JAKARTA,RIMANEWS-Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menilai dirinya lebih berkepentingan menanggapi kampanye bermuatan suku, agama, ras, dan antargolongan menjelang putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.
Banyak pihak yang menilai, kedua pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung di putaran kedua, yakni Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok), sebaiknya bertemu untuk membahas permasalahan tersebut. Terkait ide untuk mempertemukan keduanya, calon petahana Fauzi Bowo menyambut baik inisiatif positif tersebut.
"Saya sambut itu inisiatif positif," katanya seusai melakukan buka bersama PD Pasar Jaya di Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (3/8/2012) malam.
Pria yang kerap disapa Foke itu tidak secara gamblang menyebutkan apakah dirinya akan segera bertemu Jokowi untuk meredam isu SARA ini atau tidak. Dia hanya menekankan bahwa dirinyalah yang lebih bertanggung jawab terhadap persoalan tersebut di Jakarta. "Saya sebagai gubernur tentu lebih berkepentingan. Beliau baru mau jadi gubernur, bukan gubernur. Jadi sebagai gubernur, ini kepentingan saya," ucap Foke.
Menurut Foke, kampanye bernada SARA tidak memiliki tempat di negara yang berlandaskan Pancasila. Penyebaran isu SARA juga dianggap bertentangan dengan UUD 1945. "Sebagai gubernur, saya prihatin. Sepertinya ini dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu. Mari kita jaga Kota Jakarta sama-sama. Jauhkan dari isu-isu seperti itu sehingga umat Islam bisa beribadah dengan tenang," ujarnya.
KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI Rhoma Irama
Secara terpisah, terkait isu SARA, Rhoma Irama mengaku tidak pernah menyangka ceramahnya di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta, pada Minggu (29/7/2012), menuai kontroversi. Ia menyatakan siap menjalani konsekuensi apa pun, baik tindak pidana pilkada atau tindak pidana umum.
"Saya hanya menyampaikan ayat yang tertuang di Al Quran. Saya siap menerima konsekuensi," kata Rhoma saat dihubungi wartawan, Jumat (3/8/2012).
Rhoma mengingatkan bahwa ceramahnya beberapa waktu lalu dalam kapasitasnya sebagai seorang ulama, bukan bagian tim kampanye pasangan Foke-Nara. Namun, dia tidak menampik banyak warga yang menyangka bahwa dia bagian dari tim kampanye, mengingat dia hampir selalu ada bersama pasangan Foke-Nara dan sempat muncul dalam iklan kampanye Foke-Nara.
"Saya bukanlah bagian dari tim kampanye pasangan Foke-Nara, apalagi juru kampanye," ungkap Rhoma.
Dalam menghadapi masalah ini, Rhoma tidak mau menggunakan jasa pengacara untuk membantunya lepas dari masalah hukum, yang kemungkinan dapat membelitnya. Ia meyakini apa yang dilakukannya benar sehingga tidak takut menghadapi pemeriksaan Panwaslu, Polisi, dan Jaksa.
"Tim Foke-Nara dan sekitar lima kelompok lain menawari saya bantuan hukum. Namun, saya tolak semua karena saya tidak takut," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, saat ibadah Tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta, Rhoma Irama berceramah dengan membawa isu SARA di dalamnya. Bahkan ia menebar ketakutan kepada jemaah bahwa yang tidak memilih pemimpin yang seiman akan menjadi musuh Allah.(KCM)