Mengkaji Saham Facebook yang Dilematis

JAKARTA, RIMANEWS - Facebook adalah salah satu situs jejaring sosial yang paling populer di internet, tetapi popularitasnya tidak membuatnya menjadi pemain kuat dalam bursa saham. Kebijakan Facebook untuk bermain saham memang cukup dilematis. Tidak bisa dipungkiri Facebook telah menjadi “raja” di dunia maya dengan dukungan dari ratusan juta penggunanya yang selalu aktif berkunjung dan saling bertegur sapa. Facebook juga mendapatkan begitu banyak keuntungan finansial dari trafiknya yang sangat tinggi.

Facebook bisa memperoleh penghasilan dari iklan yang tersebar di halaman situs tersebut. Facebook digunakan banyak orang untuk berbagai kepentingan, entah itu mencari teman atau berbisnis. Kepopuleran Facebook membuat pemiliknya tergiur untuk memanfaatkan situs tersebut di lahan bisnis baru. Namun, berita saham menunjukkan bahwa saham Facebook menunjukkan pergerakan nilai yang sangat mengecewakan.

Facebook adalah salah satu pemain baru dalam permainan bursa saham. Tidak mengherankan jika perusahaan ini harus menelan pil pahit kegagalan bisnis. Hanya dua hari sejak sahamnya diterbitkan, nilainya sudah turun 11%. Seperti yang bisa dibaca di berita saham, pengamat saham menilai kebijakan Facebook untuk bermain saham adalah bentuk dari ekspektasi berlebihan dari pemilik situs itu sendiri. Meskipun menguasai internet, dunia online trading bukanlah wilayah kekuasaan situs jejaring sosial. Facebook mungkin harus belajar banyak dari kegagalan ini dan harus menemukan solusi atas masalah tersebut.

Apakah saham Facebook ini mempunyai potensi yang bisa diharapkan? Kita bisa menemukan jawabannya dengan melihat potensi dari situs Facebook itu sendiri. Facebook adalah situs pertemanan yang potensinya diukur dari jumlah anggota dan besarnya trafik yang datang setiap hari dari semua anggotanya. Namun, Facebook tidak lebih daripada situs pertemanan. Mungkin Facebook bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan konsumen atau klien baru di internet, tetapi tujuan utama anggotanya hanyalah untuk mencari teman dan berkomunikasi dengan temannya.

Facebook bukanlah tempat untuk online trading. Google sudah tentu berbeda jauh dengan Facebook. Meskipun keduanya menguasai internet, Google mempunyai lahan yang lebih luas daripada Facebook. Perusahaan ini menyediakan mesin pencari yang paling handal, blog, toko online untuk menjual aplikasi Android, situs video sharing, layanan email, dan tentunya situs jejaring sosial (Google+). Mungkin Facebook tidak hanya membutuhkan solusi baru untuk membenahi kebijakan dan potensinya. Facebook membutuhkan lahan bisnis baru untuk mengepakkan sayapnya seperti Google.  ( cia / Kmps )