“Sosok Rizal Ramli yang Sesungguhnya”

MALANG,RIMANEWS- Mengenal lebih dekat seorang tokoh nasional tidak hanya dari gagasan cerdas yang diberikannya untuk bangsa ini. Tidak juga, hanya sekedar tampil paling depan dalam menghadapi persoalan bangsa yang terjadi. Namun lebih jauh, mengenal sosok tokoh nasional bisa dari bagaimana cara memilih hidup untuk berinteraksi dengan masyarakat, dan bagaimana pula pola sikap dalam memperlakukan dirinya sendiri saat hadir ditengah masyarakat.

Sosok ekonom senior Indonesia,Dr.Rizal Ramli salah satu tokoh nasional yang merupakan calon pemimpin masa depan bangsa ini, bisa dijadikan contoh pola hidup ke-Indonesiaan yang erat sekali dengan prilaku santun, sederhana dansosial yang menjadi jawaban bagi seorang pemimpin Indonesia yang dibutuhkan rakyat dalam menjawab persoalanrakyat sehari-hari.

Dari sekian banyak aktivitas yang dilakukannya,  kota Malang  menjadi saksi bagaimanakesahajaanpria kelahiran 10 Desember 1953 ini  merupakan bagian dari kehidupan rakyat Indonesia.

Keluar  dari ruangan diskusi di Universitas Negeri Malang Jawa Timur, pria yang sudah menjadi anak Yatim Piatu sejak umur 6 tahun ini tampak tersenyum, memakai baju kemeja putih lengan pendek begitu akrab dengan mahasiswa. Padahal, dirinya baru saja mengenal mahasiswa-mahasiwa yang ikut dalam diskusi tersebut.

Berjalan selangkah demi selangkah keluar dari Kampus UNMMalang,ditemanikenalannyadan tanpa pengawalan khusus padahal dirinya seorang mantan pejabattinggi. Sekalipun tanpa pengawalan khusus, Rizal Ramli selalu siap memberikan senyumannya yang khas kepada siapapun yang disapanya,dan itulah pengawal sejatinya sehingga ia pun tenang kemana pun melangkahkan kakinya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         

Sikap “biasanya” mulai nampak ketika dirinya masuk ke sebuah Warung kopi (Warkop) di depan Universitas Negeri Malang , ia pun tanpa sungkan menjamu dirinya sendiridan kenalannya. Dengan sikap yang jauh dari hidup mantan pejabat seperti yang  kerap dilihat masyarakat Indonesia sekarang, ia bersenda gurau denganpemilik danpembeli di Warkop tersebut.

Saat minuman yang diinginkannya tidak ada di Warkop pinggir jalan itu, ia pun melangkahkan kakinya menuju warung sebelah. Sendiri ia langkahkan kakinya,padahal dengan kharisma dan ketokohannya ia mampu menyuruh siapapun yang ada di dalam Warkop itu termasuk kenalannya.

Tidak hanya sampai disitu, saat akan melakukan perjalanan ke sebuah TV lokal yang di kota Batu Malang yang jaraknya 15 kilometer, mantan  Menko Perekonomian Indonesia era-Gus Dur  ini kembali menunjukan sikap hidupnya yang sesungguhnya. Ia memilih  Taksi sebagai alat transportasinya ke kota Batu. Ia lebih memilih berdesakan di Taksi dengan empat kenalannya  ketimbang  menyewa mobil khusus. Padahal dengan materi yang dimilikinya ia bisa saja menyewa kendaraan yang disukainya.

Selama perjalanan ke kota Batu dengan Taksi  yang disewanya itu, tak ada sikap gengsi yang terpancar dalam sikapnya. Justeru sebaliknya, ia asyik bertukar pikiran dengan kenalannya yang duduk disamping kanan kirinya. Sesekali ia berbicara dengan supir Taksi  yang lumayan lama mempercayai bahwa penumpang yang dibawanya adalah seorang tokoh nasional Rizal Ramli yang sering dilihatnya di Televisi.

Seampainya ditujuan, waktu sudah menunjukan sore hari. Mantan dosen ekonomi Program Magister Manajemen Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia ini bergegas menuju Mushola yang tidak jauh dari Stasiun TV lokal tersebut. Sebagai Mahluk Tuhan, ia “menyapa” pemiliknya.

Catatan hidupnya pada tanggal 7 Desember 2011 tidak hanya sampai disitu. Setelah acara Talkshow di televisi Lokal tersebut ia pun kembali menggunakan Taksi yang sama menuju kota Surabaya ( bandara Ir. H Juanda). Dalam perjalanannya ke bandara, ia pun tak sungkan untuk menikmati nasi bungkus ditemani supir Taksi dan kenalannya.  Pada saat itulah, kalimat emas meluncur dari bibirnya yang sedang mengunyah makanan. “Mari makan, kita bersyukur masih makan, rasakan bagaimana rakyat berdesakan di mobil umum yang mereka tumpangi,ini pelajaran berharga buat kita”suaranya pelan tapi cukup terdengar dalam Taksi tersebut.

Sampai di bandara ia pun menyempatkan dirinya melayani foto dengan  Supir yang mengantarnya dari Malang.  Selesai itu,  ia pun kembali berpaling ke sebuah warung khas Surabaya dan berbaur dengan penumpang. Secangkir kopi menemani Rizal Ramli dan seorang kenalannya. Sesekali dia menganggukan kepala kepada orang yang disekelilingnya.

Saat menikmati  kopi,tiba-tiba raut mukanya tampak serius, ia sibuk dengan handphone pribadinya. Selang beberapa saat, ia pun berucap lirih,"ada anak muda membakar dirinya di depan istana", ucapnya begitu pelan dan lirih seolah-olah ingin menjiwai panasnya api yang membakar tubuh anak muda yang akhirnya diketahui bernama Sondang Hutagalung mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK).

Keringatnya mulai membasahi mukanya, tatapannya tajam kedepan sembari sesekali melihat berita yang dibukanya lewat handphone pribadinya. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Baru ketika kenalannya mengajak berbincang pelan, suaranya baru terdengar, “Begitu besar pengorbanan diri anakmuda  ini untuk menunjukkankeprihatinannya padakondisi bangsa kita,”.

Rizal Ramli benar-benar berduka dengan kejadian itu, ia pun bergegas antri masuk pesawat ekonomi yang akan mengantarnya pulang ke Jakarta. Dari caranya, seolah-olah ia ingin cepat sampai ke Jakarta untuk melihat perkembangan dari kejadian aksi bakar diri  di depan Istana Presiden itu.

Di dalam pesawat, ia tidak banyak bicara, matanya memandang keluar,mungkinpertanyaan besar berkecamuk dihatinya mengapa Sondang Hutagalungsampaimembakardirinya. Lagi-lagi sifatnya yang selalu merasakan penderitaan rakyat menambah deret panjang siapa sesungguhnya Rizal Ramli.

Ini “secarik” cerita sosok Rizal Ramli sang perubah yang sesungguhnya. Sosok yang punya gagasan cerdas,hidup yang merakyat, tidak ada jarak dengan rakyat, ikut merasakan penderitaan saudaranya setanah – air. Tipe tokoh seperti ini bisa menjadi alternatif menjadi pemimpin Indonesia dimasa yang akan datang disaat penguasa sekarang gagal hadir ditengah-tengah rakyatnya sendiri.

(Jakarta, 5 juli 2012, kontributor RIMA: Ninding  Julius Permana)

Kata Kunci