RIMANEWS - Saham di bursa Asia menguat pada Kamis 19 Juli 2012, menyusul pengumuman membaiknya keuntungan pada perusahaan teknologi Amerika Serikat. Kondisi itu mengurangi kekhawatiran atas perlambatan pendapatan sejumlah raksasa perusahaan dunia.
Kantor berita Reuters melaporkan, indeks Nikkei di bursa Jepang naik 1,2 persen, meskipun pelaku pasar memperingatkan bahwa apresiasi yen dapat membatasi keuntungan perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor, seperti pembuat mobil dan produsen elektronik.
Di bursa Wall Street, indeks S&P 500 menyentuh level tertinggi sejak awal Mei dibantu kinerja kuartalan sektor teknologi, seperti Intel Corp dan Honeywell, yang lebih baik dari yang diperkirakan.
Tapi, kekuatan lanjutan aset "safe haven" seperti treasury AS, menggarisbawahi kekhawatiran terus-menerus mengenai kecepatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini telah menahan imbal hasil obligasi di sekitar posisi terendah dalam sejarah.
Gubernur Federal Reserve AS, Ben Bernanke, Rabu lalu mengatakan, pembuat kebijakan akan mempertimbangkan berbagai upaya untuk lebih merangsang pertumbuhan, jika pasar tenaga kerja tidak meningkat.
Imbal hasil (yield) treasury AS untuk jangka 10 tahun berubah menjadi 1,48 persen, atau mendekati rekor terendah 1,44 persen yang terjadi pada bulan lalu. Dolar AS sedikit menguat terhadap yen dengan diperdagangkan 78,77 yen, sedikit beranjak dari level terendah dalam satu bulan sebesar 78,68 yen yang terjadi pada Senin. Sementara itu, euro berada pada level US$1,2276, atau naik dari posisi terendah semalam US$1,2216. Harga minyak tetap kokoh setelah mencapai puncaknya dalam tujuh pekan pada Rabu, karena kekerasan di Suriah dan ketegangan Iran memperkuat kekhawatiran geopolitik.
Minyak mentah Brent berjangka naik 0,3 persen menjadi US$105,42 per barel, sedangkan minyak mentah AS 0,1 persen lebih tinggi dan berada pada US$89,97 per barel.(yus/vn)