"Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS al-Isra’; 79) Bagi Rasulullah dan rasul-rasul sebelumnya shalat tahajjud merupakan ibadah yang mesti ditunaikan. Shalat tahajjud adalah penyejuk dan penyegar jiwa. Sebagai wahana berlabuh bagi kaum muslimin yang terus-meneruh dihempas oleh gelombang kehidupan.
Jika di siang hari manusia disibukkan dengan perkara dunia, bekerja, berpolitik, belajar, dan kesibukan duniawi lainnya, maka waktu malam adalah waktu yang tepat untuk menimbang-nimbang (introspeksi) kembali hasil dari kerja kita di siang hari. Berkumpul dengan keluarga menjadi tambatan hati guna menenangkan jiwa. “Rumahku adalah istanaku” akan terpancar jika kita pulang menjadikan jiwa tentram.
Shalat tahajjud dilaksanakan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak tidak ada batasan bagi yang berkehendak. Waktunya setelah shalat isya’ sampai terbit fajar. Shalat tahajjud dilaksanakan setelah tidur, walupun tidur sejenak. Dilakukan setelah tidur karena setelah tidur badan akan terasa segar dan lebih konsentrasi dalam beribadah. Waktu yang lebih utama mengerjakan shalat tahajjud adalah sepertiga malam.
Ada banyak kejadian luar biasa bagi siapapun yang disiplin (istiqamah) melaksanakan ibadah malam ini. Seperti pengakuan Adi Syahudi yang dalam kesehariannya tidak bisa dibilang mahasiswa jenius namun di akhir sidang munaqosyah dia mendapatkan nilai tertinggi 3,9. Dia tidak menduga nilainya paling tinggi di antara mahasiswa lainnya. (halaman 27)
Bagian kedua buku ini adalah keberkahan dan keagungan shalat dhuha. Dalam tubuh manusia terdapat beberapa sendi dan tiap-tiap sendi harus disedekahi tiap harinya. Sedekah ada banyak macam, membaca tasbih adalah sedekah, membaca tahlil, membaca tahmid, takbir, menyeru kebaikan, dan mencegah kemungkaran, kesemuanya adalah sedekah. Jika ingin melunasi sedekah tiap sendi-sendi kita yaitu dengan shalat dhuha dua rakaat maka semua sendi-sendi telah lunas disedekahi.
Keutamaan shalat dhuha yang paling urgen adalah janji lancarnya rezeki kita. Waktu pelaksanaannya yaitu mulai dari ketinggian matahari setombak sampai sebelum waktu dzuhur masuk (istiwa’). Sedangkan banyak rakaat paling sedikit dua rakaat dan paling banyaknya delapan rakaat. Hal ini disandarkan dari prilaku nabi yang tidak pernah shalat dhuha lebih dari delapan rakaat. Namun ada pula yang berpendapat paling banyaknya rakaat shalat dhuha adalah dua belas rakaat.
Manfaat shalat dhuha akan semakin tampak jika kita melihat makna dari do’a dhuha. “Wahai tuhanku, jika rizki kita berada di langit maka turunkanlah, jika berada di dalam bumi keluarkanlah, jika sukar didapat permudahkanlah, jika kotor (haram) sucikanlah, jika jauh perdekatkanlah dengan kebenaran dhuhaMu, keagunganMu, keindahanMu, kekuatanMu, dan kekuasaanMu. Wahai Tuhanku datangkanlah padaku apa yang telah ditentukan sebagaimana apa yang telah engkau suratkan”.
Dhuha adalah shalat rizki, begitu pula do’anya adalah do’a rizki. Dengan begitu siapapun yang hendak dipermudah jalan rizkinya hendaklah mengerjakan shalat dhuha tiap pagi. Seperti yang dikisahkan Mardiana dengan istiqamah ia melaksanakan shalat dhuha tiap pagi, maka kemudian ia mendapat solusi keuangan keluarga. (halaman 117)
Ada banyak kisah yang di dalamnya mengandung keagungan dan kemu’jizatan melaksanakan dua shalat sunnah; shalat tahajjud dan shalat dhuha. Disebutkan 30 kisah kemudahan yang tak dapat disangka-sangka berkat shalat tahajjud dan 30 kisah anugerah sebab melaksanakan shalat dhuha. Kesemuanya terdapat 60 kisah tentang keberkahan shalat sunnah ini. Wallu a’lam bisshawab.
___________________________
Peresensi : Achmad Marzuki, Pegiat di Farabi Institute, Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang
Judul : Ajaibnya Tahajud dan Dhuha, 2 Amal Luar Biasa Jaminan Sukses
Pengarang : KH Drs. Asyhabi Abta, Abu Sabila SHI, dan Mamby Alice Syahputra
Penerbit : Real Books
Tahun : I, Maret 2012
Tebal : 197 halaman
ISBN : 978-602-19427-2-7