JAKARTA, RIMANEWS -- Keunggulan Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilgub DKI Jakarta versi sejumlah lembaga survei dikuatkan hasil rekapitulasi suara oleh KPU DKI, kemarin. Hasil rekapitulasi menunjukkan, pasangan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) unggul mutlak di lima wilayah Jakarta. Jokowi-Ahok hanya kalah dari Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) di Kabupaten Kepulauan Seribu.
Atas kenyataan tersebut, Partai Gerindra selaku pengusung Jokowi-Ahok menyarankan Fauzi Bowo mundur, sehingga Pilgub DKI tak perlu dilaksanakan dalam dua putaran.
“ Untuk menghemat dana, ada baiknya dipertimbangkan Pak Fauzi Bowo dengan besar hati mundur. Lebih terhormat bagi Pak Fauzi Bowo, dan akan dikenang sebagai gubernur yang legawa,” kata anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Martin Hutabarat di Gedung DPR.
“ Hasil pilkada menunjukkan dua per tiga rakyat Jakarta menilai Pak Foke tidak berhasil,” imbuhnya.
Meski demikian, Gerindra tak masalah kalau Foke meneruskan maju ke putaran ke dua. Namun, sesumbar Foke bahwa pilgub hemat biaya menjadi tak terealisasi. Menanggapi hal itu, Partai Demokrat selaku pengusung Foke-Nara menyatakan, calonnya akan tetap didorong maju ke putaran kedua.
“ Foke nggak perlu mundur. Kita ikuti saja peraturan. Masa pasangan lain disuruh mundur, itu tidak ada dasarnya. Nanti fight saja, siapa menang, siapa kalah. Itu urusan pemilih,” kata Wakil Ketua Umum PD Max Sopacua.
Menurut Max, semua pihak harus menghormati peraturan yang berlaku. Tak perlu melakukan provokasi, apalagi meremehkan Foke. Meski tak sepenuhnya yakin, menurut Max, Foke masih punya peluang menang.
Hingga semalam, rekapitulasi suara oleh KPU masih berlangsung. Hasil sementara menunjukkan, Jokowi-Ahok menang sempurna di lima wilayah. Di Jakarta Timur, dari 10 kecamatan, pasangan Jokowi-Ahok meraih suara terbanyak di delapan kecamatan, yaitu Matraman, Pulogadung, Jatinegara, Pasar Rebo, Cakung, Duren Sawit, Makassar, dan Ciracas. Foke-Nara menang tipis di dua kecamatan, yaitu Kramatjati dan Cipayung.
Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Jakarta Timur mencapai 1.996.745. Namun, hanya 1.278.520 orang yang datang untuk memberikan hak suara. Berarti, ada 718.225 warga Jakarta Timur yang terdaftar di DPT tapi tidak ikut memilih alias golput. Jumlah golput itu lebih besar dari perolehan suara Jokowi-Ahok.
Pasangan Jokowi-Ahok juga menguasai perolehan suara di Jakarta Barat. Dari hasil perhitungan suara di seluruh kecamatan, pasangan nomor urut 3 itu unggul dengan 467.081 suara, jauh di atas Foke-Nara 327.495 suara. Jumlah pemilih tetap di wilayah itu tercatat 1.496.636 suara. Sementara jumlah suara sah 977.732, dan suara tidak sah 19.139. Suara golput mencapai 499.775, lebih banyak dari perolehan suara Jokowi-Ahok.
Seperti di Jakarta Timur dan Jakarta Barat, jumlah masyarakat di Jakarta Pusat yang tidak menggunakan hak pilihnya juga cukup tinggi. Sebanyak 300.582 warga Jakarta Pusat yang terdata di DPT tidak menggunakan hak pilihnya. Jumlah DPT di wilayah itu 787.424. Berdasarkan hasil rekapitulasi, hanya 486.842 orang yang memberikan hak pilihnya.
Jokowi-Ahok juga menang di Jakarta Selatan. Mereka hanya kalah di Kabupaten Kepulauan Seribu. Foke-Nara meraup 6.916 suara, sedangkan Jokowi-Ahok 1.273 suara. Posisi kedua ditempati pasangan Alex-Nono yang mendapat 3.010 suara.
Menurut Ketua KPU Jakarta Pusat, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Di antaranya karena saat itu bertepatan dengan hari libur sekolah, sehingga banyak warga lebih memilih berlibur. Kemudian, jelang bulan Ramadan, banyak warga yang memilih bepergian ke luar kota untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan berziarah.
Kampanye Gelap? Makin Digelapin Makin Bersinar Terang
Menanggapi hasil rekapitulasi, tim sukses Jokowi-Ahok memastikan siap menghadapi putaran kedua. Meski tidak ada strategi khusus, mereka akan berkonsentrasi memperjuangkan nasib warga dan simpatisan Jokowi-Ahok yang banyak kehilangan hak pilihnya. Hal itu karena tingginya jumlah golput.
Mengenai mulai maraknya kampanye gelap yang berbau SARA kepada pasangan Jokowi-Ahok melalui media sosial, Ketua Tim Sukses Jokowi-Ahok, Boy Bernadi Sadikin mengatakan, pihaknya tidak khawatir. Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta Mohammad Taufik juga memastikan bahwa kampanye gelap berbau SARA yang diarahkan kepada Jokowi- Ahok justru membuat pasangan yang khas dengan kemeja kotak-kotak itu makin populer.
“Kami justru ucapkan terima kasih kepada pembuat kampanye gelap, karena membuat rating kami terus naik. Rakyat Jakarta lebih cerdas dari pembuat black campaign,” katanya.
Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) DPP PDIP Taufiq Kiemas mengatakan, kemenangan Jokowi-Ahok tak lepas dari ideologi yang dimiliki pasangan itu. Selain memiliki popularitas, Jokowi juga punya garis ideologi yang jelas. Jadi, tidak mungkin hanya mengandalkan popularitas.
’’ Namun untuk menjadi capres, Jokowi masih harus membuktikan janjinya memperbaiki Jakarta,’’ ujarnya menanggapi spekulasi PDIP akan mengajukan Jokowi sebagai capres jika kelak terpilih sebagai gubernur DKI.
Calon pemimpin yang tidak mempunyai ideologi jelas, lanjut Taufik, sebaiknya tidak mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah ataupun pemilihan presiden. Sebab, tanpa ideologi yang kuat, calon pemimpin akan terombang-ambing.
’’ Selain itu, calon pemimpin yang populer di masyarakat namun hanya mengejar kekuasaan, sebaiknya jangan mencalonkan diri. Capres, cagub, cabup, dan cawalkot yang cuma mengandalkan popularitas tanpa ideologi akan seperti zombie,’’ katanya. ( mr.heal / sms / viva / dtc )