Kita sepakat bahwa pengangguran merupakan salah satu musuh kita bersama, tak terkecuali bagi kaum terdidik di Perguruan Tinggi ( PT) yang tengah diambang kegalauan pada saat nantinya lulus dari bangku kuliah?
Sebab menurut pengamatan penulis selama ini bahwa pegangguran dikalangan terdidik masih bisa dikategorikan mengenaskan, mengapa tidak ? di negeri ini masih begitu banyak pengangguran dari kalangan terdidik yang masih bergelimpangan dimana-mana tanpa tujuan yang nyata.
Meskipun dari beberapa data telah mengalami penurunan menyangkut angka pengangguran. Salah satu satunya bisa dilihat dari data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan tingkat pengangguran di Indonesia mencapai sekitar 7,61 juta orang atau 6,32 per Februari 2012. Bila angka tersebut dibandingkan dengan priode yang sama pada tahun lalu, berarti telah terjadi penurunan sekitar 6 % dari 8,12 juta penganggur.
Sementara itu, dari sebuah data laporan pada penelitian awal tahun 2012 oleh kementerian PPN/Bappenas, bahwa tingkat pengganguran terbuka mengalami penurunan dari 7,14% menjadi 6,56%. Hal yang menarik, tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan SLTA ke atas mengalami penurunan yang cukup nyata.
Disitu terlihat bahwa penurunan nyata terlihat pada kelulusan diploma, yakni turun dari 12,78% menjadi 7,16 dan sarjana dari 11,92% menjadi 8,02%.
Namun, mau tidak mau kita sebagai kaum terdidik pasti masih diambang kegalauan dari data diatas, meskipun data tersebut bisa saja menjadi tolok ukur bagi pemerintah atas keberhasilanya dalam menurunkan angka pengangguran. Namun, tidak bisa menjadi tolok ukur bagi kita yang belum mendapat pekerjaan.
Oleh karena itu penulis menarik kesimpulan bahwa angka diatas masih cukup memprihatinkan. Pasalnya, jumlah pengangguran terdidik masih di atas lima persen. Jadi dengan tegas saya katakan bahwa pemerintah masih belum berhasil dalam menurunkan angka pengangguran.
Pengangguran dapat dikatakan kecil jika jumlahnya berada di bawah lima persen, dan angka pengangguran diatas masih menjadi fenomena yang mengkhawatirkan bagi para kaum terdidik tak terkecuali bagi mahasiswa.
Perlu Proaktif PT
Menumpuknya pengangguran kaum terdidik dalam hal ini kaum mahasiswa, menuntut agar supaya birokrasi Perguruan Tinggi (PT) lebih proaktif dalam menghasilkan output dan out come yang bagus. Sekaligus memberikan peluang lapangan kerja bagi lulusan mahasiswanya.
Karena selama ini kalau kita melihat bahwa pengangguran lulusan PT tak lain penyebabnya ada 2 macam: Pertama, pengangguran semakin terjadi karena semakin sempitnya lahan karier.
Kedua, Kurangnya informasi dari lulusan perguruan tinggi terhadap lowongan pekerjaan. Sebab Kita tahu hampir sebagian dari kaum terdidik berasal dari perdesaan yang kemungkinan mereka sulit untuk mendapatkan informasi. Begitu juga kalau kita melihat pihak birokrat kampus selama ini ketika menerima informasi lowongan pekerjaan hanya sekedar menempelkan pamflet di dinding-dinding sekitar kampus saja. Padahal penempelan pamflet hanya di sekitar kampus sangat tidak efektif dan efisien, karena melihat lulusan yang ada di pedesaan sulit menjangkaunya.
Disinilah kiranya sebuah PT perlu memaksimalkan peranya untuk bisa mempersiapkan semua itu, baik dalam hal pemanfaatan informasi dan kekutatan sebuah lembaga karir di semua PT, agar supaya lembaga karir perlu terpenuhi. Meskipun hal tersebut tidak sebuah kewajiban, namun tetap merupakan tugas dan tanggung jawab moral dan keetisan dari semua birokrasi kampus baik negeri maupun swasta.
_______________________________
*) Nanang Qosim, Peneliti di Lembaga Pers Mahasiswa Edukasi IAIN Walisongo Semarang