Apakah Kau Akan Setia Mengingatku? (EKSTASE 311)

                                                              EKSTASE 311

 

 

saat di sebuah kapal
ketika aku telah dewasa dan ingat katakataku
"apakah kau akan setia mengingatku?"
 oh tuhan, maafkan aku!
 justru akulah yang tak setia mengingatmu!"
saat mega menyapaku dan itulah engkau
aku menangis di pangkuan seperti dulu
kedamaian menjalari seluruh ruh, jiwa dan juga ragaku
o, tuhan, oh kekasih. bolehkah aku memanggil kekasih lagi
seperti dulu
bolehkah..?(dan airmata mengalir deras meluncur dari kelopak mataku)
bolehkah aku mendekat seperti dulu lagi
ketika kulihat tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi
seperti gelombanggelombang besar pergantian gelap dan terang
kini aku tak bisa melihat semua itu lagi
apakah maksud semua ini ya kekasih?
maafkan aku,
jika pertanyaanpertanyaanku terlalu lancang untukmu
benar seperti kau katakan
"aku lebih dekat dari urat merihmu"
tapi kenyataan sungguh kita terlalu jauh
20 milyar galaksi menjadi tirai yang tak ada bandingnya
jika tiada iman dalam kalbu, fuad, akal dan lub
yang menyambung ke getaran cahaya cintamu
aku tak akan percaya bahwa kau ada di kejauhan yang luarbiasa jauh itu
aku ingin berjalan ke arahmu
tapi sungguh terlalu jauh
aku tak sanggup tuhanku
aku ingin berbincang denganmu
aku akan berwudu dengan airmata di telaga airmata kekasihkekasihmu
tuhan, lihatlah – aku naik ke puncak pengabdian sucimu
sekarang aku di atas sajadah
tuhan, dengarkanlah sapaan pertama dalam perbincanganku
allahu akbar!

Tangerang, 29  11  09

                                                                        EKSTASE 312

 

 

ketika sapuan kuas kreatifitasmu yang sangat dahsyat
kusaksikan dari palka
aku percaya :"itu adalah lukisanmu
                       sungguh indah dan getaran cahaya menyerap lembut
                       dalam fuadku, ke kalbuku
                       aku ekstase dan seperti akan pingsan melihat keindahan
                       yang melambungkan kesadaran ruhku ke dalam genggamanmu
                       di sanggar – seniman lukis mengabadikan lukisanmu ke dalam kanvas
                       dan setiap orang bergetar jiwanya
                       menyaksikan replika lukisanmu
                       ada yang ingat kepada seniman lukis itu, bahwa pelukis itulah yang
                       hebat
                       tapi aku berkata dalam fuadku
                       itulah lukisanmu! pelukis itu hanya meniru lukisanmu yang sangat
                       menyentuh 
                       bagiku, yang hebat adalah kau. tuhanku!
                       selain kau hanyalah cicungukcicunguk yang meniru sapuan kuasmu
                       di langit semestamu!"

                    Tangerang, 29 11 09