Bangsa Indonesia saat ini (bisa dibilang) mulai memasuki pada penyempurnaan corak pandang berdemokrasi. Kehidupan berdmokrasi di tanah air sudah mendekati titik maksimal. Hal ini bisa dilihat dari kesadaran masyarakat dalam menghormati da menghargaai pendapat, karya da kreatifitas. Setidaknya, penghargaan da pernghormatan ini terlihat dari kebebasan yang spenuhnya diberikan oleh negara. Berbeda dengan masa rezim orde (ORBA), masyarakat tersiksa dalam menyuarakan aspirasinya. Sehingga, nafas demokrasi tidak berjalan dan mati.
Suasana demokrasi saat ini yang sudah dimiliki semua bangsa Indonesia menjadi kegembiraan semua pihak. Sehingga, juga menjadi kegembiraan ketika kesadaran berdemokrasi ditampilkan dalam aneka ragam cara berdasarkan potensi dan kreatifitas individual bangsa ini. Seperti Stand-Up Comedy yang dewasa ini lagi menjadi tontonan menarik pemirsa televisi tanah air.
Stand-Up Comedy sendiri diartikan sebagai salah satu bagian dari dunia pelawak dengan gaya bertutur satu orang di panggung. Gaya bertutur seseorang pelaawak atau Comedian ini dengan data dan pengetahuan valid. Artinya, seorang Comedian tidak serta merta melontarkan pendapatnya dalam Stand-Up Comedy secara ngaur. Buku yang ditulis Pandji Pragiwaksono mencoba memberikan informasi seputar dunia Stand-Up Comedy di Indonesia. Dengan ulasan buku yag renyah, pembaca akan bisa mengarungi jagad perkomedian ini dengan tanpa harus mengernyitkan kening.
Sejarah awal keberadaan Stand-Up Comedy sudah ada sejak awal-awal tahun 2000an. Tetapi, Stand-Up Comedy di Indonesia menjadi terkenal baru beberapa tahun terakhir ini. Yaitu ketika Stand-Up Comedy bisa masuk program telivisi tanah air. Televisi pertama yang menyajikan program ini adalah Kompas TV, kemudian dilanjutkan stasiun telivisi lainnya dengan format acara yang berbeda. (hal. 4-10)
Beberapa dekade selanjutnya, setelah Stand-Up Comedy ini bisa dinikmati banyak orang, maka para Komedian handal juga lahir di berbagai wilayah tanah air. Mulai dari wilayah Jakarta, Bandung, Surabaya dan lainnya. Para Komedian ini sebut saha seperti Taufik Savalas, Ramon Papana, Iwel Wel, Indra Yudistira, Agus Mulyadi dan lainnya. Para Komedian ini tidak hanya mampu menyihir para pemirsa di sejumlah stasiun telivisi. Namun, juga telah mampu memperjuangan gaya baru berdemokrasi. (hal 33-35)
Buku ini memang menarik untuk menjadi bahan referensi tentang dunia demokrasi gaya baru di Indonesia. Selain menjelaskan tentang sejarah awal Stand-Up Comedy, penulis yang juga Komedian handal ini memberikan tekhnik jitu untuk menjadi Komedian. Di akhir buku ini, juga dicantumkan nama-nama komunitas Stand-Up Comedy di sejumlah daerah Indonesia. Sehingga, dengan bahasan tersebut maka buku ini terasa semakin sempurna untuk dijadikan peta menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih membebaskan. Selamat membaca!
____________________________
Judul:Merdeka Dalam Bercanda
Penulis: Pandji Pragiwaksono
ISBN:978-602-8811-77-4
Penerbit: Bentang
Terbitan: Juni2012
Tebal: xxiv+192hlm
Peresensi: Ana FM, Ibu Rumah Tangga dan Alumni PP An-Nuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.