pak, kenapa belum beristri hingga sekarang??” pertanyaan dari seorang facebookers yang menurut saya menggelikan namun patut diperhitungkan Pak Prabowo. Beliau menjawab,” Semuanya saya serahkan kepada Allah SWT”. Awalnya saya berpikir, pertanyaan ini tak di jawab Pak Prabowo, tetapi dugaan saya meleset. Beliau menjawabnya dengan tegas, seperti kalimat di atas. Memang jawaban itu, mengesankan Pak Prabowo tidak berani berspekulasi, tentunya karena jodoh adalah sesuatu yang misteri, dan manusia tak seorang pun berani memastikan kapan datangnya. Kalangan agamawan mengatakan, jodoh, reski, dan maut, hanyalah Tuhan yang mengetahuinya.

Memang, pertanyaan seputar siapa ‘istri’ Pak Prabowo pasca menduda, memang menyeruak di benak Rakyat Indonesia. Tentu karena mereka percaya bahwa tanpa ‘pendamping hidup’ se kaya apapun, sepintar apapun, sejantan apapun, seganteng apapun seseorang tentu dianggap tak sempurna jika belum memiliki pendamping hidup. Apalagi seorang Presiden, dimana negara kita telah menjadikan sebuah ‘kebiasaan’ akan adanya seorang yang berstatus ‘Ibu Negara’. Selebihnya keinginan rakyat Indonesia untuk melihat Pak Prabowo menikah lagi, tentu juga didasari dengan upaya menghindarkan Pak Prabowo dari ‘fitnah’, apalagi dalam kapasitas ‘kemampuan’ Pak Prabowo dianggap mampu dalam segala hal. Makanya saya juga berkata, “segeralah menikah Pak!”.

Lalu apakah hanya keterbukaan Pak Prabowo menyapa rakyatnya, lalu kemudian menjadi indicator kesiapan beliau menjadi Presiden? Sederhananya memang seperti itu. Saya tak perlu ‘menggurui’ Rakyat Indonesia tentang siapa Pak Prabowo. Sebab yang pasti, rakyat telah mengetahui sepak terjang dan perjalanan panjang seseorang yang bernama lengkap ‘Letjen (Purn) TNI. H. Prabowo Subianto’. Seorang jenderal bernas dan cerdas yang pernah dimiliki Bangsa Indonesia. Seorang Kopassus yang loyalis pada negara, seorang politisi yang bervisi merakyat, seorang pengusaha anti kapitalis dan amat mencintai semua elemen rakyat Indonesia. Bahkan, beliau juga pernah tertuding sebagai pelanggar HAM, yang biasanya digembar-gemborkan jelang ‘pesta politik’ bangsa ini.

Tak ada gading yang tak retak. Tentu Pak Prabowo hanya manusia biasa. Punya kelebihan dan juga kekurangan. Tetapi diantara sejumlah tokoh penting negeri ini, saya masih meyakini jika beliaulah yang terbaik saat ini.

Selamat malam Jenderal

(berbagai sumber)