JAKARTA,RIMANEWS- Rezim SBY makin terpojok. Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) menyatakan menolak rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan memberikan bantuan pinjaman kepada Dana Moneter Internasional (IMF) maksimal sebesar US$ 1 miliar atau sekitar 9,4 triliun rupiah.
Dalam rilis yang ditandatangani Ketua Nasional Komite Pusat - Perhimpunan Rakyat Pekerja (KP-PRP), Anwar Ma'ruf itu ditegaskan bahwa dengan membantu meningkatkan permodalan IMF, membuktikan bahwa rezim SBY-Boediono memang merupakan jongos IMF.
Dikatakan, jika membandingkan urgensi dari keterlibatan dalam upaya meningkatkan permodalan IMF, keputusan memberikan pinjaman ke IMF itu menunjukkan keberpihakan rezim SBY bukanlah kepada rakyat Indonesia.
Ditegaskan juga bahwa, hingga saat ini rezim neoliberal selalu berpropaganda mengenai penghematan karena defisitnya APBN yang dialami oleh Indonesia. Namun, pada kenyataannya rezim neoliberal malah menghamburkan uang negara untuk melayani kepentingan lembaga donor neoliberal dibandingkan untuk menggunakan uang tersebut demi kesejahteraan rakyat.
KP-PRP mengingatkan, IMF pernah menjadikan Indonesia sebagai pasien program IMF saat mengalami krisis ekonomi pada 1997. Indonesia dipaksa untuk menjalankan program penyesuaian struktural (SAP) berupa penghapusan subsidi, liberalisasi perdagangan, privatisasi, liberalisasi investasi, deregulasi, restrukturisasi perbankan, dan lain-lain.
Hingga saat ini pun, akibat pemaksaan program IMF itu, Indonesia masih terperangkap dalam praktik neoliberalisme. Sehingga kebijakan yang muncul hanya selalu menguntungkan para pemilik modal dan menyengsarakan rakyat.
Diberitakan sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan Indonesia akan memberikan pinjaman kepada IMF maksimal sebesar US$ 1 miliar. Hal itu menjadi salah satu kesepakatan dari pertemuan KTT G20 di Los Cabos, Mexico, pada Juni 2012 lalu. Negara-negara anggota IMF sepakat akan memberikan pinjaman kepada IMF.. Kobrut sudah rezim neolib ini. (T)